Bagikan artikel ini :

Living Beyond the Self

Yang penting aku bahagia. Ini hidupku, aku bebas mau ngapain aja. Aku nggak mau ribet sama orang lain. Yang penting aku nyaman. Mungkin Anda pernah mendengar perkataan-perkataan seperti ini dilontarkan oleh orang-orang disekitar Anda. Atau mungkin Anda sendiri yang pernah mengucapkannya. Inilah perkataan orang-orang yang sadar atau tidak menjadi seorang individualis. Orang-orang yang hidupnya berpusat pada diri sendiri.

Semoga saya salah, sepertinya hari-hari ini semakin sulit menemukan manusia yang tidak mengutamakan kepentingan pribadnya. Di jalan, ketika menemukan orang yang mau mengalah, rasanya seperti berhasil mengangkat jarum dari ditumpukan jerami. Di rumah, persoalan menaruh barang, memencet odol, memilih makanan, terasa seperti perang yang tiada henti. Pelayanan di gereja nampak seperti kerja sama, yang kerja itu-itu saja, yang lain hanya nyamain. Kita berhenti dengan contoh-contoh sebelum terlalu panjang.

Bahkan kecendrungan seperti ini bisa masuk dalam kehidupan rohani kita. Kita percaya Tuhan saat butuh, melayani ketika sempat, dan mengasihi sesama jika mudah. Sadarkah kita, betapa dalam hidup ini, “DIRI KITA” adalah tokoh utamanya. Mungkin tidak salah kalau menyebutkan diri kita adalah “tuhannya”.

Rasul Paulus dalam Galatia 6:6-10 mendorong kita untuk merubah arah hidup. Hidup bukan  hanya untuk diri sendiri, melainkan melampaui diri. Hidup yang berfokus pada Tuhan dan kebenaran-kebenaran-Nya. Berikut beberapa prinsip hidup yang berbeda arah:

1. Hidup dalam Anugerah Bukanlah Hidup dalam Isolasi

Rasul Paulus menulis bahwa orang yang menerima pengajaran Firman Tuhan, harus berbagi dengan pengajarnya. Jangan salah, ini bukan sekedar berbagi hal-hal materi. Inti dari nasihat ini adalah tentang hidup yang saling terhubung sebagai anggota tubuh Kristus. Anugerah Allah dalam Kristus tidak menghasilkan orang-orang yang hidup terisolasi. Kristus sendiri melepaskan segala kenyaman-Nya untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dengan demikian mereka yang menerima anugerah Kristus menjadi bagian dari komunitas yang saling memberi diri. Mengutamakan kepentingan orang lain. Bahkan rela mengesampingkan kenyamanan pribadi demi orang lain.

2. Hidup mengikuti Roh vs Daging

Rasul Paulus melanjutkan dengan kebenaran yang sangat krusial. Apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai. Hidup kita tidak pernah netral. Apa yang kita pilih itu adalah benih yang akan menghasilkan buah. Ada dua basis pilihan kita, memilih dalam Roh atau memilih dalam daging. Hidup dalam kebenaran atau hidup dalam dosa. Setiap hari kita selalu diperhadapkan dengan dua pilihan benih ini. Apakah kita memilih ketaatan, kasih, dan kebenaran. Atau sebaliknya semua dosa yang hendak kita habiskan bagi diri sendiri. Dan dua benih ini akan kita tuai buahnya. Buah hidup dalam daging akan kita tuai sementara selama kita di dunia ini. Setelahnya dia akan berubah menjadi buah yang pahit dalam maut. Buah hidup dalam roh, mungkin terasa pahit bagi selera dunia. Namun buah ini akan terasa berbeda dalam kekekalan. Manisnya tidak akan pernah hilang.

3. Hidup Tekun dalam Kebaikan disetiap Kesempatan

Rasul Paulus sangat tepat mengatakan bahwa berbuat baik tidaklah mudah. Kadang kebaikan kita tidak selalu dihargai, bahkan sering disalah arti. Kita bisa lelah berbuat baik. Tetapi Rasul Paulus menunjukkan bahwa hidup Kristus memiliki dimensi eskatologis. Segala kebaikan yang meskipun dengan susah payah kita perbuat hari ini, bukan hanya untuk hari ini. Semua kebaikan itu akan memiliki tuaiannya pada waktu yang akan datang. Mungkin tidak terlihat sekarang, tetapi Tuhan telah melihat, dan Dia menjanjikan tuaian pada waktu-Nya. Oleh karena itu, selama masih tersisa waktu kita untuk hidup di dunia ini, selama kita masih bisa berjumpa secara lahiriah dengan sesama kita, marilah lakukan semua yang baik kepada semua orang yang dapat kita temui. Khususnya kepada saudara-saudara seiman, karena kita perlu saling menguatkan dalam arah hidup yang tidak mudah ini. Ketika komunitas orang percaya kuat, mereka akan membawa dampak. **DG