20 Tahun Menunggu
2 Petrus 3:8-9
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
- 2 Petrus 3:9
Saya sudah mendoakan pertobatan papa saya sejak pertengahan tahun 1985. Air mata terlinang, luka di hati mendalam berubah menjadi api amarah dalam sekam. Banyak pula memori buruk, kebingungan arah hidup, pesimistis dengan masa depan, semua bercampur menjadi satu. Sempat berpikir, saya kan sudah bertobat, sudah dibaptis dan jadi Kristen sungguh-sungguh. Saya sudah melayani, belajar bertumbuh, tapi seolah-olah Tuhan menunda pertolongan-Nya? Mengapa? Apa yang salah?
Akhirnya, 1 Januari 2005, papa bertobat, mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Hati kecil saya sempat bertanya, mengapa harus selama itu? Namun, kini saya mengerti pertobatan dapat terjadi karena kesabaran Allah dalam menuntun papa dan saya. Semua itu dalam arah dan tujuan Allah untuk membentuk hidup kami berdua menjadi bagian dari karya-Nya. Dua puluh tahun ternyata masa yang penuh arti untuk mengenal jalan-Nya.
Hari ini dalam terang firman-Nya, saya coba menganalisa apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya menemukan kalimat kunci dari ayat di atas, dalam bahasa Yunani adalah ou bradunei Kurios tes epangelias. Arti secara gramatikal adalah Tuhan selalu tidak pernah terlambat menepati janji-Nya (The Lord always never delay His promise).
Tuhan selalu menepati janji-janji-Nya di waktu yang tepat. Dia rindu jiwa-jiwa dapat diselamatkan. Tuhan berharap setiap orang mau bertobat dan berbalik kepada-Nya. Dia sabar menunggu pertobatan kita. Kita yang pernah mendoakan pertobatan orang-orang yang kita kasihi, diminta juga bersabar menunggu Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka.
Sobat terkasih, kesabaran terkait erat dengan ketekunan. Di balik kesabaran dan ketekunan kita, ada cara Allah mendidik dan membentuk karakter kita semakin serupa Kristus. Mungkin kita dididik untuk mengasihi dan mengampuni orang yang kita doakan. Kita juga mungkin diajak oleh Tuhan berjalan tertatih-tatih menuntun orang tersebut yang ternyata memberikan kematangan dan kedewasaan rohani. Satu hal yang perlu diingat, Roh Kudus akan selalu menuntun dan memelihara hati kita agar teguh tegar menghadapinya. Jalan Tuhan untuk menyelamatkan selalu ajaib dan tak terduga!
Refleksi Diri:
- Siapa orang-orang terkasih yang selama ini selalu Anda doakan untuk pertobatan mereka? Sudah berapa lama Anda mendoakan mereka?
- Apa pelajaran dan didikan yang Anda dapatkan dari Tuhan setelah sekian lama mendoakan mereka?
