Bagikan artikel ini :

Kesombongan Mengawali Kehancuran

2 Tawarikh 26:1-21

Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
- Amsal 11:2

Sesudah Amazia mati, Uzia (atau Azarya, 2Raj. 15:1-7) yang adalah anaknya, menggantikannya sebagai raja Yehuda. Jika membaca ayat 1-15, mungkin kita menjadi terkagum-kagum dengan segala pencapaiannya. Mungkin kita juga merasa was-was, “Apakah ia akan menjadi raja yang PHP seperti Yoas, kakeknya?” Titik baliknya ada pada ayat 16. Uzia menjadi sombong, kemudian melakukan tugas yang hanya boleh dilakukan oleh imam (Bil. 18:1-7), yaitu memasuki bait Allah untuk membakar ukupan. Karena itu, Tuhan menghukumnya dengan penyakit kusta. Ia kemudian diasingkan sampai akhir hayatnya karena kusta dianggap najis.

“Apa salahnya masuk ke Bait Allah dan membantu membakar ukupan? Ini kan mirip dengan pelayanan di gereja?” Tidak, sama sekali tidak mirip kalau kita mengerti konteksnya. Pada masa itu, raja dari bangsa-bangsa sekitar Yehuda dan Israel dianggap dewa atau titisan dewa oleh rakyatnya. Firaun dari Mesir, misalnya, dianggap sebagai titisan Dewa Horus, anak dari Dewa Ra. Jadi, seorang Firaun bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga pemimpin spiritual yang bertugas menjalankan ibadah. Tuhan tidak menghendaki hal seperti ini terjadi kepada umat-Nya. Oleh sebab itu, Tuhan memisahkan tugas politik kepada raja dan tugas spiritual kepada kaum imam. Dia tidak mau seorang raja menganggap dirinya dewa dan illahillah lainnya. Ketika Uzia dengan sombongnya menjalankan tugas kaum imam, ia sebenarnya meniru Firaun Mesir. Ia ingin dianggap sebagai dewa!

Beberapa di antara kita mungkin membandingkan Uzia dengan raja-raja sebelumnya dan berpikir, tapi dosa Uzia kan tidak merugikan siapa pun? Uzia tidak membawa rakyatnya ke penyembahan berhala, tidak membunuh nabi-nabi, tidak melakukan peperangan konyol, dan sebagainya. Yang menanggung kusta juga dirinya sendiri, bukan orang lain. Memang, dosa kesombongan adalah dosa yang paling tidak kelihatan dan tidak serta-merta merugikan orang lain. Itulah sebabnya sangat mudah seseorang jatuh dalam kesombongan karena yang tahu hanya Anda dan Tuhan. Siapa yang tahu bahwa Anda berpikir, kalau tidak ada aku, gereja ini tidak akan jalan. Kenyataannya, Tuhan tidak butuh kita. Justru hanya karena belas kasihan Tuhan, kita dapat melayani-Nya.

Meski tidak merugikan orang lain, meski tidak kelihatan, dosa adalah dosa. Hati-hati dengan kesombongan!


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda pernah jatuh ke dalam dosa kesombongan? Dalam hal apa? Mengapa Anda merasa atau berpikir demikian?
  • Apa langkah-langkah konkret yang bisa Anda lakukan untuk menjaga diri Anda dari dosa kesombongan?