Bagikan artikel ini :

Sudah Selesai: Cawan Sudah Dikosongkan

Yohanes 19:28-30

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
- Yakobus 5:16

Pada sebuah kebaktian doa Censura Morum (persiapan menjelang Perjamuan Kudus), setelah merenungkan firman Tuhan, kami lalu menuliskan pengakuan dosa kami masing-masing di secarik kertas. Di bagian akhir kebaktian, setiap jemaat maju, memakukan kertas pengakuan dosa yang ia sudah tuliskan. Waktu menyaksikan momen tersebut, hati saya tergetar. Betapa berat dosa yang harus ditanggung Yesus karena begitu banyak orang yang menempelkan pengakuan dosanya di salib tersebut. Pada salib itu segala kejijikan dan kekejian dosa manusia ditimpakan kepada-Nya. Dosa yang tidak pernah bisa kita bersihkan dengan apa pun, disucikan oleh-Nya. Betapa berdosanya diri kita, jika tanpa salib Kristus. Yesus menghabiskan cawan murka Allah, menanggung hukuman yang paling mengerikan tersebut.

Jika kita kembali ke taman Getsemani, apa yang paling menggentarkan hati Yesus? Bukan hanya tentang penderitaan, olok-olok atau sakit secara fisik yang akan diterima-Nya, melainkan cawan murka Allah yang harus diminum-Nya. Yesus yang Mahakudus, yang tidak berdosa, dibuat berdosa karena kita. Dia menerima kengerian murka Allah.

Di Getsemani kita melihat pergumulan yang sangat intens untuk meminum cawan murka Allah tersebut. Injil yang lain mencatat Yesus sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa (Luk. 22:44a). Peluh Yesus bahkan menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk. 22:44b), bahkan Dia sampai berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” (Mrk. 14:34). Sekalipun Yesus berdoa, memohon sampai tiga kali agar cawan tersebut lalu daripada-Nya, Dia tetap memegang, meminum, dan menghabiskannya. Pada puncaknya Dia berkata, “Sudah selesai.”

Seburuk apa pun hidup yang kita alami hari ini, tidak ada yang lebih buruk dan mengerikan daripada menerima murka Allah. Seruan Yesus, “Sudah selesai,” bukanlah pernyataan kekalahan, melainkan pernyataan kesetiaan dan ketaatan-Nya kepada Allah. Dia telah membebaskan kita dari apa yang seharusnya kita terima, yakni penghukuman dosa. Cawan murka Allah sudah kosong, sudah habis, tidak ada yang tersisa lagi. Pengkhotbah Charles Spurgeon berkata, “Ia telah meminum kutukan sampai kering.” Kita yang percaya kepada Yesus tidak akan menerima cawan murka Allah itu untuk selama-lamanya, malahan menikmati relasi dengan Allah yang Mahakudus selama-lamanya.


Refleksi Diri:

  • Apa yang Anda pikirkan tentang pengorbanan Tuhan Yesus Kristus buat Anda?
  • Bagaimana Anda ingin menjalani hidup setelah menerima penebusan dosa dari Kristus? Apa komitmen yang ingin Anda ambil?