Keluarga Tidak Hancur dalam Satu Hari
Tidak ada keluarga yang dibangun dengan harapan untuk menjadi keluarga yang rusak atau hancur. Ketika dua orang menikah, mereka biasanya membawa impian tentang kehidupan yang penuh kasih, kesetiaan, kebahagiaan, dan masa depan yang baik bagi anak-anak mereka. Orang tua selalu ingin anak-anaknya bertumbuh dengan karakter yang baik, mengenal Tuhan, dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa banyak keluarga mengalami keretakan dan kehancuran bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena masalah-masalah kecil yang dibiarkan berulang kali. Komunikasi yang perlahan-lahan berubah menjadi pertengkaran. Kesibukan yang membuat anggota keluarga kehilangan waktu bersama. Orang tua yang menuntut anak-anak menaati aturan, tetapi tidak memberikan teladan. Keinginan untuk mempertahankan keharmonisan yang membuat kesalahan tidak pernah ditegur. Keberhasilan dalam pekerjaan yang dibayar dengan pengabaian terhadap keluarga. Kehidupan rohani yang terlihat baik di luar, tetapi tidak sungguh-sungguh dijalani di rumah. Keluarga dapat tetap tinggal dalam satu rumah, makan di meja yang sama dan berfoto bersama, tetapi secara emosional dan rohani semakin jauh satu sama lain. Keluarga bisa tetap terlihat utuh di luar, tetapi perlahan-lahan kehilangan fondasinya di dalam. Persoalan ini bukan hanya terjadi dalam keluarga masa kini. Alkitab telah memperlihatkan sebuah keluarga yang mengalami kerusakan serius, yaitu keluarga imam Eli dalam 1 Samuel 2:12-29 yang menjadi sebuah refleksi kehidupan keluarga masa kini.
Di dalam Alkitab dituliskan bahwa Eli adalah seorang imam yang melayani di hadapan Allah. Kedua anaknya, Hofni dan Pinehas juga melayani sebagai imam. Secara lahiriah, keluarga ini memiliki kedudukan rohani yang sangat terhormat. Mereka berada di lingkungan rumah Allah, mengenal tata cara persembahan, dan memiliki tanggung jawab penting dalam pelayanan umat Allah pada waktu itu. Namun, dibalik kedudukan tersebut, terdapat kerusakan moral dan rohani yang mendalam. Kedua anak Eli tidak menghormati Allah dan bahkan merusak kekudusan ibadah, menyalahgunakan kedudukan mereka dan memperlakukan persembahan Tuhan dengan hina. Eli sendiri mengetahui perilaku kedua anaknya, tetapi tegurannya tidak disertai tindakan yang memadai untuk menghentikan kejahatan tersebut. Dan puncaknya ketika Allah menegur Eli dalam 1 Samuel 2:29 dengan menyatakan bahwa Eli lebih menghormati anak-anaknya daripada menghormati Allah. Di dalam setiap keluarga, terdapat posisi dan peran yang berbeda-beda di dalamnya, ada yang menjadi ayah, ada yang menjadi ibu, ada yang menjadi anak-anak, ada yang menjadi mertua dan ada peran lainnya. Di balik semua peran dan posisi di dalam keluarga, apakah perilaku anggota keluarga sudah menjalankan peran yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus dan bagaimana respons keluarga terhadap perilaku dosa yang terjadi?
Ada empat hal yang dapat merusak kehidupan keluarga. Hal yang pertama adalah keluarga dirusak ketika Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama. Masalah kedua anak dari Eli, Hofni dan Pinehas adalah mereka tidak mengenal penghormatan kepada Tuhan. Secara harafiah dalam 1 Samuel 2:12 disebutkan kedua anak Eli sebagai anak-anak Belial atau orang-orang jahat yang tidak berguna secara moral. Istilah ini merupakan ungkapan keras yang menggambarkan karakter mereka, bukan sekadar kesalahan kecil dalam perilaku. Dituliskan lebih lanjut mereka berdua juga tidak mengindahkan Tuhan. Di dalam terjemahan harafiahnya, dituliskan bahwa mereka tidak pernah mengenal Tuhan atau mengakui Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka hidup dekat sekali dengan rumah Tuhan, namun mereka melakukan pekerjaan Tuhan bukan ditujukan kepada Tuhan melainkan kepada diri mereka sendiri. Dalam keluarga masa kini, apakah Tuhan sudah menjadi yang terutama? Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat dari segala keputusan yang diambil dalam keluarga? Apakah semua anggota keluarga lebih mengutamakan Tuhan dibandingkan segala prestasi dan keberhasilan duniawi? Apakah Firman Tuhan sudah dipraktekkan dalam kehidupan setiap anggota keluarga?
Hal yang kedua adalah keluarga dirusak ketika ego dan keserakahan mengalahkan kasih. Dalam 1 Samuel 2:13-16 dituliskan bahwa kedua anak Eli mengambil bagian persembahan yang bukan menjadi hak mereka. Mereka bahkan menggunakan ancaman dan kekerasan ketika orang yang membawa persembahan berusaha menjalankan ibadahnya dengan benar. Puncak persoalan utamanya terdapat dalam 1 Samuel 2:17 ketika mereka memandang rendah korban untuk Tuhan. Ungkapan memandang rendah memiliki makna menghina, meremehkan dan memperlakukan sesuatu dengan penghinaan. Mereka mengubah pelayanan yang kudus untuk Tuhan menjadi sarana memuaskan keinginan pribadi. Betapa berbahayanya jika kepentingan diri sendiri menguasai keluarga. Kasih itu sangat berbeda dengan egois. Di dalam kehidupan keluarga Kristen, kita perlu membedakan antara mengasihi seseorang dan selalu menyetujui keputusannya, mengampuni seseorang dan membiarkan kesalahannya berulang tanpa pertanggung jawaban, memberi kepada keluarga dan menggunakan pemberian untuk mengendalikan mereka, menjaga keharmonisan dan menutupi persoalan yang membutuhkan penyelesaian. Kasih yang dewasa tidak pernah menujukkan keserakahan dan kepentingan diri sendiri.
Hal yang ketiga adalah keluarga dirusak ketika orang tua gagal menjalankan tanggung jawab rohani dan moral. Dalam 1 Samuel 2:22-25, Eli mengetahui apa yang dilakukan kedua anaknya dan ia telah menegur anak-anaknya namun teguran Eli tidak disertai tindakan yang cukup untuk menghentikan perilaku jahat kedua anaknya. Persoalannya bukan sekadar Eli memiliki anak-anak yang berdosa, melainkan kegagalannya menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga dan imam ketika menghadapi kejahatan yang serius. Teguran yang tidak pernah ditindaklanjuti dapat mengajarkan pesan bahwa perilaku buruk tidak benar-benar memiliki konsekuensi. Yang menjadi pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang seringkali menyebabkan keluarga tidak berani menegur? Pertama, rasa takut kehilangan kedekatan. Teguran dianggap akan membuat anggota keluarga semakin menjauh satu sama lainnya. Kedua, rasa bersalah. Kebanyakan anggota keluarga beranggapan bahwa semua yang terjadi itu adalah karena kesalahan diri sendiri dan akhirnya tidak ada pendisiplinan. Ketiga, salah memahami kasih. Kasih dianggap harus melindungi anak dari ketidaknyamanan termasuk konsekuensi perilaku dosa yang dilakukan. Kasih yang alkitabiah bukan menutupi dosa, melainkan menyatakan dosa dan belajar memiliki karakter yang seperti Tuhan Yesus Kristus.
Hal yang keempat adalah keluarga dirusak ketika manusia lebih dihormati daripada Tuhan. Eli mengetahui bahwa anak-anaknya telah melakukan kejahatan, ia juga mengetahui bahwa perbuatan anak-anaknya tidak menghormati Tuhan. Namun, ia gagal mengambil sikap yang memadai terhadap kesalahan anak-anaknya. Tuhan tidak mengatakan bahwa mengasihi anak adalah sesuatu yang salah. Masalahnya adalah ketika kasih kepada anak mengalahkan kesetiaan kepada Allah. Kasih kepada keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk mengkhianati kebenaran Tuhan. Ketika penerimaan keluarga menjadi lebih penting daripada kebenaran, ketika mengasihi keluarga didefinisikan menutupi dosa-dosanya. Keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki persoalan, melainkan keluarga yang tidak membiarkan persoalan disembunyikan sampai menghancurkan semua orang di dalamnya. **HH
