Bagikan artikel ini :

Yesus Terlalu Berharga

Daniel 3

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.
- Daniel 3:17-18

Hidup di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang bukan perkara mudah. Tidak jarang kita sebagai orang percaya diperhadapkan dengan kondisi sulit yang memaksa kita mengambil pilihan dilematis: ikut dunia atau ikut Tuhan. Jika memilih ikut dunia, kita tidak merasakan damai sejahtera karena bertentangan dengan hati nurani. Sebaliknya, jika ikut Tuhan, kita takut keputusan tersebut berdampak buruk pada kehidupan kita.

Dari realitas ini, lahir sebuah pertanyaan: Apakah mengikut Tuhan berarti harus mengorbankan segala sesuatu? Jawabannya, tergantung! Tergantung apakah kita menganggap Tuhan sebagai yang terpenting dalam hidup atau tidak. Jujur saja, ada banyak hal dalam hidup yang bisa menggerakkan seseorang untuk berkorban. Contohnya di dalam keluarga, banyak orangtua demi anak, rela mengorbankan harta benda, bahkan mungkin nyawa. Di dunia pekerjaan, banyak orang rela ambil cuti, buang banyak waktu, bayar harga mahal, demi menjalankan hobi. Atau demi karier mengorbankan kesehatan, keluarga, dan relasi. Kita rela berkorban bagi apa yang kita anggap berharga melampaui diri kita. Karena itu, jawaban atas pertanyaan di atas haruslah dijawab oleh diri kita sendiri: Seberapa besar kita menganggap Tuhan berharga?

Sikap ini kita jumpai dalam kisah di Daniel 3. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego melihat Allah jauh lebih berharga daripada karier, kenyamanan, bahkan hidup mereka. Mereka lebih rela kehilangan semuanya daripada harus mengkhianati Allah yang sudah begitu setia dalam kehidupan mereka. Mereka sampai berkata, “Kami yakin Allah mampu menyelamatkan, tetapi jika tidak kami pun tidak akan mengkhianati Allah.” Kesaksian iman yang sama secara konsisten diceritakan di dalam Alkitab oleh para tokoh iman (Ibr. 11). Ini menjadi bukti bahwa iman kepada Tuhan mampu menyelamatkan mereka yang mengikut dengan sungguh.

Saat kita mengambil keputusan untuk setia kepada Tuhan Yesus Kristus, kita sedang memercayakan hidup kita dengan iman kepada-Nya. Yesus lebih berharga dibandingkan apa pun yang kita kejar di dunia ini. Miliki iman yang teguh, jadikan Yesus yang utama.


Refleksi Diri:

  • Apakah Allah sudah menjadi yang paling berharga dalam hidup Anda?
  • Bagaimana Anda ingin mengatur kembali prioritas hidup Anda sehingga Yesus menjadi yang utama?