Providensia Allah Yang Tersembunyi
Doktrin providensia Allah mengajarkan bahwa Allah bukan saja menciptakan, tetapi juga terus terlibat dan berkarya dalam ciptaan-Nya. Sebaliknya, deisme mengajarkan bahwa Allah hanya menciptakan, lalu membiarkan ciptaan berjalan sendiri menurut hukum alam. Allah digambarkan seperti tukang jam: setelah jam dibuat, ia berjalan sendiri tanpa campur tangan pembuatnya. Alkitab justru menekankan providensia Allah. Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya, tidak membiarkan mereka berjalan sendiri, melainkan terus terlibat, berkarya, dan bahkan mengarahkan hidup mereka kepada tujuan akhir yang untuknya mereka telah diciptakan. Artikel singkat ini akan menyoroti keterlibatan Allah dalam hidup umat-Nya – keterlibatan yang ajaib dan sering kali tidak kasatmata.
Allah Bekerja dalam Keheningan
Allah bekerja dan memelihara di tengah kesunyian dan penderitaan manusia. Dalam beberapa narasi Alkitab, Allah seakan-akan diam. Yusuf dijual ke Mesir oleh saudara-saudaranya (Kej. 37:28). Naomi kehilangan suami dan kedua putranya (Rut 1:3–5). Pada zaman Ester, orang-orang Yahudi menghadapi ancaman pemusnahan massal di tangan Haman (Est. 3:6, 13). Dalam semua peristiwa ini, tidak tampak campur tangan Allah secara langsung. Ia seolah-olah membiarkan mereka menjalani peristiwa tersebut sendiri. Tidak ada suara firman Tuhan yang secara eksplisit sampai kepada mereka dan menjanjikan penyertaan-Nya. Bahkan yang paling ekstrem, nama Allah tidak disebutkan satu kali pun dalam Kitab Ester.
Namun Allah tetap bekerja dan memelihara secara ajaib. Pada akhir kisah Yusuf, ia dapat berkata bahwa Allah-lah yang menyuruh dia mendahului mereka ke Mesir (Kej. 45:5; 50:20). Pada akhir Kitab Rut, dicatat bahwa Rut menjadi nenek moyang Raja Daud (Rut 4:17, 22). Dari mulut para perempuan, Allah dipuji karena mengubah kepahitan Naomi menjadi sukacita (Rut 4:14–15). Kitab Ester pun diakhiri dengan perayaan Purim (Est. 9:26–28), suatu perayaan yang mengakui bahwa tangan Allah telah melepaskan mereka dari kebinasaan – dan perayaan ini bahkan terus dirayakan hingga hari ini.
Allah Bekerja melalui “Kebetulan” yang Terarah
Allah bekerja melalui peristiwa-peristiwa yang tampaknya kebetulan. Misalnya, Rut “kebetulan” sampai di ladang Boas (Rut 2:3). Yusuf tidak jadi dibunuh oleh saudara-saudaranya; pada saat itu “kebetulan” lewat kafilah orang Ismael, sehingga ia dijual kepada mereka (Kej. 37:26–28). Dari sana, Yusuf “kebetulan” dibeli oleh Potifar, seorang pegawai istana Firaun (Kej. 39:1). Dalam narasi Ester, rangkaian “kebetulan” ini bahkan lebih mencolok. Ester “kebetulan” mendapat perkenanan dan terpilih menjadi ratu (Est. 2:17). Pada suatu malam, raja “kebetulan” tidak dapat tidur, lalu membaca kitab catatan sejarah, dan mendapati jasa Mordekhai yang terlupakan (Est. 6:1–2).
Semua ini tampak seperti rangkaian peristiwa biasa, namun sesungguhnya menunjukkan tangan Allah yang bekerja diam-diam, mengarahkan setiap detail kepada tujuan-Nya. Secara naratif terlihat seperti kebetulan, tetapi secara teologis tidak demikian. Tidak ada yang benar-benar kebetulan dalam rencana Allah. Ia bekerja dalam segala hal, bahkan melalui peristiwa-peristiwa yang tampaknya kebetulan, untuk menyatakan kehendak-Nya.
Hal ini juga terlihat dalam praktik pengambilan keputusan melalui undi. Saul terkena undi dan akhirnya terpilih menjadi raja (1Sam. 10:20–21). Demikian pula Yunus; melalui undi, diketahui bahwa dialah penyebab badai yang menimpa kapal (Yun. 1:7). Peristiwa-peristiwa yang kelihatannya acak, seperti membuang undi – yang secara manusia tampak memiliki peluang yang sama – dipakai Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya.
Namun, bahwa semua ini bukan sekadar kebetulan menjadi jelas, ketika pada suatu waktu, Saul ingin mengetahui kehendak Tuhan, tetapi Tuhan tidak berkenan menyatakannya. Bahkan melalui undi pun tidak diperoleh jawaban apa pun (1Sam. 28:6). Ini menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat penuh: Ia bebas menyatakan atau tidak menyatakan kehendak-Nya, dan segala sesuatu tetap berada di bawah kendali-Nya.
Allah Bekerja untuk Kebaikan Umat-Nya
Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya (Rm. 8:28). Providensia Allah yang tersembunyi – baik dalam keheningan maupun dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya kebetulan – ditujukan bagi kebaikan orang percaya. Sekalipun pada awal kisah orang-orang percaya seolah-olah dibiarkan berjalan sendiri dalam penderitaan dan pergumulan, pada akhirnya menjadi jelas bahwa tangan Allah-lah yang menuntun mereka dan mendatangkan kebaikan bagi mereka.
Yusuf pada akhirnya dapat berkata bahwa Allah-lah yang menyuruh dia mendahului mereka ke Mesir, untuk memelihara kehidupan dan menyiapkan keselamatan bagi seluruh keluarga Yakub dari bahaya kelaparan (Kej. 45:5–7; 50:20). Dalam Kitab Rut, kita tidak menemukan refleksi langsung dari Naomi atau Rut sendiri, tetapi komunitas umat Allah yang membaca narasi itu dibawa kepada kesadaran bahwa kepahitan hidup Naomi telah diubah menjadi sukacita, dan bahwa ia diperkenankan menjadi nenek moyang Raja Daud melalui Rut dan Boas (Rut 4:14–17, 22). Demikian pula, orang-orang Yahudi merayakan Purim sebagai pengakuan bahwa Tuhan bekerja melalui sejarah manusia dan melepaskan mereka dari kebinasaan (Est. 9:26–28).
Penutup
Dalam hidup kita, kita sering kali tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana tangan Allah bekerja. Bahkan, kita mungkin tidak dapat berkata dengan pasti seperti Yusuf bahwa Allah sedang mengatur seluruh jalan hidup kita. Namun, panggilan kita adalah tetap hidup setia dalam setiap momen kehidupan, termasuk saat menjalani pergumulan dan kesulitan. Pada akhirnya, kita dipanggil untuk mengamini bahwa Ia akan mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. **PD
