Bagikan artikel ini :

The Mission You Keep Avoiding

Banyak orang percaya merasa nyaman ketika berbicara tentang misi di tempat jauh, konteks ekstrem, atau panggilan khusus. Namun ketika misi itu menyentuh keluarga, pasangan, anak, sahabat, rekan kerja, atau relasi bisnis, kita mulai ragu, diam, dan menunda. Alasannya terdengar masuk akal, menjaga relasi, menghindari konflik, takut disalahpahami, atau merasa belum siap. Tanpa disadari, Injil tidak ditolak secara terbuka, tetapi dibungkam demi kenyamanan pribadi.

Di dalam Injil Lukas 17:31–33, Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang bahaya menoleh ke belakang. Tuhan Yesus merujuk pada istri Lot - bukan sebagai contoh ketidakpercayaan intelektual, tetapi keterikatan hati yang membuat seseorang tidak mampu melangkah maju. Tuhan Yesus menegaskan prinsip yang radikal, siapa yang berusaha mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa yang kehilangan nyawanya akan memeliharanya.

Injil menyingkapkan kepada kita bahwa masalah terbesar hari ini bukanlah kurangnya kesempatan bagi orang percaya untuk bersaksi, melainkan keterikatan dan ketakutan yang menahan ketaatan untuk memberitakan Injil.

Banyak orang Kristen tahu kebenaran bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan dan keselamatan dan hidup. Tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan di luar Kristus. Namun, meskipun mereka tahu dan percaya akan kebenaran ini, mereka tetap tidak mau memberitakan Injil, sebab yang mereka pikirkan hanyalah “yang penting saya selamat”.

Bukankah sengaja tidak mau memberitakan Injil adalah sebuah respons paling egois dari orang yang menyebut diri mereka Kristen dan percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan dan keselamatan dan hidup?

Kita harus melihat ke dalam diri kita secara jujur, apakah selama ini kenyamanan kita yang sementara di dunia lebih penting dari keselamatan kekal orang-orang di sekitar kita? Jika ia, maka kita perlu bertobat. Jangan sampai keterikatan kita pada zona nyaman akhirnya membungkam Injil dan melenyapkan keberanian untuk taat memberitakan Injil. Sebaliknya, kita harus dengan setia memberitakan Injil, pertama-tama kepada orang-orang terdekat kita meskipun ada harga yang harus dibayar.

Mengikut Kristus selalu menuntut pilihan untuk taat, seringkali ketaatan itu berarti siap untuk kehilangan. Kehilangan yang sangat mungkin kita hadapi saat taat memberitakan Injil adalah kehilangan zona nyaman yang kita selama ini kita nikmati ketika tidak memberitakan Injil. Misal, tidak disalahmengerti, tidak harus menjawab pertanyaan orang-orang seputar iman Kristen, tidak menganggu relasi, dan sebagainya. Namun, apalah arti kenyamanan sementara itu dibandingkan keselamatan kekal dari orang-orang yang kita kasihi yang ada di sekitar kita? Lebih baik ditolak karena memberitakan Injil daripada menolak memberitakan Injil.

Mari secara reflektif merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini. (1) Pernakah kita memberitakan Injil? Mengapa kita memberitakan Injil? (2) Apakah yang menjadi kendala terbesar kita dalam pemberitaan Injil? (3) Siapakah keluarga atau teman yang tahun ini kita doakan dan beritakan Injil? ** ES