Bagikan artikel ini :

Ganti Raja, Tidak Ganti Dinasti

2 Tawarikh 33:21-25

jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.
- 2 Timotius 2:13

Entah berapa banyak kudeta dan revolusi terjadi sepanjang sejarah dunia. Ketika kudeta terjadi, sang raja akan digulingkan dan digantikan oleh orang lain dari garis keturunan yang berbeda, menandakan pergantian dinasti. Dalam kasus-kasus khusus, seperti misalnya Revolusi Prancis (1789-1799), tidak hanya raja dan dinasti yang berganti, tetapi juga sistem pemerintahan monarki yang digantikan oleh sistem pemerintahan republik demokratik.

Di bagian ini, kita melihat bagaimana Amon, anak Manasye, dikudeta bahkan dibunuh oleh para pegawainya (ay. 24). Amon berbeda dengan ayahnya, seorang raja yang jahat dan tidak mau bertobat, sampai akhirnya dikudeta (ay. 22-23). Dalam kudeta tersebut, biasanya yang menggantikan raja adalah seseorang dari garis keturunan yang lain. Dengan kata lain, terjadi pergantian dinasti. Di kerajaan Israel Utara, misalnya, seringnya kudeta menimbulkan seringnya pergantian dinasti. Namun, di kisah ini kita melihat kudeta yang menghasilkan pergantian raja, tetapi tidak berganti dinasti. Rakyat akhirnya membunuh pegawai-pegawai yang mengkudeta tersebut dan mengangkat Yosia, anak Amon, menjadi raja (ay. 25). Dengan kata lain, meskipun rajanya berganti, tetapi dinastinya tetap, yakni dinasti Daud.

Sampai kejatuhan Kerajaan Yehuda Selatan di tahun 586 (atau 587) SM, dinasti Daud tidak pernah tergantikan. Ini sesuai dengan janji Tuhan kepada Daud bahwa “keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku” (2Sam. 7:16). Bahkan, ketika Tuhan Yesus datang, Dia lahir sebagai keturunan Daud. Itulah sebabnya Yesus disebut “Anak Daud” (Mat. 15:22, 20:30, Mrk. 10:48, dst.). Demikianlah Tuhan mengokohkan kerajaan Daud selama-lamanya.

Aneh, bukan? Sebagaimana kita telah melihat, keturunan Daud jatuh dan bangun dalam dosa. Daud sendiri juga jatuh dan bangun dalam dosa. Jadi, mengapa Tuhan tidak pernah membuang dinasti Daud, meskipun Dia mengizinkan kudeta terjadi? Karena Tuhan setia pada janji-janji-Nya. Ya, keturunan Daud bahkan Daud sendiri boleh tidak setia, tetapi Tuhan akan tetap setia. Itulah sebabnya atribut Tuhan yang paling ditekankan di seluruh Perjanjian Lama adalah kasih setia, sampai-sampai keseluruhan Mazmur 136 didedikasikan untuk atribut ini.

Itulah Tuhan kita. Kita pun seringkali menyakiti hati-Nya. Namun, Dia adalah Allah yang setia dan tidak pernah meninggalkan kita.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana kisah mengenai kesetiaan Tuhan kepada dinasti Daud seharusnya memperkuat iman Anda? 
  • Apakah Anda pernah merasakan atau mengalami kasih setia Tuhan dalam hidup Anda? Cobalah mengingat kembali pengalaman tersebut dan syukuri anugerah-Nya.