Dari Kebingungan Menjadi Iman
Habakuk 2:1-5
Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.
- Habakuk 2:1
Berita-berita soal keputusan hukum terkadang bisa membingungkan. Orang-orang yang sudah merugikan negara sangat besar, diberi hukuman yang begitu ringan. Akibatnya, rakyat berteriak-teriak tentang ketidakadilan, tetapi seperti angin lalu, suara mereka tidak dianggap. Bukankah apa yang terjadi di dunia ini terkadang membingungkan? Mengapa orang-orang yang bertindak jahat sepertinya hidupnya enak?
Nabi Habakuk sedang mengalami kebingungan dan kegelisahan. Habakuk melihat orang Israel hidupnya jauh dari Tuhan, lalu ia meminta Tuhan bertindak. Akan tetapi, tindakan Tuhan adalah mengirimkan orang-orang Kasdim untuk menghukum orang Israel. Habakuk bingung, kenapa Tuhan memakai bangsa yang tidak mengenal Tuhan untuk menghajar umat-Nya. Catatan saja, ini bukan berarti Tuhan menyetujui kejahatan bangsa Babel karena mereka pun nanti akan dihukum.
Di dalam kebingungan, Habakuk memutuskan untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. Dari kebingungan, mulai bergerak menuju kepercayaan kepada Tuhan. Lalu Tuhan sendiri yang menyuruh Habakuk menuliskannya pada loh-loh batu, bahwa apa yang Tuhan rancangkan, yang akan terjadi di kemudian hari, belum terjadi pada saat itu. Waktunya masih lama, tetapi pasti akan terjadi.
Jika melihat kembali ke awal, Habakuk terfokus pada kejahatan orang Israel, kemudian pada kekejaman orang Kasdim. Habakuk sedang dibawa untuk melihat kembali Tuhan dan memercayai-Nya. Tuhan punya jalan-Nya sendiri, yang tidak mungkin salah. Ada waktunya bangsa-bangsa adikuasa akan diturunkan oleh Tuhan dari takhtanya. Kesombongan mereka akan dihancurkan oleh Tuhan, tetapi menurut waktu-Nya. Jalan Tuhan tidak dapat diterka. Dia adalah Allah yang berdaulat, tetapi hati-Nya baik sehingga di dalam kebingungan dan ketidakmengertian, kita bisa memercayai Allah.
Baca ayat ini dalam hati, “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (ay. 4). Kita adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Kristus, yang dapat menatap masa depan dengan pengharapan yang kokoh di dalam Kristus. Jika saat ini kita sedang dalam kebingungan, melihat orang jahat hidupnya berkuasa dan berjaya, yang sepertinya jalan hidupnya makmur, maka kita perlu memandang kepada Allah lagi dan memercayai-Nya. Dia adalah Allah yang berkuasa dan tidak pernah tinggal diam, Tuhan pasti menegakkan keadilan-Nya.
Refleksi Diri:
- Apa yang Anda lakukan saat merasakan kebingungan dengan cara Tuhan bekerja?
- Mengapa Anda bisa selalu memercayai Tuhan, bahkan di saat keadaan begitu buruk?
