Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

Self-Obsession: A Path To Ruin (Obsesi Diri: Jalan Menuju Kehancuran)

2 Tawarikh 26; Yohanes 3:30

Ekspresi Pribadi

C. S. Lewis pernah menuliskan sebuah refleksi teologis dalam balutan dialog fiksi dengan judul “The Screwtape Letters.” Lewis mengimajinasikan bagaimana sosok Iblis senior bernama Screwtape menasihati keponakannya, Wormwood, dalam usaha menjauhkan sebanyak mungkin manusia dari Tuhan. Dalam salah satu suratnya, Screwtape memperingatkan Wormwood untuk tidak terburu-buru sehingga manusia tidak menyadari posisinya semakin melenceng dari Tuhan. Bahkan, bagi Screwtape jauh lebih baik bila manusia itu tetap pergi ke gereja dan melakukan ritual keagamaan seperti biasanya. Ia menyimpulkan: “Memang jalan teraman menuju Neraka adalah yang bertahap—lereng yang landai, lembut di kaki, tanpa belokan mendadak, tanpa tanda, dan tanpa papan petunjuk.”

Ada banyak orang Kristen yang tahu dan menghindari berbagai dosa-dosa “besar” di dalam hidupnya (membunuh, mencuri, berzinah, dan sebagainya). Namun, ada banyak juga orang Kristen yang lupa bahwa dosa bukan hanya bicara tentang hukum moral, tetapi tentang menyingkirkan dan menolak Allah sebagai Allah. Sering kali kita waspada saat hidup berantakan, tetapi justru lengah ketika kita sedang “berhasil.” Siapapun bisa mulai merasa cukup tahu, cukup dewasa, dan cukup rohani. Namun, di momen-momen keberhasilan hidup, siapapun dapat pelan-pelan melengserkan takhta Allah kepada diri sendiri. Bayangkan, betapa menyedihkannya hal ini bila ini terjadi bukan hanya di luar gereja, tetapi di dalam gereja itu sendiri. Kisah Raja Uzia dalam 2 Tawarikh 26 menantang kita untuk jujur dan bertanya: Apakah kita sedang melayani Allah, atau sedang memuliakan diri dengan memperalat Allah?

Eksposisi Alkitab

2 Tawarikh 26 dengan jelas dibagi ke dalam dua bagian narasi. Narasi yang pertama mendeskripsikan keberhasilan dari seorang Uzia, raja kerajaan Yehuda (Kerajaan Selatan). Uzia dicatat naik takhta pada usia yang cukup muda (16 tahun) dan dicatat masa mudanya dipenuhi dengan prestasi-prestasi gemilang sebagai seorang raja. Ia menang berperang melawan musuh-musuhnya, membentengi kerajaannya dengan kokoh, pintar dalam pertanian dan peternakan, punya banyak tentara yang hebat, dan bahkan memiliki para ahli yang mampu menciptakan alat-alat perang yang canggih. Nama Uzia bahkan disebutkan sebagai raja yang termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh.

Namun, Alkitab mencatat dengan tegas bahwa keberhasilan Uzia tidak dilandaskan pada kekuatan dan kepintaran Uzia, tetapi oleh karena tangan Tuhan. Pada waktu Uzia mencari Allah dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan, Tuhan membuat segala yang diusahakannya berhasil (ayat 4-5). Uzia dicatat menjadi raja yang mashyur sebab ia “ditolong” dengan ajaib, ditolong oleh tangan Tuhan. Ini realita yang harus diingat dalam kehidupan manusia bahwa tidak ada keberhasilan yang netral dari keterlibatan tangan kasih karunia Tuhan.

Apa yang terjadi bila seseorang tidak lagi memandang tangan Tuhan sebagai penyebab utama yang menopang kehidupannya? Yang terjadi adalah tindakan fatal yang sangat merusak. Bagian narasi yang kedua menyatakan titik balik dari kehidupan raja Uzia. Ayat 16 menyatakan: “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak dirinya.” Masalah Uzia bukan pada kekuatannya, melainkan pada bagaimana ia memandang dirinya setelah menjadi kuat. Di titik inilah Uzia sebenarnya sedang menggeser takhta Allah. Keberhasilan tidak lagi dilihat sebagai anugerah yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi sebagai legitimasi diri.

Uzia masuk ke Bait Allah untuk membakar ukupan. Di dalam Perjanjian Lama, pembakaran ukupan adalah tugas yang secara jelas diperintahkan Tuhan untuk dikerjakan oleh imam. Uzia bukan hanya sekadar melanggar prosedur ibadah, tetapi ia sedang melanggar batas otoritas Allah. Ini bukan hanya sekedar pelanggaran tata ibadah, tetapi dengan sengaja melanggar kekudusan Allah.

Secara implisit Uzia sedang berkata: “Posisiku, pengaruhku, dan keberhasilanku membuatku layak berada di ruang yang bukan panggilanku.” Hal ini terlihat melalui respons Uzia ketika ditegur oleh para imam. Uzia tidak menyesal dan bertobat, ia justru marah (ayat 17-19). Ini ciri penting ketika diri sendiri yang menjadi pusat dari kehidupan, yaitu koreksi tidak lagi diterima dengan rendah hati tetapi dianggap sebagai ancaman. Obsesi diri sering menyamar sebagai keberanian rohani, padahal sejatinya adalah keinginan menguasai ruang yang Allah tidak berikan.

Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa dan kekudusan. Uzia menjadi tanda peringatan betapa seriusnya kejatuhan dari manusia yang tidak lagi menjadikan Allah sebagai Allah, bahkan menempatkan dirinya di atas Allah. Kusta yang menimpa Uzia bukan sekadar hukuman fisik. Kusta itu menjadi sebuah ironi teologis yang memperingatkan Uzia dan umat Allah. Uzia mendekat ke hadirat Allah (dengan cara dan maunya sendiri), ia justru harus diasingkan. Uzia ingin dilihat layak, ia justru menjadi Najis. Uzia ingin memimpin, ia justru harus hidup terpisah dan melepaskan semua jabatannya. Pada intinya, obsesi diri selalu berakhir dengan keterasingan, bukan keintiman dengan Allah. Berbeda dengan Yohanes Pembaptis yang berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil,Uzia justru membiarkan dirinya makin besar sampai Allah tersingkir dari pusat hidupnya.

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Bagaimana kisah Uzia menolong Anda membedakan antara keberanian iman dan kesombongan rohani?

Penerapan

Adakah area dalam hidup ini dimana Anda mulai merasa “cukup rohani” sehingga tidak lagi sungguh-sungguh bergantung pada anugerah Kristus? Bagaimanakah respons Anda terhadap koreksi yang terarah pada hidup dan hati Anda selama ini? Merenung atau bertarung?

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.