Bagikan artikel ini :

Ukuran untuk Mengukur

Efesus 5:11-17

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
- Efesus 5:15

Ketika semua pendapat orang lain kita anggap hanyalah abu yang layak disapu angin lalu atau sampah yang patut dibuang. Tutup kuping, tutup mata, tutup mulut, kemudian berlalu buang muka dengan wajah muram durja. Apa yang sedang terjadi dengan diri kita? Celakanya, tanpa disadari sikap ini telah menahun terjadi dan seperti itulah diri kita dikenali oleh kanan-kiri, juga sana-sini.

Apa ukuran yang kita pakai untuk membenarkan diri kita? Ketika kita berpendapat, berkata dan bersikap, juga mengambil keputusan, kita juga sedang menuntut semua orang harus membenarkan diri kita. Apa yang kita pikirkan dari hati, itulah diri kita sebenarnya, seperti yang disampaikan Markus 7:21-22, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.”

Kita bisa mengingat para ahli Farisi yang di kepala mereka penuh hukum Tuhan, tetapi dari hati tidak pernah peduli apa maunya Tuhan. Mereka merasa diri selalu paling benar, tetapi miskin karakter, miskin pula kasih. Bak tak mampu melihat gajah di pelupuk mata, tetapi kuman di seberang lautan nampak. Begitu juga Firaun yang telah sepuluh kali kena tulah, tetapi tetap mengeraskan hati, sekuat tenaga berangkara murka hendak mendatangkan binasa.

Ingat, kekerasan hati dan kebebalan selalu membutakan mata terhadap kebenaran dan keadilan, membangkitkan ketamakan, menggelorakan amarah dan kebencian. Sobat, semua itu bisa saja melanda diri kita, meski kita orang Kristen, meski kita hamba Tuhan. Mari koreksi diri dan belajar bersama. Ada sangat banyak sikap dan perbuatan kita yang mendukakan Tuhan.

Mari mengukur diri bukan dengan ukuran dari dalam diri kita. Hendaklah mengukur diri seberapa jauh hidup kita dari kebenaran firman Tuhan. Allah menghendaki kita bukan hanya menjadi banyak tahu, tetapi menjadi pelaku firman. Menjadi pelaku firman Tuhan akan membuka mata hati, menuntun hidup dengan kasih yang tulus murni, menikmati damai sejati, dan bersyukur atas semua yang terjadi.

Bagaimanakah hati kita hari ini? Jangan keraskan hati, minta pertolongan Tuhan agar kita berubah selangkah lebih maju.


Refleksi Diri:

  • Apakah ada kekerasan hati dan kebebalan di dalam hati Anda saat ini? Dalam hal apa Anda cenderung mengeraskan hati?
  • Bagaimana selama ini Anda mengukur diri? Apakah sudah sesuai dengan kebenaran firman Tuhan?