Natur Pencobaan Yesus
Salah satu misteri terdalam iman Kristen adalah pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Konsili Chalcedon (451 M) merumuskan bahwa Yesus adalah satu Pribadi dengan dua natur – natur ilahi dan natur manusia – “tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan.” Pernyataan yang kompleks ini laksana pagar yang membatasi tetapi sekaligus menjaga keseimbangan pemahaman gereja tentang siapa Yesus. Dia bukan setengah Allah setengah manusia, bukan juga dua pribadi yang terpisah dan berdampingan. Dia adalah satu Pribadi yang memiliki dua natur.
Terkait pencobaan yang dialami Yesus, Alkitab menyatakan bahwa Yesus benar-benar dicobai oleh Iblis di padang gurun (Mat. 4:1-11). Penulis Kitab Ibrani juga mengatakan Yesus “telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Namun di sisi lain, ternyata Yakobus menyebutkan bahwa Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat (Yak. 1:13). Nah, muncullah paradoks. Jika Yesus benar-benar Allah padahal Allah tidak mungkin dicobai oleh yang jahat dan menjadi berdosa, apa artinya pencobaan yang dialami Yesus? Tidakkah pencobaan itu hanya permainan saja?
Di sinilah dogma tentang dua natur Kristus dalam satu Pribadi-Nya menjadi sangat penting dalam memandang pencobaan yang dialami Yesus dan memberi panduan yang harus benar-benar dipegang agar tidak menjadi sesat. Tradisi gereja sepanjang sejarah mencoba menjelaskan paradoks ini tanpa meremehkan salah satu natur Yesus. Ada dua pandangan utama dalam diskusi teologis tentang hal ini: peccability (Yesus dapat berdosa) dan impeccability (Yesus tidak dapat berdosa).
Pandangan utama pertama adalah bahwa Yesus memang tidak berdosa, tetapi sebetulnya Dia bisa berdosa. Ini adalah pandangan yang menekankan aspek kemanusiaan Yesus. Menurut pengikut pandangan ini, jika Yesus benar-benar manusia seperti kita, maka Ia harus bisa memilih – termasuk bisa memilih untuk berdosa atau tidak berdosa. Menurut mereka, tanpa kemungkinan jatuh ke dalam pencobaan, yang namanya pencobaan tidak mungkin betul-betul riil, hanya sebuah sandiwara yang hasilnya sudah diketahui. Seorang teolog pernah mengilustrasikan hal ini: jika seseorang tidak mungkin jatuh, maka berdiri di tepi jurang sama sekali bukan bahaya riil.
Mereka yang memegang pandangan ini menekankan bahwa kemenangan Kristus atas pencobaan dari Iblis memiliki arti yang sangat penting bagi kita karena Ia benar-benar menghadapi kemungkinan untuk berdosa tetapi akhirnya tidak berdosa; bukan karena “dari sononya” Dia tidak bisa berdosa, tetapi karena secara aktif Dia memilih untuk taat dalam setiap situasi.
Namun, pandangan ini menghadapi keberatan serius. Jika Yesus memang bisa berdosa, maka secara teoretis ada kemungkinan bahwa rencana keselamatan Allah bisa gagal karena alasan apapun terkait Yesus (mungkin Dia menolak jalan salib, atau Dia lebih tertarik menjadi raja dunia orang Yahudi, dan sebagainya). Ini tentu saja tidak bisa diterima dalam terang kedaulatan Allah dan kesatuan kehendak Bapa dan Anak serta dalam terang penyataan jalan keselamatan di Alkitab.
Pandangan kedua yang lebih umum mengatakan bahwa Yesus memang tidak dapat berdosa. Pandangan ini berangkat dari pengajaran bahwa Yesus adalah Allah dan karena itu Ia tidak mungkin berdosa. Natur manusia-Nya memang dapat dicobai, tetapi Pribadi itu juga memiliki natur ilahi yang kudus, tidak berubah, tidak dapat dicobai, dan tidak dapat berdosa.
Menurut pengikut pandangan kedua, ada perbedaan antara bisa dicobai dan bisa berdosa. Yesus sungguh mengalami tekanan pencobaan dari luar – kelaparan, kesepian, ancaman, penderitaan – tetapi tidak memiliki natur berdosa seperti manusia. Ia tidak memiliki dorongan internal untuk berdosa. Bahwa Dia tidak mungkin gagal, tidak berarti bahwa Dia tidak berjuang dengan berat untuk melawan pencobaan dan tetap taat. Karena itu, pencobaan yang dialami-Nya bukan sandiwara, melainkan ujian nyata akan ketaatan-Nya.
Ilustrasinya adalah seperti emas murni yang diuji dalam api. Api itu nyata, panasnya sungguh terasa, tetapi emas itu tidak akan berubah menjadi kotoran karena natur dasarnya murni. Justru kemurnian itulah yang membuat ujian itu semakin membuktikan kualitasnya. Ilustrasi lain adalah seperti perbandingan antara kapal kayu dan kapal baja yang dihantam oleh badai yang sama. Kapal kayu itu hancur karena ia tidak mampu menahan tekanan badai, tetapi kapal baja tetap utuh. Daya tahan kapal baja membuatnya bertahan, tetapi bukan berarti dia tidak merasakan hantaman gelombang badai.
Yesus adalah laksana emas murni atau kapal baja. Sekalipun mendapat pencobaan maksimum yang mungkin dialami oleh seorang manusia, termasuk penyaliban menggantikan manusia berdosa, Dia tetap tidak berdosa. Pencobaan maksimal tidak mungkin ditahan manusia biasa karena biasanya kita akan menyerah pada level entah 20% atau 50% atau berapa persen pun, tetapi tidak akan sampai ke pencobaan 100% seperti Yesus.
Kebanyakan teolog sepanjang sejarah gereja menyimpulkan bahwa pandangan impeccability lebih konsisten dengan pengajaran Alkitab secara keseluruhan dan Kristologi klasik. Yesus tidak mungkin berdosa, tetapi Ia sungguh mengalami pencobaan.
Kalau begitu, apa makna pencobaan Yesus bagi iman orang percaya dalam kehidupan sehari-hari? Yang pertama adalah hal ini memberikan penghiburan dalam penderitaan kita. Ibrani 4:15–16 memberikan penghiburan besar karena mengingatkan bahwa kita memiliki Imam Besar, yakni Yesus, yang dapat turut merasakan kelemahan kita. Yesus bukan Allah yang jauh dan tidak memahami pergumulan manusia. Ia tahu artinya lapar, ditolak, difitnah, dikhianati, dan disakiti. Dia memiliki empati yang tak terhingga kepada anak-anak-Nya yang sedang menderita atau dicobai. Tidak ada pencobaan seberapa berat pun yang tidak dapat dimengerti Yesus karena yang terberat pun pernah Dia alami. Mereka yang memegang pengajaran impeccability akan mendapatkan penghiburan yang kuat karena Yesus bukan hanya memahami tetapi juga tidak pernah gagal. Ia mampu menolong karena Ia sendiri menang.
Hal kedua adalah pengajaran impeccability menjadi suatu fondasi doktrin keselamatan yang kokoh. Jika Yesus bisa berdosa, maka ada kemungkinan juga Dia akan gagal menjadi kurban yang sempurna dan tanpa cacat, sebagaimana yang diharuskan, sebagai kurban tebusan sekali untuk selamanya. Namun karena Ia sepenuhnya kudus dan selalu tidak mungkin berdosa, maka karya penebusan-Nya sempurna tanpa cacat bagi kita.
Hal ketiga dari doktrin impeccability adalah bahwa Dia sungguh-sungguh bisa menjadi teladan bagi orang percaya. Sejumlah pendukung peccability khawatir Yesus terlalu “berbeda” dari kita untuk menjadi teladan jika Dia memang tidak bisa berdosa. Namun kita dipanggil untuk meneladani Dia bukan dengan kekuatan sendiri tetapi dengan kuasa Roh Kudus, yang telah memimpin Yesus untuk taat, dan yang sekarang diam dalam diri kita.
Hal keempat dari pengajaran impeccability adalah bagaimana kita harus tetap berpegang kepada Firman Tuhan dalam menghadapi pencobaan, bahkan yang kita pikir mudah kita atasi. Sekalipun Yesus tahu Dia tidak akan berdosa, Dia tetap berpegang kepada Firman Tuhan melawan pencobaan dari Iblis. Tidakkah seharusnya kita lebih lagi perlu demikian?
Pencobaan yang Yesus jalani di padang gurun mengajarkan kita bahwa kekudusan dalam menjalani keselamatan bukan tanpa perjuangan, melainkan kesetiaan untuk terus berjuang dan mencari pertolongan Tuhan. Di tengah pergumulan kita – entah itu godaan moral, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, atau penderitaan fisik – kita boleh datang dengan keberanian kepada takhta kasih karunia. Di sana ada Yesus yang pernah dicobai, yang tidak pernah gagal, dan yang memegang tangan kita dengan tangan-Nya yang tak mungkin gagal. Inilah penghiburan dan kekuatan yang sangat besar dalam menjalani hidup masa kini. Terpujilah Tuhan. **TDK
