Mengenal Iri Hati, Sebuah Dosa Tua yang Berbahaya
Di dalam perjalanan kehidupan manusia, manusia senantiasa bergumul di dalam dosa-dosa tertentu, yang menjadi sebuah kebiasaan dan sangat dinikmati, namun tanpa disadari bahwa hal itu dapat membawanya kepada kehancuran pada akhirnya. Ada manusia yang sangat menyukai merokok dan bahkan sangat sukar baginya untuk melepaskannya, namun tanpa disadari bahwa kesukaannya itulah yang akan membawanya kepada kerusakan organ paru-parunya. Ada manusia yang sangat menyukai menikmati seks di luar kewajaran, namun kesukaannya itu dapat membawanya kepada kehancuran dan beragam kesakitan pada akhirnya. Sehingga kita dapat melihat bahwa apa yang kita sukai atau yang menjadi kebiasaan kita, yang kita anggap pasti baik adanya, justru harus kita evaluasi dan koreksi, apakah itu dapat membawa kita kepada kehancuran atau tidak.
Di dalam perspektif Kristen, ada satu hal yang sangat berbahaya yang harus segera diselesaikan dalam kehidupan ini. Jika tidak diselesaikan, pasti akan menghambat pertumbuhan kerohanian dan bahkan membuat manusia menuju kepada kehancurannya. Hal itu adalah iri hati. Berbicara tentang iri hati, bukankah seringkali banyak manusia yang tidak menyadari betapa berbahayanya ini bagi kehidupan mereka. Iri hati termasuk dosa yang tua karena jika kita melihat di dalam Akitab, di awal kisah di kitab Kejadian, kita melihat cerita tentang seorang yang bernama Kain yang iri hati kepada adik kandungnya sendiri yaitu Habel, dan iri hati Kain berujung kepada pembunuhan adiknya sendiri.
Bukan hanya dosa yang sudah tua terjadi dalam peradaban manusia, iri hati juga merupakan sebuah ekspresi ketidakpuasan seseorang akan banyak hal yang tidak dimilikinya, karena ia selalu fokus kepada sesuatu yang terhilang atau tidak dimilikinya, dan kehilangan perhatian akan apa yang telah ia miliki. Seorang yang iri hati sangat suka menyoroti apa yang dimiliki orang lain dan lupa menyoroti apa yang ia sendiri miliki. Seorang yang iri hati juga pasti sangat sulit untuk bersyukur, karena ia selalu memiliki pendangan negatif terhadap hidupnya, hidup orang lain, dan terhadap Tuhan. Ia merasa Tuhan tidak adil terhadapnya dan kecenderungannya selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Yang paling menyedihkan dari seorang yang iri hati adalah sebenarnya ia tidak pernah menikmati apapun yang diberikan Tuhan dalam hidupnya, dan juga tidak ingin orang lain menikmati apapun yang diberikan Tuhan dalam hidup mereka. Iri hati adalah dosa yang sangat berbahaya jika terus menerus dipelihara dalam kehidupan seorang Kristen. Dosa iri hati ini akan membawa manusia menuju kepada kehancurannya sendiri.
Manusia Lama Vs Manusia Baru
Kisah dari Kain dan Habel ini bukan hanya sekadar dosa iri hati, melainkan ada sebuah identitas yang tidak jelas dalam kehidupan Kain. Kain mengetahui tentang kebenaran dan bahkan diperingatkan oleh Tuhan agar tidak melakukan dosa, namun kedagingannya tidak mengizinkan dia untuk melakukan kebenaran yang ia ketahui. Kisah Kain adalah cerminan yang jujur tentang bagaimana dosa bekerja dari dalam, dan jika dibiarkan akan berubah menjadi dosa yang lebih mengerikan. Mengabaikan suatu peringatan dari Tuhan akan membuka pintu bagi kehancuran yang lebih besar dalam kehidupan Kain.
Bukankah dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen, seperti ada dua suara yang terus berbicara dalam hati kita yaitu suara kebenaran (Allah Roh Kudus melalui hati nurani) dan suara kedagingan (manusia lama yang masih terus bergejolak dalam diri). Di satu sisi, kita tahu sesuatu itu tidak benar, namun di sisi yang lain kita tetap menikmati ketidakbenaran itu, dan bahkan menjadikannya “excuse” bahwa Tuhan mengerti pergumulan dan kelemahan diri, dan tidak bertobat.
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa ketika manusia telah dilahirbarukan dalam Yesus Kristus dan menerima anugerah keselamatan dalam hidupnya, maka perjalanan kehidupan seorang pengikut Tuhan akan terus berjuang mematikan suara kedagingan dan menghidupkan suara kebenaran untuk dilakukan. Dalam istilah teologi reformed sering kita sebut sebagai “perseverance of the saints” dimana proses perubahan menjadi lebih serupa dengan Yesus Kristus itu akan terlihat dalam segala aspek kehidupan manusia dan dilihat oleh orang-orang disekitarnya. Bahaya besar ketika manusia itu sudah lama menjadi seorang Kristen, namun tidak terjadi perubahan yang semakin serupa dengan Yesus Kristus.
Di dalam proses “perseverance of the saints” ini, ada kehadiran Allah Roh Kudus yang senantiasa berdiam dalam diri umat pilihan-Nya untuk menegur, menuntun, mengarahkan, menasehati, dan menguatkan dalam menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Itulah yang dikatakan juga oleh rasul Paulus, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm. 8:13-14). Dengan demikian bahwa kemenangan atas dosa bukan hasil perjuangan keras dengan kekuatan sendiri dari manusia, melainkan karya dan pimpinan Roh Kudus yang bekerja dari dalam memperbaharui manusia sedikit demi sedikit lewat seluruh pergumulan dan tantangan dalam hidup. Allah Roh Kudus akan memampukan manusia untuk mematikan perbuatan daging dan tidak mengikuti suara yang salah. Perjuangan ini memang tidak mudah, namun kuasa Allah Roh Kudus lebih besar dari kuasa kedagingan manusia yang senantiasa menguatkan dan membimbing manusia untuk menang.
Kuasa Kristus yang telah menyelamatkan manusia yang percaya kepada-Nya membuat seluruh umat-Nya mempunyai identitas yang jelas yaitu milik-Nya, dan akan menang terhadap segala dosa dan kedagingan. Kemenangan dalam Yesus Kristus menjadi sebuah kenyataan yang harus dihidupi dengan bergantung kepada Allah Roh Kudus yang tinggal permanen dalam hidup manusia. ** HH
