Ketika Rasa Takut Menyamar Sebagai Apatis
Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar kata takut? Jantung berdebar, keringat dingin, atau keinginan untuk lari? Seringkali kita mengasosiasikan ketakutan dengan kepanikan. Akan tetapi, dalam realitas pelayanan dan kehidupan sehari-hari, ketakutan memiliki wajah lain yang lebih tenang namun mematikan, yaitu apatis atau ketidakpedulian.
Ketakutan tidak selalu diekspresikan dengan lari atau melawan, seringkali ia membuat kita terdiam. Kita mungkin tidak melakukan kejahatan tetapi juga tidak melakukan kebaikan apa pun. Nampaknya hal serupa tercermin dari hamba ketiga dalam perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30). Memang ia tidak menghamburkan atau menyalahgunakan uang tuannya seperti perumpamaan Anak yang Hilang, hanya saja ia diam. Sebagaimana dicatatkan dalam Theology of Work Commentary, kesalahan fatal hamba ini bukan karena ia gagal mencapai target keuntungan seperti hamba yang memiliki lima talenta, melainkan “The servant ... was condemned because he did nothing with what he was given” (Hamba itu dihukum karena ia tidak melakukan apa-apa dengan apa yang diberikan kepadanya).
Mari kita perhatikan pengakuan jujur hamba tersebut, “Aku takut ...” (ay. 25). Apa yang membuatnya takut? Apakah ia berada dalam tekanan? Jika kita perhatikan, akar masalahnya terdapat cara pandang salah terhadap tuannya. Ia memandang tuannya sebagai sosok yang “kejam, menuai di tempat ia tidak menabur” (ay. 24). Demikian juga ketika kita memandang Tuhan sebagai mandor yang menuntut kesempurnaan tanpa cacat, kita akan lumpuh. Kita takut salah langkah, sehingga memilih jalan yang paling tidak ada resikonya, yaitu tidak melangkah sama sekali.
Tuhan bukanlah Allah yang kejam, meminta atau menuntut kita menyerahkan laporan keuangan dengan profit sempurna. Ia mencari kesetiaan untuk mencoba atau melakukan apa yang dipercayakan. Itu sebabnya hamba ketiga disebut “jahat” bukan karena sang tuan rugi secara finansial, tetapi karena mendapati hambanya menolak berpartisipasi karena rasa takut yang egois, hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa pun.
Lebih lanjut, disinilah letak point teologis yang krusial, dimana “ketakutan melumpuhkan potensi”. Ketakutan mengubah prioritas hidup dari menghasilkan buah menjadi mencari aman. Ketakutan hamba ketiga ini membuat obsesi dirinya hanya untuk melindungi diri dari resiko kerugian dan kemarahan, sehingga ia melupakan tujuan utamanya yaitu bagaimana mengembangkan talenta. Singkatnya ketakutan hamba ketiga ini membunuh dirinya sendiri, tujuannya, tanggung jawabnya, dan juga potensinya.
Kisah perumpamaan talenta ini setidaknya mengingatkan kita tentang kesetiaan melakukan tanggung jawab. Sekali lagi, Tuhan tidak menuntut kesuksesan fantastis atau berlipat kali ganda. Tuhan menuntut kesetiaan untuk mencoba dan berusaha. Oleh karena itu jangan biarkan ketakutan menguburkan potensi kita ke dalam tanah. Mungkin kita hanya punya “satu talenta”; satu keterampilan sederhana, satu kesempatan kecil, dan seterusnya. Namun ketika kita setia dan taat, Tuhan akan mengubah yang satu itu menjadi lebih berharga bagi kemuliaan-Nya. Mari jangan takut, gali kembali apa yang mungkin telah Anda kubur, dan mulailah berkarya. **CWS
