Bagikan artikel ini :

Perasaan yang Jujur di Hadapan Tuhan

Satu pengalaman yang paling membingungkan dalam kehidupan orang percaya adalah ketika Allah yang selama ini dikenal sebagai Pribadi yang dekat, penuh kasih, dan setia, tiba-tiba terasa jauh dan diam. Pada saat-saat seperti itu, doa terasa berhenti di plafon kamar, ibadah tidak mendatangkan gairah, dan Firman Tuhan seolah tidak lagi berbicara kepada kita. Menariknya, Alkitab banyak mencatat pengalaman rohani seperti ini, khususnya Kitab Mazmur. Contohnya adalah Mazmur 77.

Mazmur 77 ditulis oleh Asaf, satu dari tiga pemimpin pujian utama dari suku Lewi yang ditunjuk oleh Raja Daud untuk memimpin pelayanan musik dan ibadah di Bait Allah, selain Heman dan Yedutun. Mazmur ini adalah salah satu dari mazmur-mazmur ratapan, yang sebenarnya merupakan mayoritas dalam Kitab Mazmur. Secara khusus, Mazmur 77 merupakan bagian dari mazmur-mazmur keluhan individu. Mazmur ini memperlihatkan perjalanan Asaf dari krisis spiritual menuju pemulihan iman. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mengingat karya-karya Allah di masa lalu.

Yang menarik, pada akhirnya tidak ada perubahan keadaan yang terjadi. Sebaliknya, perubahan yang terjadi adalah perubahan perspektif. Asaf tidak menemukan jawaban atas seluruh pertanyaannya, tetapi ia menemukan kembali dasar pengharapannya.

Mazmur ini mencatat momen dimana Asaf sangat jujur di hadapan Tuhan. Ayat 3 mengatakan, “Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku.” Jika dipikir-pikir, kalimat ini sangat aneh. Kita sebagai orang yang hidup di lingkungan gereja tentunya terbiasa mendengar khotbah atau sharing yang mengatakan, “kalau sedang stres, sedih, dan putus asa, berdoa! Kita pasti akan mendapatkan sukacita.” “Saya kemarin tidak bisa tidur. Setelah doa, saya jadi dapat damai sejahtera dan bisa tidur pulas.” Tidak demikian dengan Asaf. Ia justru mengatakan bahwa ketika ia mengingat Allah dan merenung tentang Dia, ia malah makin mengerang dan putus asa!

Ini adalah kejujuran yang luar biasa. Kita sering merasa segan bahkan mungkin “takut kualat” ketika berkata jujur tentang Tuhan. Saya teringat ketika suatu kali menjadi narasumber dalam acara Q&A di sebuah persekutuan pemuda, dan salah satu pertanyaannya adalah, “Apakah normal merasa burnout dan capek melayani Tuhan?” Saya terkejut sekaligus sedih membacanya. Rupanya budaya menormalisasikan penyangkalan kondisi spiritual telah menjadi sebegitu kuat, sampai-sampai perasaan burnout, capek, merasa Tuhan jauh, dianggap sebagai sesuatu yang berdosa dan tidak normal. Padahal, ini semua adalah perasaan manusiawi.

Pada akhirnya, ketika semua orang berusaha menutup-nutupinya, yang ada adalah saling menghakimi. Seseorang yang mengalami kejenuhan rohani bahkan mulai mempertanyakan Tuhan, berusaha menekan perasaan tersebut untuk tetap pelayanan. Pada akhirnya, ketika ada orang lain yang undur dari pelayanan karena juga mengalami kejenuhan rohani, ia akan menjadi orang yang paling pertama menghakimi. Mengapa? Karena di dasar hati yang terdalam, ada kekesalan, “bisa-bisanya dia berani jujur akan kondisi rohaninya, sementara aku di sini berjuang untuk membohongi diriku sendiri dengan segala kesibukan aktivitas rohaniku!” Kalau sudah begini, semua orang akan dirugikan, baik yang dihakimi maupun yang menghakimi, dan jangan kira Tuhan akan disukakan oleh ini. Yang diuntungkan hanya Iblis dan yang punya program.

Momen lain dimana Asaf sangat jujur di hadapan Tuhan yang dicatat di dalam Mazmur ini, adalah ayat 7-9. Di sini, Asaf memberikan 5 pertanyaan kepada Tuhan, yaitu:

  1. Ayat 7, “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?”
  2. Ayat 8, “Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya?”
  3. Ayat 8, “Telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun?”
  4. Ayat 9, “Sudah lupakah Allah menaruh kasihan?”
  5. Ayat 9, “Ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?”

Di dalam bahasa Indonesia, pertanyaan-pertanyaan ini terdengar begitu puitis, sampai-sampai kita gagal menangkap nuansa teologisnya. Kelima pertanyaan ini mengandung karakteristik dan sifat Tuhan, yakni ratsah (“bermurah hati”), chesed (“kasih setia”), omer (“janji”), chanan (“kasihan”), dan racham (“rahmat”).

Kata ratsah, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan “favor”, sering sekali muncul dalam Kita Imamat untuk menggambarkan bagaimana Tuhan menerima persembahan. Poin yang ingin ditekankan di sini bukanlah bahwa seseorang harus memberi persembahan dulu, baru Tuhan menunjukkan ratsah. Sebaliknya, Tuhan hanya akan menerima persembahan dari orang-orang yang yang Ia tunjukkan ratsah. Dengan kata lain, diterimanya persembahan seseorang adalah bukti apakah Tuhan menunjukkan ratsah kepadanya. Jadi, ketika Asaf menanyakan, “untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak ratsah lagi?” Asaf sedang merasa persembahannya tidak diindahkan Tuhan.

Kata chesed, adalah atribut Tuhan yang paling ditekankan di Perjanjian Lama selain kekudusan-Nya. Mazmur 136, misalnya, adalah sebuah mazmur yang didedikasikan semata-mata untuk memuji kekudusan Tuhan. Chesed juga adalah sifat Tuhan yang Tuhan sendiri nyatakan kepada Musa dalam Kel. 34:6-7. Kata ini tidak hanya berarti kasih, tetapi juga di dalamnya terkandung nuansa kesetiaan akan perjanjian dan komitmen.

Kata omer, sebenarnya turunan dari kata amar yang berarti “kata-kata”. Omer sebagai turunannya memberikan nuansa ketegasan, sehingga kata ini biasanya dipakai ketika seorang raja mengeluarkan dekritnya. Di dalam masa itu, perkataan raja menjadi hukum. Dengan kata lain, ini bukan sekedar “janji”, tetapi bahwa Tuhan sendiri mengikat diri-Nya kepada perkaatan-Nya dan tidak akan membatalkannya.

Kata chanan, sangat sering kita dengar, hanya saja dalam bentuk nama. Nama “Yohanes” merupakan versi Yunani dari nama Ibrani “Yochanan” atau “Yehochanan”, yang berarti “Alah berbelas kasihan.” Kata yang sama juga seringkali diterjemahkan “kasih karunia,” misalnya dalam Kel. 33:19, “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.

Terakhir, kata racham, juga adalah sifat yang sangat penting karena inilah sifat pertama yang Tuhan perkenalkan kepada Musa dalam Kel. 34:6-7, yang diterjemahkan sebagai “penyayang.” Kata yang sama juga seringkali diterjemahkan “kasihan,” misalnya dalam Kel. 33:19, “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Sangat menarik bahwa kata ini sebenarnya adalah turunan dari kata dasar yang berarti “rahim.” Ini mirip dengan kata bahasa Indonesia “rahim” dan “rahmat” yang sebenarnya memiliki akar kata yang sama dalam rumpun bahasa Semitik.

Jadi, apa yang sebenarnya Asaf lakukan melalui 5 pertanyaan ini? Ia sedang mempertanyakan sifat-sifat Tuhan yang paling penting! Kalau menggunakan istilah dan nuansa modern, mungkin kata-katanya dapat diterjemahkan, “Katanya Tuhan Maha Kasih! Tapi kok Tuhan tidak mengasihi aku?” Kalau anak kita atau murid kita atau jemaat kita mengatakan demikian, bagaimana respons kita? Kita akan dengan cepat mengatakan, “Hus! Jangan kurang ajar sama Tuhan!” Tapi kenyataannya, Asaf sendiri melakukan hal yang sama! Apakah ini berarti Asaf kurang ajar? Tentu tidak. Jika perkataan ini dianggap kurang aja, tidak mungkin dimasukkan ke dalam Kitab Mazmur yang kemudian menjadi buku panduan puji-pujian umat Israel.

Ini mengajarkan kepada kita satu hal, terkadang orang-orang yang mempertanyakan atribut-atribut Tuhan tidak selalu mengatakannya karena ingin memberontak, marah, atau menantang Tuhan. Seringkali itu adalah keluh kesah yang dalam. Kita tidak boleh memaksakan seseorang selalu mengenakan topeng, dan mengatakan, “Aku beriman bahwa Tuhan Yang Maha Kasih tak peduli keadaanku” sambil tersenyum. Kalau ia ingin jujur kepada Tuhan, kenapa kita yang sewot? Padahal, Tuhan sendiri justru menerima dan mendengar keluhan-keluhan tersebut. **DO