Bagikan artikel ini :

Tidak Ada Sekolah Khusus Untuk Menjadi Orang Tua

Banyak orang menikah dengan asumsi bahwa menjadi orang tua adalah satu paket yang harus mereka jalani meskipun minim persiapan, bahkan tanpa persiapan. Akhirnya perjalanan “Parenting Tanpa Persiapan” menjadi perjalanan seumur hidup dengan banyak proses jatuh, belajar, dan menyesal.

Satu-satunya pengalaman mendidik anak yang kebanyakan orang miliki ketika menjadi orang tua baru adalah pengalaman ketika menjadi seorang anak dan merasakan didikan dari orang tua mereka di masa lalu. Jika pengalaman parenting tersebut baik, maka hal tersebut menjadi sebuah bekal yang sangat berharga. Namun, jika pengalaman tersebut buruk, maka pengalaman tersebut berpotensi untuk merusak keluarga yang dibangun.

“POLA ASUH” yang salah di masa lalu jika tidak disadari, dievaluasi, dan ditinggalkan kemungkinan akan kembali terulang. Contoh: Seorang yang dibesarkan dengan “Pola Asuh Otoriter” (Strict Parenting) kemungkinan bisa menerapkan pola asuh yang sama kepada anaknya atau menerapkan pola asuh kebalikan yaitu “Pola Asuh Permisif” (Permissive Parenting) yang sangat longgar, tanpa aturan dan menghindari konfrontasi dengan anak; keduanya sama-sama tidak tepat dan berdampak negatif.

Alkitab mencatat Adonia adalah hasil dari Pola Asuh yang salah (1 Raja 1:5-6). Selama ia hidup tidak pernah satu kali pun ia ditegur dan didisiplin oleh Ayahnya, Daud. Hal ini menandakan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh Daud adalah pola asuh permisif, dimana Daud menghindari konfrontasi dengan anak-anaknya, bahkan terlalu longgar dan membiarkan anaknya bertindak sesuai keinginan mereka masing-masing. Inilah faktor utama yang menyebabkan Adonia menjadi sosok yang sangat ambisius dan haus akan kekuasaan.

Daud mungkin dikenal sebagai Raja Israel yang berhasil. Tetapi disisi lain ia juga dikenal sebagai seorang ayah yang gagal mendidik anak-anaknya. Sebut saja contohnya, Amnon yang memperkosa Tamar - saudara tirinya, Absalom yang membunuh Amnon dan berusaha menggulingkan Daud, Adonia yang memproklamirkan dirinya sendiri sebagai raja baru mendahului rencana suksesi.

Kenapa ini bisa terjadi? Semua karena iman yang tidak diwariskan dirumah oleh Daud kepada anak-anaknya. Ia disebut raja yang diperkenan Tuhan, namun sayang ia tidak mendidik semua anak-anaknya dengan sungguh-sungguh untuk takut akan Tuhan. Ia membiarkan anak-anaknya hidup sesuai keinginan mereka sendiri dan menerapkan pola asuh yang permisif. Bahkan pengharapan dan iman kepada Tuhan yang menjadi kekhasan Daud pun tidak ia wariskan kepada anak-anaknya, ia hanya mewariskan harta dan hidup yang mapan untuk anak-anaknya, sungguh sangat disayangkan.

Ingat, warisan terbesar seorang Kristen kepada anak-anaknya bukanlah harta, tetapi teladan iman dan takut akan Tuhan. Tanpa itu semua, kekayaan dan kuasa ditangan generasi penurus akan menjadi bumerang yang merusak mereka di masa depan. Itulah mengapa jangan sampai kita lalai menerapkan prinsip relasi dalam keluarga seperti yang tercatat dalam Efesus 6:1-4 (baca ulang dengan seksama).

Marilah kita menjaga agar rumah kita menjadi tempat pertama dasar-dasar iman dibangun dengan kokoh agar dimanapun anggota keluarga kita berada mereka tetap menjadi saluran berkat dan memuliakan Tuhan dalam hidup mereka. Inilah keberhasilan yang sangat layak diperjuangkan setiap orang Kristen.

Beberapa pertanyaan berikut dapat menjadi evaluasi bagi kita untuk melihat bagaimana kita membangun dasar-dasar iman keluarga.

  1. Apakah firman Tuhan dibicarakan dan diajarakan dengan sengaja dan rutin dirumah Anda (selain hari minggu)? Jika iya, seberapa rutin dan mengapa? Jika tidak, mengapa?
  2. Menurut Anda, seberapa penting mezbah keluarga diadakan di rumah dari skala 1 sampai 4? Jelaskan alasannya! (1 = Tidak Penting, 2 = Cukup Penting, 3 = Penting, 4 = Sangat Penting).

Komitmen dan perubahan kecil apa yang akan Anda ambil untuk membangun iman di rumah Anda? **ES