Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

The Courage to Forgive: Overcoming Evil with Good (Berani Mengampuni: Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan)

Roma 12:17-21; 1 Petrus 2:23-25

 

EKSPRESI PRIBADI

Mengampuni. Jangankan untuk melakukan, mendefinisikannya saja susah sekali. Apa itu mengampuni, dan apa tandanya jika kita sudah benar-benar mengampuni? Di satu ekstrem, ada yang berpendapat, “pokoknya aku tidak balas dendam.” Tetapi di ekstrem satunya, ada yang berpendapat, “mengampuni berarti kita harus kembali ke relasi seperti sediakala. Kalau tidak, berarti belum benar-benar mengampuni.” Bahkan ada yang mengatakan, “mengampuni adalah kalau kita bisa sepenuhnya melupakan kesalahan orang itu.”

Jika demikian, bagaimana dengan rekan bisnis yang pernah menipu kita? Apakah kita baru dapat dikatakan mengampuni jika kita mau kembali bekerja sama dengan orang itu lagi? Tapi, bagaimana kalau kita ditipu lagi? “Itu namanya risiko. Kita juga seringkali masih jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan selalu mengampuni. Kita juga harus berbuat demikian kepada rekan bisnis yang penipu.” Bagaimana menurut Anda? Apakah cara pikir demikian benar?

 

EKSPLORASI FIRMAN

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali ke definisi Alkitab. Roma 12:19 memberikan definisi yang solid, “janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku.” Perhatikan bahwa tidak dikatakan kita harus kembali kepada relasi sediakala, maupun bahwa kita harus bisa sama sekali melupakan kesalahan mereka. Kalau melupakan kesalahan merupakan salah satu syarat pengampunan, maka orang yang mengalami amnesia adalah yang paling jago mengampuni. Tentu ini tidak benar.

Definisi Alkitab mengenai pengampunan sebenarnya sangat sederhana, yakni melepaskan keinginan membalas dendam dan segala emosi negatif yang berkaitan (misal: kemarahan), karena Tuhanlah yang menuntut balas. Ini pula yang diteladankan oleh Tuhan Yesus terhadap orang-orang yang menyalibkan-Nya, sebagaimana tertulis dalam 1 Pet. 2:23-25. Itu adalah definisi dasarnya. Dalam prakteknya, ada 4 cara mengaplikasikan kebenaran ini sesuai dengan konteks relasi dan kedekatan seseorang. Kita harus memiliki hikmat dalam menentukan mana aplikasi yang tepat untuk situasi yang berbeda-beda.

  1. No Revenge (Tidak Merencanakan Balas Dendam)

Aplikasi pertama adalah apa yang biasanya dilakukan kepada orang yang melakukan tindakan kriminalitas terhadap kita. Di dalam aplikasi yang pertama ini, kita benar-benar memutuskan hubungan sesudah kejahatan itu terjadi, tetapi juga tidak mencari cara untuk membalas dendam. Penegakkan keadilan adalah urusan Tuhan dan negara, tetapi kita sendiri menjaga jarak dengan hukum. Tokoh Alkitab yang melakukan ini adalah Daud terhadap orang yang berusaha membunuhnya, Saul (1 Sam. 24:13))

Saya beberapa kali mendengarkan ilustrasi khotbah tentang seorang ibu yang anak gadisnya dibunuh oleh mantan pacarnya. Ketika dalam pengadilan, bukannya menuntut si pembunuh, ibu tersebut bahkan meminta agar hukumannya dihapus sama sekali, dan agar si ibu boleh mengangkat si pembunuh tersebut menjadi anaknya. Sesudah kisah itu diberikan, si pengkhotbah menutup dengan, “kalau kita bisa seperti ibu itu, baru kita benar-benar sudah mengampuni.” Tetapi, apakah ini benar? Tentu tidak! Dalam kasus seperti ini, si ibu cukup melepaskan kebencian dan dendam pribadi, dan membiarkan negara menjalankan hukumnya. Itu adalah mengampuni dengan cara yang berhikmat.

  1. Hospitality (Menjaga Keramahan, Tanpa Mengembalikan Relasi)

Aplikasi kedua biasanya kita lakukan kepada teman yang mengkhianati kita, tetapi tidak sampai kepada tindakan kriminal, atau kepada rekanan bisnis yang menipu kita. Dalam aplikasi yang kedua ini, tidak hanya kita melepaskan keinginan untuk membalas dendam, kita bahkan masih menunjukkan keramahan kepada orang tersebut. Tetapi, keramahan ini tidak berarti kita kembali ke relasi sedia kala. Paulus memberi contoh misalnya dengan memberi makan dan minum kepada “seteru” yang haus dan lapar (Rom 12:20). Perhatikan bahwa Paulus masih menyebut “seteru”, tetapi kita tetap harus bersikap ramah. Mengapa? Karena tindakan ini menunjukkan kedewasaan emosi dan rohani, sehingga kita “menumpukkan bara api di atas kepalanya,” dengan kata lain untuk membakar hati nurani orang tersebut dengan rasa malu dan menyesal.

  1. Teamwork (Dapat Bekerjasama, Meski Tidak Dalam Relasi yang Dulu)

Aplikasi ketiga ini biasanya kita lakukan terhadap rekan pelayanan yang bersalah kepada kita. Sebagai pelayan Tuhan, seringkali kita dituntut untuk dapat bekerjasama dengan berbagai macam orang, bahkan orang yang pernah bersalah dengan kita. Dalam hal ini, kerja sama yang kita lakukan bukanlah untuk mengembalikan kepada relasi yang semula kita miliki, tetapi semata-mata untuk tujuan yang sama, yakni pekerjaan Tuhan.

  1. Relationship (Pemulihan Relasi)

Aplikasi keempat ini pada umumnya terjadi pada relasi yang sangat dekat, misalkan antara anak-orang tua atau suami-istri. Apapun kesalahan anak kita, mereka tetap adalah anak kita.

Perhatikan bahwa tidak semua relasi perlu mencapai aplikasi 4. Bahkan, di dalam teologi Reformed yang kita anut, Tuhan sendiri tidak mengampuni semua manusia di dalam tingkatan yang sama. Hanya orang-orang pilihan yang Ia tentukan dari semula untuk dikembalikan relasinya ke keadaan sediakala, menjadi anak-anak-Nya (Ef. 1:5).

Hendaknya kita memiliki hati yang berani mengampuni, dan hikmat untuk tahu bagaimana cara mengaplikasikan pengampunan tersebut secara konkrit.

 

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Apa definisi pengampunan menurut Anda? Perlukah setiap orang yang bersalah kita kembalikan hubungannya dengan kita kepada keadaan yang semula? Mengapa demikian?

Penerapan

Apakah saat ini ada orang yang melakukan kesalahan kepada Anda? Berada dalam kategori manakah orang tersebut? Apakah Anda sudah bisa menunjukkan pengampunan yang sesuai? Jika belum, mengapa?

 

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain [DO]