Bagikan artikel ini :

Menghidupi Amanat Agung

Matius 28:16-20

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
- Matius 28:19

Christopher J. H. Wright, seorang teolog misi, menuliskan bahwa misi berasal dari hati Allah. Gereja tidak punya misi sendiri, melainkan dipanggil ikut serta dalam misi Allah. Artinya, Amanat Agung bukan sekadar program, melainkan identitas gereja.

Tugas terakhir yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya sebelum naik ke surga adalah Amanat Agung. Banyak orang Kristen tahu dan mengenal ayat emas di atas, tetapi tidak semua sungguh-sungguh menghidupinya. Amanat Agung bukan sekadar slogan misi, melainkan panggilan hidup yang harus diwujudkan dalam keseharian setiap pengikut Kristus.

Yesus menemui sebelas murid-Nya di Galilea (ay. 16). Beberapa murid menyembahNya, sementara yang lain masih ragu (ay. 17). Namun, Yesus tetap memercayakan misi besar tersebut kepada mereka. Dia menegaskan otoritas-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ay. 18). Dari otoritas inilah lahir mandat, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku …” (ay. 19). Proses ini meliputi membaptis, memberi identitas baru dalam Kristus dan mengajar, membimbing pada ketaatan (ay. 20a). Janji penutup meneguhkan mereka yang mengikuti-Nya, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (ay. 20b). Amanat ini bukan hanya perintah, tetapi juga janji penyertaan yang memberi keberanian.

Pastor dan teolog John Stott pernah berkata, “Amanat Agung bukanlah pilihan bagi sebagian orang Kristen yang merasa terpanggil, melainkan perintah bagi seluruh gereja. Gereja yang tidak menginjili berarti sudah menyangkal identitasnya.” Komentar ini menegaskan bahwa Matius 28:16-20 adalah panggilan mendasar bagi setiap murid Kristus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya.

Seorang mahasiswa di Jakarta pernah merasa ragu untuk membagikan Injil kepada temannya. Ia takut ditolak. Namun, ketika ia mulai secara sederhana menawarkan doa saat temannya mengalami kesusahan, percakapan rohani terbuka. Melalui kesempatan berelasi tersebut, temannya kemudian ikut kelompok kecil. Menghidupi Amanat Agung tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi dari langkah kecil yang setia.

Amanat Agung bisa dihidupi melalui kesaksian hidup sehari-hari, seperti kejujuran di pekerjaan, kepedulian terhadap lingkungan, keberanian berbicara tentang iman, serta mendukung pelayanan misi. Kita dipanggil menjadi saksi di “Yerusalem” modern, yaitu tempat kerja, kampus, ataupun komunitas digital.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda melihat diri hanya sebagai jemaat gereja atau sebagai murid yang diutus Yesus untuk menghidupi Amanat Agung?
  • Apa langkah praktis yang bisa Anda lakukan untuk menjadikan orang lain murid Kristus dalam keseharian Anda?