Bagikan artikel ini :

The Freedom of Self-Forgetfulness (Kebebasan untuk Melupakan Diri)

Timothy Keller dalam bukunya, The Freedom of Self-Forgetfulness menyatakan bahwa dunia modern hari ini mengajarkan bahwa untuk memperoleh kebebasan, seseorang harus mengekpresikan dirinya sesuka hati (self-expression). Terlihat benar karena fokusnya pada individu, tetapi pola kehidupan ini sebetulnya jika dilakukan akan membelenggu. Ini kondisi yang Keller sebutkan sebagai sebuah hidup dalam cengkraman tirani ego (tyranny of ego).

Tirani ego ini manifetasi dasarnya adalah perasaan tinggi hati, dan bahkan ketika ia terlihat merendah itu adalah sebuah kesombongan yang terselubung demi diri dipuja. “Ya, memang saya lebih rendah hati dari dia.” Kondisi ini jika dihidupi terus-menerus maka akan menyebabkan perasaan gelisah, tidak aman, dan ketidakdamaian. Intinya pola kehidupan ini adalah sebuah pola kehidupan yang berangkat pada titik awal dan akhir di mana diri yang dimuliakan, dan acap kali sekalipun ia beragama, ia tidak melibatkan Tuhan sebab, Tuhan hanya menjadi tempelan hidup dan bukan keseluruhan hidup.

Pola kehidupan ini berbahaya, dan orang percaya pun tidak imun dari persoalan ini. Maka merespons terhadap masalah ini, Keller menyarankan sebuah rahasia untuk mendapat kebebasan sejati, yaitu dengan melupakan diri. Apa maksudnya melupakan diri? Apakah kita harus mengubah nama kita, atau kita berpaling dari pekerjaan kita, atau kita bahkan coba pergi mencari sebuah alat untuk lupa ingatan seperti cerita yang digambarkan oleh film Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang diperankan oleh Jim Carrey? Tentu tidaklah demikian. Kebebasan melupakan diri adalah suatu kondisi sebab-akibat karena Kristus yang merubah, dan bukan karena usaha diri. Ini adalah suatu hidup dan kehidupan yang dimulai bukan dengan dasar pengejaran untuk mendapat afrmasi diri (performance-veredict), tetapi kehidupan yang berangkat dari afirmasi yang diperoleh Kristus dan berespons dengan mengejar kehidupan ilahi yang melampaui aktualisasi diri ataupun pemegahan diri (veredict-performance). Tirani ego dimulai dengan kondisi, “saya berharga karna saya mencapai sesuatu demi diri.” Sebaliknya, hidup yang melupakan diri dimulai dengan kondisi bahwa “saya pendosa yang dikasihi Kristus yang berharga, maka saya mau hidup bagi Dia.”

Dengan kata lain, kehidupan yang bebas adalah kehidupan dimana bukan diri kita lagi yang bertahta tetapi Kristus. Alkitab dengan jelas menyatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal. 2:20)

Inilah paradoksnya. Bagi yang merasa bebas melakukan hidup sesuka hati mereka, mereka terlihat bebas tetapi terbelenggu. Sedangkan mereka yang menyadari kasih Kristus dan rindu hidup bagi Kristus, terlihat terbelenggu tetapi mereka justru paling bebas. Mengapa? Karena mereka sedang menghidupi hidup yang sejalan dengan tujuan mereka dicipta. Ikan paling bebas adalah ketika ia berada dalam air dan bukan di luar air. Kereta api paling bebas adalah ketika ia tetap berada dalam rel, bukan di luar rel. Apabila kita telah menyadari bahwa hidup kita adalah bagi, untuk, dan kepada Kristus yang mengasihi kita, disitulah kebebasan sejati dimana kita sedang meninggalkan manusia lama kita dan menghidupi manusia baru kita.

Keller katakan, “karena Kristus mengasihi aku dan menerima aku, aku tidak perlu melakukan hal-hal hanya untuk membangun resume-ku. Aku tidak perlu melakukan sesuatu agar terlihat baik. Aku dapat melakukan hal-hal semata-mata karena sukacita dalam melakukannya. Aku dapat menolong orang lain demi menolong mereka – bukan agar aku merasa lebih baik tentang diriku sendiri, bukan pula untuk mengisi kekosongan batin.” Mari kita bersama hidup dengan berfokus pada Kristus bukan diri kita sendiri. Disitulah sumber kebebasan, kedamaian, dan kepenuhan sejati! **YCT

Pertanyaan Refleksi:

  • Jika Kristus benar-benar bertahta dalam hidup Anda, bagian diri lama apa yang hari ini harus Anda lepaskan agar Anda dapat mengalami kebebasan sejati? Renungkan.
  • Apakah saya lebih sering mencari afirmasi dari manusia daripada beristirahat dalam afirmasi Kristus atas diri saya? Apa motivasi terdalam di balik pelayanan, pekerjaan, dan relasi saya hari ini? Refleksikan dan bawa dalam doa.