The Unnamed Believers: Misi Allah Melalui Orang-Orang Biasa
Kita mengenal tokoh-tokoh besar dalam Alkitab terutama Kitab Perjanjian Baru seperti Rasul Petrus dan Rasul Paulus. Atau tokoh-tokoh reformator seperti Martin Luther (1483-1546) di Jerman, John Calvin (1509-1564) di Jenewa, Ulrich Zwingli (1484-1531) di Swiss (Zurich). Banyak orang berpikir – mungkin kita juga, bahwa kegerakan besar Allah hanya terjadi melalui para pemimpin yang ditahbiskan atau mereka yang memiliki gelar khusus.
Jika kita memperhatikan kejadian yang dicatat dalam Kitab Kisah Para Rasul 11:19-26, secara khusus ayat 19-20, membukakan perspektif baru dalam pemberitaan Injil dengan jangkauan yang lebih luas. Suatu momen di mana Injil menyeberang dari komunitas Yahudi kepada bangsa-bangsa lain (gentiles) justru tidak dipimpin oleh para rasul dari Yerusalem. Misi itu dipimpin oleh sekelompok orang yang Alkitab bahkan tidak mencatat namanya. Mereka adalah The Unnamed Believers, pahlawan tanpa nama yang mengubah wajah dunia.
Dihambat tetapi Merambat
Kisah dimulai dengan latar tantangan penganiayaan. “Sementara itu mereka yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati” (ayat 19). Gereja sedang dalam tekanan. Kematian Stefanus memicu gelombang penganiayaan yang memaksa jemaat lari meninggalkan Yerusalem.
Secara manusiawi, ini adalah kemunduran. Namun kedaulatan Allah terjadi, penganiayaan ternyata adalah strategi penyebaran cerita tentang Yesus. Seperti benih yang diterbangkan angin badai, jemaat yang tersebar itu membawa “benih” Injil ke tempat-tempat baru, ke Fenisia, Siprus, hingga ke Antiokhia. Awalnya, mereka hanya memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja karena kendala budaya dan tradisi yang kuat.
Tekanan Kesulitan Mendatangkan Kesempatan
Di tengah arus pengungsi tersebut, muncul sekelompok orang yang berbeda. Alkitab mencatat di ayat 20, “Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dengan memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus.”
Siapakah mereka? Kita tidak tahu nama mereka. Bukan Petrus, bukan Yakobus, bukan Yohanes. Mereka hanyalah orang percaya biasa – mungkin pedagang, budak, atau perantau dari Siprus dan Kirene. Tidak menerima penugasan dan pengutusan seperti seorang Rasul. Namun, mereka memiliki kepekaan misi yang luar biasa, dalam catatan beberapa teolog, mereka disebut orang Yahudi Diaspora.
Ketika orang lain membatasi Injil hanya untuk kalangan sendiri (Yahudi), orang-orang tanpa nama ini melihat bahwa kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus juga tersedia bagi orang-orang Yunani (bangsa asing). Mereka adalah misionaris lintas budaya pertama yang “liar”, tidak ada lembaga pengutus dan tidak diutus resmi oleh institusi pusat di Yerusalem, namun inisiatif mereka membuka pintu bagi misi global.
Validasi Ilahi: Tangan Tuhan
Apa hasil dari inisiatif “orang-orang biasa” ini? Apakah mereka gagal karena tidak punya pengakuan dan keabsahan rasuli? Ayat 21 memberikan jawaban telak, “Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.”
Kunci keberhasilan misi bukanlah nama besar si pembawa pesan melainkan penyertaan Sang “Isi Pesan” itu sendiri, yaitu Allah yang berkuasa. Frasa “Tangan Tuhan” menunjukkan kuasa, persetujuan, dan intervensi Allah. Allah memvalidasi pelayanan orang-orang biasa ini dengan tuaian jiwa yang besar. Ini mengajarkan kita bahwa Allah tidak bergantung pada “nama besar” dan ketenaran kita, tetapi pada “siapa” yang bersedia dipakai.
Dari Anonim Menjadi Kristen
Kabar keberhasilan di Antiokhia akhirnya sampai ke Yerusalem. Gereja pusat mengutus Barnabas untuk menyelidiki. Reaksi Barnabas sangat menarik. Ia tidak datang untuk mengambil alih atau mengkritik karena mereka melanggar protokol (memberitakan Injil pada non-Yahudi). Sebaliknya ia “melihat kasih karunia Allah” dan bersukacita (ayat 23).
Di Antiokhia inilah, melalui pelayanan orang-orang tanpa nama yang kemudian dibina oleh Barnabas dan Saulus (Paulus), identitas baru lahir. Perikop ini ditutup dengan catatan historis yang monumental, “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (ayat 26).
Dunia melihat sesuatu yang berbeda dari komunitas ini. Gaya hidup mereka, kasih mereka, dan berita yang mereka bawa begitu identik dengan Kristus, sehingga masyarakat menjuluki mereka Christianos (pengikut Kristus atau Kristus kecil). Julukan ini lahir bukan di Yerusalem tetapi di ladang misi yang digarap oleh orang-orang biasa.
Penutup
Kisah di Antiokhia adalah cermin bagi kita hari ini. Sering kali kita merasa tidak layak melayani Tuhan karena merasa “hanya orang biasa”. Kita berpikir misi adalah tugas pendeta atau penginjil penuh waktu. The Unnamed Believers membuktikan sebaliknya.
Allah mencari orang-orang biasa yang bersedia taat di tengah krisis, yang berani menembus batas kenyamanan untuk menceritakan tentang Yesus. Nama Anda mungkin tidak akan tercatat dalam buku sejarah gereja, sama seperti orang-orang Siprus dan Kirene itu. Namun, jika “Tangan Tuhan” menyertai Anda, dampak dari ketaatan Anda akan bergema hingga kekekalan.
Misi Allah masih berjalan dan Allah masih mencari orang-orang biasa untuk melakukan hal-hal luar biasa. Apakah Anda bersedia? ** JK
