Musibah Dan Kesombongan Manusia
2 Raja-raja 18:9-16
Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;
- Yesaya 2:12
Penyerangan yang hebat dari kerajaan Asyur melanda kerajaan Israel Utara dan Yehuda Selatan bagaikan kiamat. Kerajaan Asyur yang perkasa, yang pada saat itu adalah adi kuasa, mengangkut orang-orang Israel Utara dan menceraiberaikannya ke berbagai daerah kekuasaannya (ay. 11). Asyur juga hendak melakukan penyerangan yang sama kepada Yehuda Selatan, tetapi Hizkia segera menulis surat permohonan agar Sanherib, raja Asyur, membatalkannya (ay. 14). Sebagai gantinya, Hizkia harus membayar upeti yang besar, bahkan sampai mengerat emas bait Allah (ay. 15-16).
Mungkin kita merasa heran. Wajar kalau Tuhan menghukum Kerajaan Israel Utara yang raja-rajanya jahat dan penyembah berhala. Namun, mengapa Yehuda Selatan juga mengalami penghukuman seperti ini, yang membuat Hizkia sangat terhimpit? Bagaimana dengan rakyat yang tetap setia kepada Tuhan? Mengapa mereka pun harus mengalami musibah seperti ini?
Itulah musibah. Datangnya bisa melanda orang baik maupun orang jahat, orang yang percaya maupun tidak percaya. Kita mungkin masih terkenang pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa tahun lalu. Mungkin ada orang-orang yang kita kasihi yang berpulang pada masa itu. Mungkin bisnis kita mengalami kelesuan bahkan bangkrut. Malapetaka ini mirip dengan yang terjadi melalui penyerangan Asyur. Sebagaimana penyerangan Asyur samasama menyerang Israel Utara dan Yehuda Selatan, demikianlah tragedi dan bencana dapat menyerang siapa pun, yang baik dan yang jahat.
Namun, ada satu perbedaannya. Kerajaan Israel Utara hancur dan diserakkan. Sampai hari ini, kesepuluh suku Israel Utara tidak dapat ditelusuri jejak dan garis keturunannya karena tercerai-berai, dan itulah sebabnya mereka disebut the lost tribes (suku yang hilang). Bagaimana dengan Yehuda Selatan? Ya, mereka mengalami kesulitan. Akan tetapi atas anugerah Tuhan, mereka dapat bertahan meski dalam keadaan yang sangat jauh dari ideal.
Demikian pula kita. Musibah terjadi untuk menghancurkan kesombongan manusia. Kita yang terbiasa mengandalkan harta, jabatan, koneksi, intelek, dan sebagainya, apa yang terjadi ketika semua itu lenyap? Ketika kita merendahkan hati dan mengakui segala ketidakberadaan kita di hadapan Tuhan, Dia akan menopang kita untuk bertahan. Namun, mereka yang sombong dan menolak merendahkan diri akan habis bersama hal-hal tersebut.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah mengalami malapetaka atau tragedi yang begitu besar, yang melanda banyak orang (misalnya: pandemi, resesi ekonomi, kerusuhan, perang, dll.)? Bagaimana Anda bisa melewati semua itu?
- Apa pelajaran yang Anda peroleh melalui pengalaman mengerikan tersebut?
