Siklus yang Harus Berhenti
Luka dalam keluarga dapat berulang ketika penghinaan dibalas dengan penghinaan. Alkitab mengajak kita menghentikan siklus pembalasan dengan mempercayakan keadilan kepada Allah dan melakukan kebaikan.
Sesudah Yakub meninggal, saudara-saudara Yusuf takut, bahwa Yusuf akan membalas kejahatan mereka (Kejadian 50:15–21). Yusuf memiliki kuasa untuk melakukannya, tetapi ia menjawab, “Aku inikah pengganti Allah?” (ay. 19). Ia memilih menyerahkan penghakiman kepada Allah. Yusuf tetap mengakui kejahatan mereka, sekaligus melihat pemeliharaan Allah yang bekerja untuk menyelamatkan banyak orang (ay. 20). Keyakinan ini tidak membenarkan dosa saudara-saudaranya. Justru, kepercayaan kepada Allah memampukannya melangkah tanpa dikuasai dendam. Ia bahkan berjanji menyediakan makanan bagi mereka dan anak-anak mereka (ay. 21). Pengampunan diwujudkan melalui tindakan yang memelihara kehidupan.
Rasul Paulus menegaskan prinsip yang sama, orang percaya menyerahkan pembalasan kepada Allah dan menolong musuh yang membutuhkan (Rm. 12:19–20). Ia menulis, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (ay. 21). Membalas luka dengan luka berarti membiarkan kejahatan menentukan respons kita. Kebaikan menghentikan pola tersebut. Perdamaian perlu diusahakan sejauh bergantung pada kita (ay. 18). Karena itu, rekonsiliasi tidak dapat dipaksakan oleh satu pihak. Dalam penerapannya, pengampunan dapat berjalan bersama batas yang sehat dan pertanggungjawaban agar kekerasan tidak terus berulang.
Di dalam keluarga, perubahan dimulai ketika kita berhenti mempermalukan pasangan, mengakui kesalahan kepada anak, dan berbicara tanpa melukai. Dengan pertolongan Tuhan, kita belajar membangun kebiasaan baru dalam kasih. Masa lalu tidak dapat diubah, tetapi luka tidak harus diteruskan. Siklus pembalasan harus berhenti di sini, melalui ketaatan yang kita mulai hari ini. **LCM
