Bagikan artikel ini :

Kerendahan Hati Adalah Modal Membangun Respons Yang Benar

Apakah setiap orang Kristen yang memiliki pemahaman tentang identitas baru sebagai ciptaan baru di dalam Kristus memiliki respons yang selalu benar atas dirinya dan aspek pengalaman hidupnya? Jawabannya tidak selalu, terlebih ketika menyadari kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki sebagai manusia. Manusia membutuhkan kerendahan hati sebagai modal utama dalam merespons dan menerima kebenaran secara utuh.

 

Kelemahan yang kita miliki dapat terlihat ketika kita begitu mudah melupakan hal-hal indah yang dianugerahkan Tuhan dalam perjalanan hidup kita dan menganggapnya sebagai hasil usaha sendiri. Karena itu, sungguh penting untuk mengingat kualitas karakter dan pola perilaku dalam setiap respons atas segala yang kita miliki dan pengalaman-pengalaman hidup. Apakah semuanya berangkat dan dilandaskan pada karakter kerendahan hati atau kesombongan? Terlebih saat ada anugerah khusus dalam status dan kepemilikan yang lebih dari orang lain, godaan kesombongan dalam memberikan respons menjadi lebih terbuka.

 

Langkah sederhana untuk menjaga karakter kerendahan hati adalah menyadari realitas godaan kesombongan dengan mengambil langkah rendah hati dan berkata, “Tuhan, bagian manakah dalam hidupku yang seharusnya berubah lebih lanjut agar tidak jatuh ke dalam kesombongan? Kualitas hidup apa yang harus aku perjuangkan dan kejar untuk mendemonstrasikan kehidupan yang memperkenankan-Mu?” Kita perlu membangun diri dalam kedewasaan rohani dengan memberikan respons terhadap apa yang kita miliki dan alami melalui sikap ketidakpuasan terhadap kualitas hidup yang kita miliki. John Calvin menuliskan, “Kerendahan hati adalah penyerahan pikiran yang tulus, yang diliputi kesadaran akan kemiskinan dan kelemahan diri.” Calvin menekankan bahwa kerendahan hati lahir ketika manusia berhenti membanggakan diri dan memandang dirinya di dalam terang Kitab Suci serta bergantung pada belas kasihan Allah (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, III.12.6–7).

 

Kehidupan orang Kristen yang membangun karakter kerendahan hati tercermin dari ketidakpuasan dalam merespons ucapan syukur dan sukacita, serta kesadaran untuk mengejar dan memahami kehidupan yang bertumbuh di dalam Kristus. Kristus memanggil kita untuk tidak sekadar menikmati sebagian kecil dari kekayaan kasih karunia-Nya karena Kristus menghendaki setiap orang percaya semakin hidup serupa dengan gambaran-Nya. Allah bermaksud agar ada inisiatif dan kerelaan untuk senantiasa menyelidiki hidup kita di dalam terang pengharapan kita sebagai ciptaan baru di dalam Kristus.

 

Harapan kita dibangun pada janji Allah yang membawa pembebasan dan pemulihan pribadi dalam proses perubahan hidup. Karena harapan yang sejati tidak berakar di dalam prestasi, kematangan hidup, pengetahuan tentang kebenaran, atau kebaikan dalam tindakan. Di dalam Kristus, kita membangun harapan bahwa Kristus memandang kita dengan kelembutan dan belas kasihan. Kita memasuki proses bertahap yang mengubah hidup kita dan menolong kita bertekun dalam kehidupan yang diperhadapkan pada pergumulan demi pergumulan hidup.

 

Kerendahan hati menjadi modal melawan kesombongan dalam merespons realitas kehidupan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan dan rencana kita. Kerendahan hati tercermin dalam pengakuan bahwa segala milik yang ada pada kita merupakan anugerah, termasuk segala pengalaman hidup. Sangat perlu untuk selalu merenungkan sikap hati yang mempercayai sepenuhnya kepada Allah yang hadir dalam kuasa dan kedaulatan-Nya terhadap segala peristiwa kehidupan kita. Oleh karena itu, Kristus senantiasa menawarkan penghiburan dan kelegaan untuk mengantar kehidupan kita dalam proses perubahan hidup yang dikehendaki Allah. J. I. Packer mengungkapkan, “Kita bertumbuh dalam Kristus dengan bertumbuh turun ke dalam kerendahan hati.” Bagi Packer, pertumbuhan rohani bukanlah semakin membesarkan diri, melainkan semakin menyadari kebesaran kasih karunia Kristus dan hidup dalam pertobatan yang terus-menerus (J. I. Packer, A Passion for Faithfulness: Wisdom from the Book of Nehemiah, bagian tentang kerendahan hati). ** HS