Bagikan artikel ini :

The Problem of Me-Christianity

Hari ini ketika kita berbicara soal iman, spiritualitas, dan relasi dengan Tuhan maka yang pertama terlintas di kepala kita adalah ini urusan pribadi setiap orang kepada Tuhan. Bahwa masing-masing kita bertanggung jawab memastikan bahwa kita sudah sungguh percaya kepada Tuhan, sudah membangun relasi pribadi dengan-Nya, dan sudah dengan sungguh menghidupi ajaran Tuhan dalam keseharian kita. Rasanya hampir semua orang meyakini demikian, bahwa bagian terpenting dari kehidupan orang Kristen adalah respons pribadi kita kepada-Nya.

 

Sekalipun baik dan benar bahwa kita perlu sungguh-sungguh memperhatikan respons kita secara pribadi kepada Tuhan, namun ternyata ada masalah besar dibalik penekanan berlebih dalam individualisasi iman kepada Tuhan. Masalah pertama yang mudah terlihat hari ini banyak orang yang pada akhirnya merasa nyaman dan baik-baik saja untuk beribadah hanya secara online dan tidak lagi menghadiri ibadah secara fisik. Bagi pribadi yang demikian ibadah online tersedia bukan sebagai pilihan ketika ibadah fisik tidak memungkinkan, seperti saat pandemi ataupun saat sakit, ibadah online kini menjadi sarana utamanya beribadah. Karena penekanan bahwa yang terpenting dari iman adalah relasi dengan Tuhan, selama yang bersangkutan merasa imannya bertumbuh dan relasinya baik-baik saja dengan Tuhan selama mengikuti ibadah online maka tidak ada masalah. Hari ini hampir seluruh gereja menyediakan layanan ibadah daring, banyaknya pilihan ini membuka peluang seorang menemukan gaya pujian dan penyampaian firman yang sesuai dengan keadaan dirinya, seorang Kristen sangat bisa menemukan gereja yang cocok baginya via daring, jarak tidak lagi menjadi pembatas. Hal ini menyebabkan bahaya besar bagi orang Kristen, banyak orang Kristen terisolasi dari komunitas iman, bahkan lebih parahnya ada yang merasa bahwa komunitas tidak diperlukan dalam kehidupan beriman.

 

Masalah kedua, yang lebih fatal, jika kita melakukan survei kepada keseluruhan Alkitab dan sejarah pemikiran Kristen, maka kita melihat bahwa Allah adalah Allah yang berjanji, berelasi, dan menyingkapkan diri kepada umat, dan bukan sebatas pada individu. Percakapan tentang iman dan relasi dengan Tuhan dalam Alkitab bahkan sepanjang sejarah gereja tidak berhenti pada pengakuan iman dan relasi personal dengan Tuhan, tapi terutama bicara soal kehidupan komunitas umat Allah. Allah pertama-tama memilih dan mengadakan perjanjian dengan satu bangsa yakni umat Israel, dan menjadikan mereka sebagai umat kepunyaan-Nya. Janji, dan penyingkapan yang Allah berikan berlaku kepada umat. Kalaupun ada kesempatan dimana Allah berbicara, berelasi, dan berjanji kepada seorang individu, seperti Abraham dan Daud, pada akhirnya individu tersebut adalah orang yang dipakai dan dipilih Allah untuk membawa misi-Nya bagi umat-Nya. Demikian halnya dalam Perjanjian Baru, Yesus memilih masing-masing individu murid, lalu membangun komunitas muridNya melalui mereka. Paulus menulis surat pertama-tama pada gereja yang adalah komunitas umat Allah, adapun Paulus menulis surat pada individu mereka adalah para pemimpin umat pada masanya.

 

Pergeseran penghayatan iman dari komunitas menjadi semakin individualis dimulai sejak abad pertengahan dengan munculnya pergerakan devosi pribadi yang diprakarsai tokoh seperti Thomas A. Kempis. Pergerakan ini menggeser perlahan fokus penghayatan iman dari komunal menjadi evaluasi diri akan dosa, dan juga kesalehan pribadi. Pergeseran ini makin diperparah dan diakselerasi pada abad pencerahan oleh tokoh seperti Rene Descartes, Immanuel Kant, dan John Locke lewat penekanan filsafat yang memfokuskan pencarian kebenaran yang berpusat pada diri. Sebagaimana Descartes sendiri berkata, “aku berpikir maka aku ada.”

 

N. T. Wright seorang ahli Perjanjian Baru menyoroti pergeseran serupa dalam Teologi. Ia melihat hari ini kita cenderung membaca surat-surat Rasul Paulus dari kacamata yang sangat individualistis. Padahal fokus utama Injil adalah Allah yang membentuk sebuah perjanjian baru dengan sebuah komunitas atau umat atau keluarga multi etnis di bawah Yesus Kristus sebagai Tuhan mereka. **DK