Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu
2 Raja-raja 18:26-37
Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.
- Amsal 26:4
Kita telah melihat bagaimana juru minum Sanherib telah menuduh Hizkia dengan segala omong kosongnya. Menanggapi tuduhan ini utusan Hizkia tidak bisa sembarangan membantah. Sebab, mereka berhadapan dengan lawan yang kuat. Dengan satu komando, juru minum itu akan mengerahkan segenap pasukan Asyur jika mereka berani melawan. Jadi, ketiga utusan Hizkia memohon dengan sangat agar juru minum setidaknya berbicara dengan bahasa aslinya saja dan bukan dengan bahasa Yehuda. Mereka tidak mau rakyat sampai mendengar fitnahan si juru minum yang tidak berdasar, kemudian menjadi patah semangat (ay. 26).
Namun, bukannya berhenti, tingkah juru minum makin menjadi-jadi. Ia malah dengan suara keras menista Tuhan. Ia menyamakan Tuhan dengan dewa-dewa bangsa asing yang telah dimusnahkan Asyur, kemudian mematahkan semangat orang-orang Israel dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak akan sanggup membebaskan mereka dari Asyur (ay. 33-35). Ia menghasut mereka untuk melawan Hizkia dan bergabung dengan Sanherib (ay. 29-32).
Syukurlah, rakyat tidak menjawab orang itu (ay. 36). Bisa jadi karena mereka takut sehingga tidak berani membalas. Namun, alasan terutama mengapa mereka tidak menjawab adalah karena mereka tahu Tuhan tidak perlu dibela. Dia sendiri yang akan menyatakan kekuasaan-Nya terhadap orang yang berani menista-Nya. Bukti bahwa rakyat Yehuda masih beriman kepada Tuhan adalah mereka masih menaati raja mereka, Hizkia (ay. 36). Mereka masih percaya Tuhan akan bekerja melalui Hizkia untuk mengalahkan pasukan Asyur yang besar itu.
Ada sebuah pepatah terkenal berbunyi: Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Pepatah ini tepat menggambarkan juru minum Sanherib dan rakyat Yehuda. Perkataan-perkataan negatif yang isinya hanya mematahkan semangat dan iman, apalagi sampai menista Tuhan, tidak perlu ditanggapi. Sayangnya, seringkali kita tidak memiliki hikmat seperti ini. Kita merasa perlu menanggapi segala makian, yang justru akan membuat kita sama bodohnya dengan orang tersebut. Lebih parah lagi jika hal ini kita lakukan atas nama “bela agama” terhadap orang-orang yang menghina kekristenan. Memangnya Tuhan kita yang Mahakuasa perlu dibela?
Jangan buang-buang waktu dan energi untuk menanggapi perkataan yang tidak penting. Lebih baik pakai waktu dan energi Anda untuk mendoakan orang tersebut.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah dimaki seseorang? Atau, apakah Anda pernah mendengar iman kepercayaan Anda diejek oleh orang lain? Bagaimana Anda meresponinya?
- Mengapa kita tidak perlu menjawab perkataan-perkataan tersebut?
