Bagikan artikel ini :

Rasa Takjub Yang Hilang

Mazmur 78:23-29

Ia menurunkan kepada mereka hujan daging seperti debu banyaknya, dan hujan burung-burung bersayap seperti pasir laut.
- Mazmur 78:27

Apakah Anda pernah membayangkan ikut dalam rombongan orang Israel yang keluar dari Mesir dan berjalan di padang gurun bersama mereka, menyaksikan berbagai mukjizat? Bagaimana rasanya berada di sana ribuan tahun yang lalu, melihat secara langsung semua kejadian? Dengan kemajuan teknologi AI, ada orang yang membuat dirinya seakan-akan sedang berada di tengah peristiwa tersebut. Ia seakan berada di antara orang banyak yang sedang menyeberangi laut yang terbelah. Berjalan melihat ke kiri dan ke kanan, dilindungi tembok air yang begitu tinggi, yang jika disentuh tetap berdiri dengan kokoh, sampai semuanya menyeberang. Jika kita benar-benar berada di sana, pasti akan benar-benar takjub!

Pemazmur di perikop bacaan mengingatkan orang Israel ketika Tuhan memberi mereka makan di padang gurun. Kejadian yang sungguh ajaib bahkan pemazmur menyebutnya “roti malaikat” (ay. 25). Kalau kita membaca kisah ini di kitab Keluaran, awalnya mereka sangat takjub akan mukjizat-mukjizat tersebut. Akan tetapi, setelah lewat satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan empat puluh tahun, mereka sudah sangat terbiasa dengan mukjizat tersebut sehingga seringkali malah bersungut-sungut. Apalagi generasi Israel yang tidak mengalaminya secara langsung. Mereka tidak melihatnya sebagai pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Sehebat apa pun mukjizat yang orang Israel alami, tidak membuat mereka semakin menyembah Tuhan. Mukjizat tidak menjamin seseorang hidupnya akan semakin takjub dan memuliakan Tuhan.

Salah satu yang sering hilang dari orang Israel adalah kehilangan ketakjuban pada perbuatan-perbuatan Tuhan. Penulis Paul David Tripp berkata, “Ketika kita tidak lagi takjub kepada Allah, kita akan mengganti objek kekaguman kita. Ini bisa berupa: Diri sendiri, materi/kekayaan, prestasi, hubungan.” Kita perlu sering-sering melihat lagi seluruh perbuatan Tuhan yang ajaib dalam hidup kita sehingga bisa mengingatnya kembali. Kita mungkin sudah sering mendengar peristiwa-peristiwa ajaib di dalam Alkitab yang Tuhan lakukan, tetapi semakin sering mendengarnya, kita semakin tidak takjub lagi, merasa semuanya biasa-biasa saja. Waktu kita bisa datang beribadah setiap minggunya, apakah masih ada ucapan syukur bahwa semua itu karena anugerah Tuhan? Waktu kita bisa melayani, apakah kita masih mengucap syukur karena kalau bukan Tuhan Yesus yang menebus dan memakai untuk melayani, kita pun tidak akan dapat melayani?


Refleksi Diri:

  • Apakah di dalam hidup Anda ada yang menggantikan kekaguman Anda kepada Tuhan? Mengapa bisa terjadi?
  • Apa yang seringkali membuat Anda kagum kepada Tuhan di dalam hidup ini sehingga membuat Anda senantiasa memuji dan bersyukur kepada-Nya?