Meremehkan Kekudusan Tuhan
Mazmur 78:36-42
Berulang kali mereka mencobai Allah, menyakiti hati Yang Kudus dari Israel. Mereka tidak ingat kepada kekuasaan-Nya, kepada hari Ia membebaskan mereka dari pada lawan.
- Mazmur 78:41-42
Saya pernah bertemu dengan seseorang yang berkata seperti ini, “Saya masih tetap ingin hidup dalam dosa ini. Saya tidak ingin melepaskannya, mungkin satu hari nanti.” Sungguh sangat mengherankan, ia mau tetap ikut Tuhan, tetapi tidak mau melepaskan dosa tertentu karena menikmatinya. Seringkali yang menjadi permasalahan orang Kristen adalah memandang remeh kekudusan Tuhan. Jika kita berpikir kekudusan Tuhan adalah hal yang sepele, kita salah besar.
Itu juga yang terjadi pada kehidupan orang Israel. Mereka berkali-kali memberontak kepada Tuhan, bukan sekali dua kali. Tuhan telah menghukum orang Israel, begitu banyak yang dibinasakan di padang gurun. Tuhan menghajar mereka dengan serius. Ini mungkin terdengar tidak mengenakkan, tetapi ini adalah fakta sejarah, kekudusan Tuhan tidak bisa dipermainkan. Apa yang orang Israel lakukan ketika sudah melihat Tuhan menghukum mereka? Mereka bertobat, tetapi seperti apa pertobatannya?
Ayat 36-37 berbunyi, “Tetapi mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia. Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.” Pertobatan orang Israel adalah pertobatan di mulut saja. Mereka pembohong. Tuhan tahu isi hati mereka, mereka begitu tidak setia kepada Tuhan. Kegagalan orang Israel adalah meremehkan kekudusan Tuhan sehingga seringkali berlaku tidak setia kepada Tuhan. Kekudusan hidup di hadapan Tuhan ini tidak pernah berubah, di Perjanjian Baru pun dikatakan, “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1Ptr. 1:15-16)
Kalau kita hanya mau mengenal Tuhan yang Mahakasih saja, tanpa melihat kekudusan-Nya, kita akan memperlakukan Tuhan semau kita. Kita doyan melakukan dosa, yang penting hasrat terpenuhi, yang penting kita tidak merugikan orang lain. Ajarkan kepada anak-anak kita, kepada generasi yang akan datang akan kekudusan Tuhan. Jangan meremehkannya. Jangan terbiasa mengucapkan sumpah serapah, caci maki, karena kelakuan tersebut juga akan dilakukan anak-anak kita. Dosa adalah dosa, jangan turunkan kadarnya. Ingat, ajarkan juga selalu pengampunan di dalam Tuhan maka pertobatan akan sungguh-sungguh terjadi.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda orang yang suka melanggar kekudusan Tuhan atau tidak?
- Apa yang bisa Anda ajarkan tentang kekudusan Tuhan kepada generasi yang selanjutnya?
