Persembahan Hidup yang Tak Terbagi dalam Panggilan Anugerah
Allah menganugerahkan iman kepada umat pilihan-Nya sehingga mereka dimampukan untuk mengakui diri sebagai orang berdosa dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun, keputusan untuk mengikut Kristus dan hidup sebagai murid-Nya bukanlah keputusan yang tanpa tuntutan atau sekadar disertai janji berkat. Mengikut Kristus merupakan panggilan yang menuntut kesungguhan hidup. Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus, “Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62).
Perkataan Tuhan Yesus ini menyatakan dengan jelas bahwa mengikut Kristus menuntut arah hidup yang tegas dan hati yang tidak terbagi. Ketaatan dan persembahan hidup secara total bukanlah upaya manusia untuk mempertahankan keselamatan, melainkan respons iman terhadap anugerah Allah yang telah lebih dahulu memanggil, mengubahkan, dan menuntun umat-Nya. Teguran Tuhan Yesus ini diarahkan kepada sikap hati yang masih terikat pada kehidupan lama. Dengan demikian, dosa tidak semata-mata dipahami sebagai tindakan lahiriah, melainkan sebagai kondisi hati yang belum sepenuhnya tunduk kepada pemerintahan Kristus.
Anugerah Allah menuntut respons berupa hati yang utuh dan hidup yang diarahkan sepenuhnya kepada-Nya. Kehidupan dalam anugerah menghasilkan pembaruan yang nyata, sehingga orang percaya tidak lagi hidup dengan orientasi lama, melainkan berjalan dalam ketaatan yang terus diperbarui. Komitmen iman yang sejati menyingkirkan keraguan dan memampukan orang percaya untuk mengikut Tuhan dalam segala situasi dan kondisi kehidupan.
Panggilan Tuhan Yesus adalah panggilan yang efektif dan mengubahkan. Seseorang dapat mengikut Kristus bukan semata-mata karena inisiatif pribadi, melainkan sebagai respons terhadap karya Allah yang lebih dahulu memanggil dan bekerja di dalam dirinya. Panggilan anugerah bukan sekadar undangan moral untuk mengakui dosa, melainkan karya Allah melalui kuasa Allah Roh Kudus, membawa seseorang masuk ke dalam ketaatan yang lahir dari hati yang telah diperbarui. Oleh karena itu, komitmen iman bertumbuh sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan yang telah diterima.
Kesetiaan dan kekudusan yang dituntut Allah dari setiap orang percaya merupakan buah dari keselamatan dan mencerminkan pemahaman iman yang benar. Metafora membajak dalam Lukas 9:62 menekankan pentingnya fokus dan keteguhan arah hidup orang percaya kepada tujuan utama Allah dalam penciptaan dan keselamatan, yaitu mempersembahkan hidup bagi kemuliaan-Nya dan menghadirkan pemerintahan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, komitmen hidup orang percaya dibentuk untuk mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah.
Allah sendiri yang menganugerahkan pertolongan dan ketekunan bagi umat-Nya untuk tetap setia, selama mereka hidup bergantung kepada Kristus. Menjadi murid Kristus berarti menatap ke depan dengan iman, tanpa menoleh kembali. Tidak ada jalan kembali, sebab anugerah Allah telah membuka jalan menuju kehidupan yang penuh makna. Persembahan hidup yang tak terbagi lahir dari hati yang telah disentuh oleh kasih karunia Allah dan diarahkan sepenuhnya bagi Kerajaan-Nya. **HS
