Kemuliaan yang Tak Tertandingi
Transfigurasi adalah peristiwa yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan Yesus menuju kepada salib. Peristiwa ini dicatat dalam ketiga Injil sinoptik Matius 17:1-8, Markus 9:2-8, Lukas 9:28-36, menandakan pentingnya peristiwa ini bagi para penulis Injil.
Untuk mengerti peristiwa ini dengan seksama, perlu kita ketahui latar belakang dari peristiwa ini. Jauh sebelum lahirnya Yesus ke dunia, para nabi sudah menubuatkan datangnya Anak Manusia pada akhir zaman. Dalam kitab Daniel pasal 7, Daniel mendapat penglihatan muncul sesosok yang rupanya seperti anak manusia yang akan menerima kuasa dari Allah dan akan memerintah atas bumi, dan kekuasaannya tidak akan pernah berakhir. Anak manusia dalam penglihatan ini memiliki rupa fisik seperti manusia, namun memiliki kuasa ilahi. Dalam penglihatan itu anak manusia muncul setelah binatang keempat, yang adalah kekaisaran Romawi, muncul. Ketika Yesus memulai pelayanannya di bumi, Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang dinubuatkan akan datang dan memerintah selamanya atas bumi.
Peristiwa transfigurasi ini pertama-tama adalah penggenapan dan penjelasan gamblang bagi kita terhadap siapa Yesus dan apa arti pekerjaan-Nya selama di dunia. Dia datang untuk menggenapkan nubuat akan kedatangan Anak Manusia, dan dari peristiwa ini kita dibuat mengerti mengapa Anak Manusia punya rupa manusia namun memiliki kuasa ilahi. Karena Ia adalah Allah yang menjadi manusia, dan ini menjelaskan mengapa pemerintahan-Nya tidak akan berakhir dan kuasa dari kerajaan-Nya akan mencakup seluruh bumi, berbeda dari kuasa dan pemerintahan kerajaan-kerajaan dunia yang sekalipun nampak kuat dan ganas namun runtuh pada waktunya.
Kedua, di dalam Lukas, peristiwa ini terjadi persis setelah Yesus memberitakan akan kematian-Nya. Peristiwa ini menjadi sebuah persiapan bagi para murid, terutama Petrus, Yohanes dan Yakobus, agar iman mereka tidak runtuh bahkan mampu menguatkan saudara-saudaranya ketika berhadapan dengan penyaliban. Dari kacamata para murid yang menanti Yesus di Yerusalem bukanlah penyaliban melainkan takhta, karena dari moment pertama mereka mengikut Tuhan hingga pada hari mati-Nya mereka menyaksikan peneguhan demi peneguhan bahwa Yesuslah Mesias yang dijanjikan, penggenapan akan nubuat datangnya Anak Manusia yang memerdekakan umat Allah dari penindasan dan akan memerintah segala bangsa sampai selamanya. Peristiwa salib meruntuhkan imajinasi murid-murid terhadap Mesias, mereka diperhadapkan dengan rencana Allah yang melampaui pikiran manusia, ternyata Mesias akan memerintah dan berkuasa atas semesta bukan dengan kekerasan, melainkan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi penebusan bagi dosa manusia.
Ketiga, peristiwa ini menjadi penegasan akan otoritas Yesus. Suara dari awan yang berkata “inilah Anak-Ku yang Ku pilih, dengarkanlah Dia.” Menjadi penegasan bahwa Yesus bukan hanya penggenapan segala nubuat dan hukum dalam Perjanjian Lama, lebih daripada itu Dialah yang berotoritas atas segala hukum dan perintah Allah. Dia bukan rabbi yang menafsir dari keterbatasan manusia, Dia adalah yang empunya hukum dan berotoritas diatasnya menyatakan keutamaan Kristus di atas segalanya.
Hari ini kita masih berjumpa dengan para lawan Kristus yang mengkritik dan meragukan otoritas Kristus, namun Allah sendiri sudah menyatakan kepada kita untuk mendengar Dia. ** DK
