Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

What Ruins Our Family Apa yang Menghancurkan Keluarga Kita

1 Samuel 2:12-29

 

EKSPRESI PRIBADI

Kehidupan keluarga pada masa kini tidak lebih mudah dari masa yang lalu, malahan mungkin lebih menantang. Sebuah keluarga Kristen dapat datang secara rutin ke gereja dengan tampilan yang baik dan bersinar cerah tetapi ternyata realita tidak seperti tampak luar. Kondisi juga tampak dari data Bilangan Research Center pada 2022, 24% istri dan 18% suami mengaku pernah memiliki keinginan serius untuk bercerai dalam tiga tahun terakhir. Angka ini menunjukkan sebuah pergumulan yang sering tidak terucap, tetapi ketegangannya terasa dalam keluarga-keluarga secara internal. Apakah keluarga Anda mengalami hal yang sama? Jika kita jujur, apa yang paling sering menggerogoti keluarga kita?

 

EKSPLORASI FIRMAN

Kisah keluarga Imam Eli, yang ada dalam bacaan Alkitab minggu ini, menggambarkan bagaimana sebuah keluarga Kristen dapat masuk ke lintasan kehancuran, yaitu tidak mengindahkan (menghormati) Tuhan (1 Sam. 2:12). Keluarga Imam Eli memiliki hak istimewa karena mereka termasuk dalam keturunan Harun, sebuah garis keturunan yang istimewa di dalam bani Lewi yang mengizinkan mereka melayani dekat secara fisik dengan Allah. Namun, kedekatan secara fisik tidak otomatis membuat mereka memiliki kedekatan secara relasi.

Masalah: Mengabaikan Allah dalam Hidup 

Ayat 12 menyebut anak-anak Eli "orang dursila" (Ibr. bene beliyya'al, secara harfiah "anak-anak yang tak berharga"), lalu menjelaskan akarnya: mereka tidak mengenal TUHAN (Ibr. lo yada'u; TB: "tidak mengindahkan"). Dalam Alkitab, "mengenal" berarti relasi pribadi, bukan sekadar pengetahuan. Mereka hafal ritualnya, tetapi tidak hidup bersama Allah yang mereka layani.

Hal itu tampak dalam praktik. Allah mengatur agar para imam hidup dari bagian tertentu persembahan umat (Im. 7:31-34; Ul. 18:3) sehingga mereka dapat melayani sepenuh waktu. Anak-anak Eli justru menyalahgunakan pengaturan itu untuk memuaskan diri: mereka merampas daging sebelum lemaknya dibakar bagi TUHAN dan memaksa umat menyerahkannya, bahkan ketika umat mengingatkan mereka (ay. 13-16). Dosa mereka dinilai sangat besar di hadapan TUHAN (ay. 17).

Eli, sebagai ayah dan imam, sebenarnya tahu. Ia menegur, tetapi hanya dengan kata-kata, tanpa tindakan yang menghentikan mereka (ay. 22-25). Melalui seorang abdi Allah, TUHAN menilai bahwa Eli menghormati anak-anaknya lebih daripada Dia (ay. 27-29). Pertanyaannya menyentuh kita: kapan kasih kepada keluarga, tanpa sadar, mengalahkan kesetiaan kepada Tuhan? Sikap ini sering menyamar sebagai kasih: kita menghindari konflik, membiarkan, takut mengecewakan. 

Kontras: Menghormati Allah dalam Hidup Keluarga

Di tengah kisah yang kelam ini, penulis Samuel sengaja menyelipkan potret lain (ay. 18-21). Samuel kecil melayani di hadapan TUHAN, dan setiap tahun Hana membawakan jubah kecil yang baru karena Samuel terus bertumbuh. Tindakan Hana sederhana, tetapi nyata: ia menopang panggilan Allah atas anaknya dengan cara kecil dan konsisten. Perhatikan juga ayat 21: TUHAN memperhatikan Hana, dan Samuel bertumbuh di hadapan TUHAN. Keluarga ini bukan sedang menjalankan resep; mereka hidup di bawah perhatian Allah yang berbelas kasih.

Kita perlu jujur: ini bukan jaminan bahwa anak-anak kita pasti setia. Samuel sendiri kelak melihat anak-anaknya menyimpang (1 Sam. 8:1-3). Namun menaruh Allah di pusat keluarga tetaplah jangkar yang teguh, sebab Dialah pencipta dan perancang keluarga. Jangkar tidak menghentikan badai; ia menahan kita agar tidak hanyut.

Panggilan: Menghidupi Keselamatan dalam Keluargaku

Jika berhenti di sini, kisah ini hanya menjadi tuntutan: jadilah keluarga yang lebih baik. Tetapi Alkitab menunjuk kepada anugerah. Di tengah penghakiman atas keluarga Eli, Allah berjanji mengangkat seorang imam yang setia (ay. 35). Janji ini menunjuk lebih jauh daripada Samuel, kepada Yesus Kristus, Imam Besar kita yang sempurna (Ibr. 4:14-16). Keluarga kita tidak diselamatkan oleh kedekatan dengan pelayanan, juga bukan oleh orang tua yang sempurna, melainkan oleh Kristus yang menghormati Bapa dengan sempurna menggantikan kita yang gagal.

Anugerah ini bukan sikap membiarkan. Eli gagal karena membiarkan dosa; kasih karunia Allah justru "mendidik" kita, memakai kata yang berkerabat dengan disiplin dan pendidikan anak (Titus 2:11-12). Anugerah yang sejati mengampuni sekaligus mengubah. Maka hidup yang mencerminkan anugerah di rumah berarti cepat mengampuni dan meminta ampun, mengoreksi dengan kasih dan keteguhan, dan menaruh Kristus di pusat.

“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” – Titus 2:11-12

Maukah kita hari ini kembali kepada Yesus? Bagi yang belum menerima-Nya, terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bagi yang sudah menerima-Nya, taruhlah Dia kembali di pusat rumah kita dan izinkan anugerah-Nya mengubah satu area konkret dalam keluarga kita. Mari berdoa dan saling menguatkan, agar keluarga kita berjangkar di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. [JP]

 

APLIKASI KEHIDUPAN 

Pendalaman

Bagaimana seseorang bisa sangat aktif melayani, tetapi hatinya jauh dari Tuhan? Apa tanda-tandanya dalam keluarga Anda?

Penerapan

Adakah hal yang perlu diakui dan untuk itu Anda perlu meminta ampun kepada pasangan, anak, atau orang tua, karena Anda sudah lebih dahulu diampuni?

 

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain