Bagikan artikel ini :

Seorang Ayah yang Tidak Menyerah

Figur seorang ayah sering kali digambarkan sebagai tiang penyangga keluarga. Namun, di balik pundaknya yang terlihat kokoh, ada kalanya seorang ayah – yang adalah manusia bisa, merasa lelah, kecewa, atau bahkan ingin menyerah. Di sinilah kita perlu melihat sebuah teladan yang melampaui batas kemanusiaan kita: Allah sebagai Bapa yang tidak pernah menyerah terhadap anak-anak-Nya.

Melalui perenungan dari Mazmur 103:13-14 dan Ibrani 12:7-11, kita akan melihat bagaimana kasih seorang Bapa yang sejati bekerja – Bapa yang selalu memahami keterbatasan kita, sekaligus Bapa yang tidak pernah menyerah untuk mendidik kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Kasih yang Memahami Keterbatasan (Mazmur 103:13-14)

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu (Mzm. 103:13-14).

Seorang ayah yang baik tidak akan membuang anaknya hanya karena sang anak belum bisa berjalan dengan sempurna dan sering terjatuh. Mengapa? Karena ia tahu bahwa anaknya masih kecil. Demikian pula dengan Tuhan. Dia tahu bahwa kita ini rapuh, “bahwa kita ini tidak berdaya”.

Kata sayang di sini menggambarkan belas kasihan yang mendalam (compassion). Bapa surgawi tidak menyerah pada kegagalan kita. Dia tidak menuntut kesempurnaan instan, melainkan menawarkan pelukan yang penuh pemahaman. Ketika kita jatuh, Dia tidak berbalik arah meninggalkan kita, sebaliknya Dia membungkuk untuk mengangkat, memeluk kita kembali.

Didikan yang Mendewasakan (Ibrani 12:7-11)

Kasih Bapa yang tidak pernah menyerah bukan berarti Dia membiarkan kita hidup sembarangan. Sisi lain dari seorang ayah yang tidak menyerah adalah ketegasan dalam mendidik. Ayah yang menyerah akan membiarkan anaknya melakukan apa saja asalkan si anak senang. Sebaliknya, ayah yang mengasihi akan mendisiplinkan anaknya demi masa depan sang anak.

Penulis Kitab Ibrani mengingatkan kita, Jika kamu harus menanggung didikan; Allah memperlakukan kamu seperti anak ... Memang tiap-tiap didikan pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai sejahtera kepada mereka yang dilatih olehnya.(Ibr. 12:7, 11).

Ketika kita menghadapi proses hidup yang berat, teguran, atau “hajaran” yang diizinkan Tuhan, itu bukanlah tanda bahwa Dia membenci kita. Itu adalah bukti bahwa Bapa tidak menyerah pada potensi kita. Dia menolak membiarkan kita tetap menjadi pribadi yang egois, kekanak-kanakan, atau hidup dalam dosa. Proses pendisiplinan itu menyakitkan, tetapi tujuannya mulia: agar kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya dan menghasilkan buah kebenaran.

Meneladani Bapa yang Tidak Menyerah

Bagi kita sebagai anak, artikel ini adalah sebuah undangan untuk pulang dan mempercayai didikan-Nya. Jangan mengeraskan hati saat Bapa sedang membentuk hidupmu melalui badai, karena di balik itu semua, Dia sedang mempersiapkan hal yang indah.

Bagi para pria yang mengemban tugas sebagai ayah di dunia, pesan ini menjadi cermin yang kuat. Menjadi ayah yang mencerminkan karakter Kristus berarti:

  1. Memiliki belas kasihan: Mau memahami kelemahan dan keterbatasan anak, bukan hanya menuntut hasil.
  2. Tidak menyerah untuk mendidik: Tetap konsisten menanamkan nilai-nilai kebenaran, bahkan ketika prosesnya menguras emosi dan air mata.

Kesimpulan

“The Father Who Doesn't Quit.” Tuhan adalah Bapa yang tidak pernah menceraikan kita dari status kita sebagai anak-anak-Nya. Dia tidak pernah menyerah saat kita bebal, dan Dia tidak pernah berhenti memulihkan kita saat kita hancur. Mari hiduplah dengan rasa aman di dalam dekapan-Nya, sebab Bapa kita tahu persis siapa kita, dan Dia teramat sangat mengasihi kita. **LCM