Bagikan artikel ini :

Apa Yang Bisa Kita Perbuat Bagi Indonesia?

Amsal 14:32-35

Kebenaran (tsedaqah) meninggikan (tarowmem) derajat bangsa (goy), tetapi dosa adalah noda bangsa.
- Amsal 14:34

Menjelang peringatan HUT Republik Indonesia ke-81, sebaiknya kita merenungkan, apa yang seharusnya dapat kita lakukan sebagai bagian dari bangsa dan negara ini? Kita mungkin berpikir, pribadi kita terlalu kecil pengaruhnya dibandingkan 270 juta penduduk Indonesia. Sepertinya tidak akan banyak berpengaruh. Namun, mari kita ingat tentang ragi dan garam. Ragi meskipun hanya sejumput, tetapi dapat mengembangkan seluruh adonan roti. Garam meskipun hanya sesendok teh, tetapi dapat memberi rasa sepanci sup.

Konkretnya, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Dari mana kita bisa memulainya? Firman Tuhan mengajak kita tekun hidup dalam kebenaran sebab kebenaran akan meninggikan derajat bangsa kita. Pengaruh berantai dari hidup dalam kebenaran akan menjadikan kita garam dan terang bagi dunia.

Kata kunci ayat emas adalah tsedaqah artinya kebenaran, keadilan yang berasal dari Tuhan (His righteousness). Kata kunci lainnya adaah tarowmem artinya ditinggikan (to be high) dan kata goy artinya bangsa (the nation). Jadi, rangkaian kata-kata di ayat emas tersebut bisa diartikan kebenaran Allah akan menjadikan suatu bangsa ditinggikan. Konteksnya berbicara tentang hikmat yang membawa hidup dalam kebenaran dan di luar hikmat dari Allah akan hidup jauh dari kebenaran.

Kebenaran dapat dipahami sebagai keadilan, kejujuran, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Ketika setiap pribadi dari sebuah bangsa atau komunitas menjunjung tinggi kebenaran, hal itu akan membawa berkat, kesejahteraan, dan kehormatan bagi bangsa tersebut. Sebaliknya, ketika dosa menguasai, seperti misalnya ketidakadilan, korupsi, dan ketidakjujuran merajalela, hal itu akan mencemarkan bangsa tersebut dan menyebabkan kehancuran moral sebuah komunitas sosial.

Tidak mudah untuk melakukan kebenaran, bukan? Karena di kiri-kanan kita sudah terbiasa hidup jauh dari kebenaran. Kiri-kanan kita akan menolak jadi teman kita. Kiri-kanan kita sudah terbiasa menikmati hidup dalam kebebalan, hidup jauh dari hikmat, apalagi hikmat Tuhan. Sobat terkasih, mulailah dari diri kita sendiri, bukannya menuntut orang lain. Berdoa syafaat selalu untuk masa depan Indonesia. Saat kita menjadi pelaku firman dan kebenaran, kita akan beroleh hikmat untuk mengambil keputusan sehari lepas sehari, di mana pun Tuhan sedang tempatkan kita.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda sudah melakukan kebenaran yang sesuai nilai Kristiani dalam keseharian Anda?
  • Apa peran yang bisa Anda ambil dan lakukan yang bisa membawa pengaruh bagi Indonesia?