Bagikan artikel ini :

Melawan Sinisme dengan Iman: Menjadi Garam di Tengah Bangsa

Setiap kali membuka media sosial atau portal berita, kita hampir selalu disuguhi kabar yang mengecewakan: korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan hukum, atau konflik politik yang tidak kunjung selesai. Tidak sedikit orang akhirnya berkata, “Percuma peduli. Negara ini tidak akan berubah” “Ah, percuma. Semua pemimpin sama saja.” Kalimat seperti itu terdengar realistis, tetapi sesungguhnya mencerminkan sebuah sikap sinisme. Sinisme bukan sekadar rasa kecewa, melainkan keyakinan bahwa segala sesuatu pasti buruk sehingga tidak ada lagi alasan untuk berharap atau terlibat. Akibatnya, banyak orang memilih bersikap apatis, meremehkan setiap usaha untuk berubah, hanya mengurus kehidupan pribadi, dan kehilangan kepedulian terhadap kesejahteraan bangsa.

 

Sikap seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Bangsa Yehuda juga pernah mengalami situasi yang jauh lebih berat ketika dibuang ke Babel. Mereka kehilangan tanah air, Bait Allah, kebebasan, bahkan identitas nasional mereka. Dari sudut pandang manusia, tidak ada alasan untuk memikirkan kesejahteraan negeri asing yang telah menaklukkan mereka. Namun justru dalam kondisi itulah Tuhan menyampaikan perintah yang mengejutkan melalui nabi Yeremia: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Allah tidak memanggil umat-Nya untuk melarikan diri dari realitas atau tenggelam dalam kepahitan, melainkan tetap menjadi berkat di tempat mereka ditempatkan sekalipun itu menyakitkan.

 

Perintah ini memperlihatkan akar persoalan yang lebih dalam. Masalah utama Israel bukan hanya pembuangan, melainkan cara mereka memandang karya Allah di tengah keadaan pahit itu. Menariknya, Tuhan berkata, “ke mana kamu Aku buang.” Pembuangan bukan sekadar kemenangan Babel atas Yehuda, tetapi bagian dari kedaulatan Allah yang tetap bekerja melalui situasi yang menyakitkan. Dengan kata lain, posisi umat Tuhan tidak pernah berada di luar kendali-Nya. Karena itu, mereka tidak boleh membiarkan keadaan menentukan identitas dan panggilan mereka. Mereka tetap adalah umat perjanjian yang dipanggil menghadirkan karakter Allah di tengah bangsa-bangsa. Prinsip ini kemudian dipertegas dalam Amsal 21:1, bahwa hati raja seperti batang air berada di tangan Tuhan dan diarahkan ke mana pun yang dikehendaki-Nya. Bahkan ketika pemimpin tampak mengecewakan, Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah.

 

Terang Injil memperlihatkan bahwa prinsip ini mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus. Yesus sendiri hidup di bawah pemerintahan Romawi yang penuh penindasan dan ketidakadilan. Namun Ia tidak mengajarkan murid-murid-Nya untuk membenci bangsa, hidup dalam kepahitan, atau menarik diri dari masyarakat. Sebaliknya, Ia memanggil mereka menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Rasul Paulus pun menasihati jemaat untuk menaikkan doa bagi raja-raja dan semua pembesar supaya tercipta kehidupan yang tenang dan damai (1 Tim. 2:1-2). Doa seperti ini bukanlah tanda menyerah, melainkan pengakuan bahwa Allah tetap memegang kendali atas para pemimpin dan arah sejarah. Orang percaya tidak menaruh harapan utamanya pada sistem politik atau tokoh tertentu, tetapi pada Allah yang berdaulat atas seluruh bangsa.

 

Kisah ini menjadi cermin bagi kita. Sinisme sering kali menyamar sebagai sikap kritis, padahal keduanya berbeda. Sikap kritis mendorong seseorang mencari kebenaran dan membangun perubahan, sedangkan sinisme membuat seseorang kehilangan harapan dan menganggap setiap usaha pasti berakhir sia-sia. Akibatnya, kita berhenti peduli terhadap bangsa, enggan berdoa bagi para pemimpin, dan merasa tidak ada gunanya lagi melakukan kebaikan. Tanpa disadari, kita sedang membiarkan berita, media sosial, dan keadaan membentuk cara berpikir kita lebih daripada Firman Tuhan. Karena itu, marilah melawan sinisme dengan iman. Mulailah dengan mendoakan para pemimpin, menjadi warga negara yang jujur dan bertanggung jawab, serta menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan-tindakan sederhana di lingkungan tempat Tuhan menempatkan kita. Kita melakukan semua itu bukan karena percaya manusia mampu menyelamatkan bangsa ini, melainkan karena kita percaya Allah tetap berdaulat dan terus bekerja melalui umat-Nya. Di mana pun Tuhan menempatkan kita hari ini, di sanalah kita dipanggil menjadi garam dan terang sambil menantikan penggenapan kerajaan Kristus yang sempurna. **CS