Bagikan artikel ini :

Teologia Trauma: Bergerak Melampaui Keterlukaan

Tubuh dan pikiran saling terhubung. Ada masa ketika seseorang tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat, tetapi tubuh terasa sangat lelah. Mengapa? Karena pikiran terus bekerja secara aktif, mengingat berbagai kepahitan masa lalu yang terus menghantui. Suatu kondisi yang biasa disebut dengan istilah ‘trauma’. Banyak orang berpikir bahwa trauma adalah suatu kondisi langka (rare condition) yang hanya dialami oleh segelintir orang. Tidak demikian. Realitasnya, setiap orang pasti pernah mengalami suatu bentuk pengalaman traumatis, apabila kita mendefinisikan trauma sebagai pengalaman luka yang sangat mendalam.

 

Dampak trauma dapat terasa sangat jelas dan pelik, bahkan ketika seseorang tidak lagi mengingat peristiwa buruk yang pernah dialaminya. Otak dan ingatan mungkin lupa, tetapi tubuh kadang tidak. Tidak mengherankan jika Stef Craps, seorang filsuf menyebut zaman kita sebagai ‘the age of trauma” - “zaman trauma”. Trauma bukan lagi sekadar persoalan individual, melainkan telah menjadi bagian penting dari pengalaman manusia dewasa ini. Meskipun pengalaman trauma dapat memengaruhi, bahkan merusak, kehidupan seseorang, termasuk kehidupan orang percaya, trauma tidak seharusnya menjadi penentu - ‘absolute determiner’ kehidupan seseorang. Seolah-olah, karena seseorang pernah mengalami trauma, masa depannya tidak akan pernah jauh dari pengalaman traumatis tersebut. Luka masa lalu memang dapat membentuk seseorang, tetapi luka tersebut tidak harus menentukan seluruh arah hidupnya. Mazmur 34:18 mengungkapkan bahwa “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Justru dalam kesadaran akan ketidakberdayaan dan kebutuhan akan pertolongan Tuhan, kehadiran Tuhan menjadi semakin nyata bagi orang percaya.

 

Kesadaran akan kehadiran Tuhan yang pasti (Praesentia Dei) seyogianya menjadi pegangan yang kokoh ketika seseorang berhadapan dengan trauma masa lalu yang kembali menghampiri. Namun, menyadari kehadiran Tuhan tentu tidak secara otomatis mengangkat semua masalah. Prosesnya tidak selalu mudah dan tidak selalu instan. Akan tetapi, seseorang yang menyadari kehadiran Tuhan sebagaimana Ia janjikan dalam Firman-Nya dapat menemukan kekuatan dan pengharapan untuk menghadapi keterlukaan dan trauma dalam kehidupannya.

 

Serene Jones, seorang teolog Amerika, dalam karyanya Trauma and Grace: Theology in a Ruptured World, menyoroti penderitaan Kristus di kayu salib sebagai suatu pengalaman penderitaan yang sangat mendalam dan traumatis. Salib memperlihatkan bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh dari penderitaan manusia. Di dalam Kristus yang tersalib, kita menemukan Allah yang masuk ke dalam kedalaman penderitaan manusia. Karena itu, penderitaan Kristus memberikan kesaksian bahwa Allah yang mengalami penderitaan adalah Allah yang hadir, mengerti, dan peduli terhadap segala persoalan yang sedang terjadi dalam kehidupan manusia. ‘God is there and He is not silent.’ Oleh sebab itu, seseorang tidak didefinisikan secara mutlak oleh pengalaman trauma dan luka masa lalunya.

 

Keterlukaan, meskipun merupakan bagian dari kehidupan manusia, bukanlah keseluruhan hidup manusia.

 

Luka manusia telah direngkuh oleh Yesus Kristus di kayu salib (passio), dan di dalam salib itu hadir karya penebusan (redemptio) yang mengarah kepada pemulihan dan transformasi (transformatio). Dengan demikian, ketika manusia melangkah dalam iman kepada Kristus, ia berjalan dalam kerangka pengharapan eskatologis: keyakinan bahwa kisah hidup manusia tidak berakhir pada luka, penderitaan, atau trauma. Di dalam Kristus, selalu ada ruang bagi harapan dan pengharapan. Apapun yang terjadi, yang dialami, jangan pernah menyerah. Bukan karena kita kuat. Namun karena Tuhan hadir menyertai! **YCT

 

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa yang menjadi trauma/luka mendalam yang kita rasakan hari ini?
  2. Sudakah kita membawa luka itu kepada Tuhan yang menyertai setiap kita?
  3. Bagaimana kita sekarang melangkah maju dengan iman dalam Tuhan?