Bagikan artikel ini :

The Courage to Believe: Standing Firm in a Fragile World

Anda pasti pernah melihat sebuah sticker merah dengan gambar gelas retak ditengahnya. Ya itu adalah sticker “fragile”. Bayangkan suatu pagi Anda bangun dan mendapati semua hal yang selama ini menjadi sandaran hidup Anda tertempel sticker ini “fragile”.

Begitulah sebenarnya realitas kehidupan manusia. Sandaran hidup kita sangat “fragile”. Pekerjaan bisa hilang. Tubuh bisa sakit dan melemah. Uang bisa menyusut. Relasi bisa retak. Rencana-rencana akan masa depan bisa runtuh dalam sekejap mata. Masalahnya kita sering menjalani hidup seolah-olah semua sandaran hidup itu kokoh. Padahal sebenarnya kita sedang membangun rasa aman di atas materi-materi yang rapuh.

Sebagai orang percaya, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah “Jika semua sandaran hidup kita retak dan hancur, apakah iman kita kepada Tuhan masih akan tetap utuh bertahan?”

Habakuk (3:17-19) menolong kita untuk menjawab pertanyaan ini dengan berbeda. Pertama-tama ia mengajak kita untuk sadar akan realitas kerapuhan hidup yang tidak bisa kita hindari. Bayangkan pohon ara yang tidak berbunga, kebun anggur yang tidak menghasilkan buah, pohon zaitun yang berguguran, ladang yang tidak menghasilkan makanan, kandang-kandang menjadi kosong. Ini bukan sekadar musim yang buruk. Ayat-ayat ini merupakan gambaran ketika seluruh sistem penopang hidup berhenti bekerja.

Kegagalan, konflik, kehilangan, dan kematian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dunia yang telah jatuh akibat dosa. Suka tidak suka, cepat atau lambat kita akan mengalami salah satu atau bahkan sebagian besar dari pergumulan-pergumulan ini. Dosa telah merusak hubungan manusia dengan diri, sesama, alam, bahkan Allah. Kehidupan kita telah bergeser dari pusatnya sehingga relasi-relasi lain ikut keluar dari keteraturannya. Kita senantiasa hidup dalam ketidakharmonisan dan keadaan ini memperparah kerapuhan dunia.

Menariknya, ditengah kehancuran ini, Habakuk mengucapkan satu kata yang tidak boleh hilang dari hidup kita. “NAMUN”. Kata namun ini adalah buah dari fokus iman yang benar. Meskipun keadaan tidak segera membaik. Kegagalan belum berganti keberhasilan. Meskipun dunia disekeliling masih runtuh. Masih ada Pribadi yang utuh tidak pernah berubah. “Namun aku bersorak-sorai di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku”.

Tuhan yang tidak pernah berubah harus menjadi pijakan iman kita. Keadaan dapat berubah, berbagai sandaran hidup kita dapat runtuh. Namun Tuhan dan karakter-Nya tetap sama. Tuhan tetap baik, setia, berdaulat, Ia layak dipercaya. Karena itu, kekuatan kita tidak berasal dari keadaan hidup yang aman terjamin, melainkan berasal dari keteguhan dan keutuhan Tuhan kita. Hanya iman kepada Tuhan, yang akan melahirkan kekuatan untuk tetap berdiri ketika semua sandaran hidup kita mulai goncang dan runtuh.

Selain itu, dalam Tuhan ada janji akan keselamatan yang lebih besar daripada sekadar pemulihan dari krisis. Tuhan memang sanggup memulihkan keadaan hidup kita, tetapi keselamatan yang Ia berikan jauh lebih besar daripada sekadar kembalinya kesehatan, kestabilan ekonomi, atau pulihnya relasi. Di dalam Kristus, manusia diperdamaikan kembali dengan Allah. Kehancuran kekal sebagai hukuman atas dosa tidak lagi menghantui kita. Kita menerima hidup baru dalam kasih-Nya yang tidak dapat dirampas oleh penderitaan bahkan kematian.

Oleh karena itu, ditengah dunia yang rapuh, orang percaya bisa berdiri teguh dalam pengharapan. Meskipun dunia dapat mengambil banyak dari hidup kita, satu hal yang akan bertahan dan tidak bisa hilang, yaitu Tuhan dan keselamatan yang Dia berikan. **DG