Ketika Kita Mencapai Batas, Allah Belum
Ketika C.S. Lewis kehilangan istri yang sangat dicintainya, ia mengalami pergumulan iman yang begitu pekat. Di tengah masa duka yang menyesakkan itu, ia berteriak mencari Tuhan. Apa yang ia temukan? Di dalam bukunya A Grief Observed, ia mendeskripsikan pengalamannya saat mencari Allah di tengah penderitaan: “Pergilah kepada-Nya saat kebutuhanmu sangat mendesak ... dan apa yang kau dapati? Sebuah pintu yang dibanting di depan wajahmu, dan suara gerendel dikunci dua kali dari dalam. Setelah itu, keheningan.”
Pintu yang Terkunci Rapat
Pengalaman Lewis ini mewakili jeritan batin banyak dari kita. Ada momen-momen dalam hidup ketika kita tiba-tiba berhenti, bukan karena memilih untuk berhenti, melainkan karena tidak bisa lagi melangkah. Bukan karena jalannya tidak ada, tetapi karena di hadapan kita berdiri “pintu yang terkunci rapat” atau sebuah tembok yang menjulang tinggi.
Tembok itu bisa berwajah banyak rupa. Bagi sebagian orang, ia hadir sebagai kelelahan yang tidak hilang meski sudah tidur cukup, atau kelelahan yang tinggal di jiwa, bukan sekadar di badan. Bagi yang lain, ia tampil sebagai pelayanan yang terasa stagnan, doa yang seakan memantul balik tanpa jawaban, atau semangat yang dulu membara kini tinggal bara kecil yang hampir padam. Ada pula yang mengenalnya sebagai tekanan dari luar seperti ancaman, penolakan, situasi yang tidak berpihak, atau lingkungan yang tidak ramah terhadap iman.
Apa pun wajahnya, tembok itu nyata. Dan ketika kita berdiri di depannya, pertanyaan paling dalam pun muncul ke permukaan: Di mana Allah dalam semua ini? Apakah Ia pun sudah kelelahan mengurus saya?
Kabar Baik Bagi Jiwa Lelah: Yesaya 40:28-31
Jika kita melihat latar belakang Yesaya pasal 40, ditulis di dalam situasi lembah paling gelap yang pernah dialami Israel. Bangsa itu berada dalam pembuangan di Babel dimana mereka kehilangan tanah, kehilangan Bait Allah, bahkan kehilangan identitas mereka sebagai umat pilihan. Di dalam kegelapan itu, ada suara yang mulai bergumam di antara mereka: “Tuhan telah meninggalkan kami. Ia tidak lagi memperhatikan nasib kami” (lih. Yes. 40:27).
Maka Allah berbicara bukan melalui penjelasan panjang, tetapi melalui sebuah pertanyaan yang mengguncang: “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu ...” (Yes. 40:28).
Perhatikan bagaimana Allah memulai dengan dua pertanyaan retoris: “Tidakkah kautahu? Tidakkah kaudengar?” Ini bukan teguran yang keras, melainkan sebuah undangan lembut untuk kembali kepada pengetahuan yang sebenarnya sudah mereka miliki tetapi telah dilupakan di bawah tekanan. Seringkali, tembok yang kita hadapi bukan hanya menghalangi langkah kita dimana ia juga mengaburkan penglihatan kita tentang siapa Allah sesungguhnya.
Lalu Allah memperkenalkan diri-Nya kembali bahwa Ia adalah Allah yang kekal (El Olam), bukan Allah yang ada untuk sementara waktu, bukan Allah yang kekuatannya habis seiring waktu. Ia adalah Pencipta yang artinya seluruh realitas yang ada berada di dalam genggaman-Nya, termasuk situasi yang terasa mustahil di hadapan kita. Dan yang paling mengejutkan: Ia tidak pernah lelah dan tidak pernah lesu.
Ini bukan sekadar pernyataan teologis yang abstrak. Ini adalah kabar baik yang paling konkret bagi jiwa yang kelelahan yaitu sumber kekuatan yang kita butuhkan berasal dari Pribadi yang tidak pernah kehabisan kekuatan itu. Kekuatan ini bukan soal muda atau tua, melainkan kekuatan dari Tuhan sendiri (ay. 29-30). Tidak ada kekuatan manusiawi yang cukup untuk menghadapi tembok-tembok yang benar-benar besar dalam hidup ini.
Maka janji di ayat 31 hadir bukan sebagai bonus, melainkan sebagai inti dari seluruh perikop: “... tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lelah; mereka berjalan dan tidak menjadi lesu” (Yes. 40:31).
Kunci dari janji ini ada pada satu kata: menanti-nantikan (qawah dalam bahasa Ibrani). Kata ini bukan sekadar “menunggu dengan pasif” seperti orang duduk di kursi ruang tunggu. Qawah berarti mengarahkan seluruh harapan dan ekspektasi kepada Allah seperti tali yang dipilin dan direntangkan, siap menanggung beban. Ada ketegangan aktif di sana. Ada ketergantungan yang disengaja.
Gambar rajawali bukan sekadar puisi indah. Rajawali tidak terbang dengan mengepakkan sayap seperti burung-burung kecil yang harus bekerja keras melawan angin. Rajawali membentangkan sayapnya dan membiarkan arus udara yang mengangkatnya. Sederhananya kita bukan dipanggil untuk mengepak lebih keras ketika menghadapi tembok, tetapi kita dipanggil untuk membentangkan diri kita kepada Roh Allah yang mengangkat.
Renungan ini menuntun kita pada sebuah penerapan yang sederhana namun radikal, yaitu berhenti berusaha menjadi kuat dengan cara kita sendiri. Selama ini, ketika berdiri di depan tembok kelelahan, stagnasi, atau tekanan yang tak kunjung runtuh, respons alami kita adalah mengepakkan sayap lebih keras dengan cara berdoa lebih panjang, melayani lebih banyak, atau memeras tenaga yang sebenarnya sudah habis. Namun Yesaya 40 justru membalik logika itu. Aplikasi dari “menanti-nantikan Tuhan” bukanlah duduk pasif menunggu keajaiban, melainkan dengan sengaja menghentikan kepakan panik kita, lalu membentangkan seluruh ekspektasi dan harapan kita seperti sayap rajawali di hadapan kuasa Roh Kudus.
Bergantung pada Pembelaan Allah
Ketika menghadapi tekanan dari luar seperti penolakan, kritik tajam, atau lingkungan yang tidak bersahabat, berhentilah merespons dengan pembelaan diri yang reaktif dan melelahkan. Sebaliknya, seperti rajawali yang memanfaatkan tekanan udara untuk melayang tanpa banyak mengepak, kita bisa memandang tekanan itu sebagai kesempatan untuk melatih otot iman kita agar semakin bergantung pada pembelaan Allah.
Di saat keinginan untuk membalas atau membuktikan diri begitu kuat, kita memilih untuk diam sejenak, mengarahkan hati kepada Sang Hakim yang adil, dan menyerahkan nama baik kita ke dalam tangan-Nya. Dengan demikian, kita tidak hanya melewati tembok itu, kita justru diangkat melampauinya dan menerima kekuatan baru untuk berjalan, bahkan ketika berlari terasa mustahil. **CWS
