Bagikan artikel ini :

Keilahian Roh Kudus (The Deity of the Holy Spirit)

Roh kudus kerap dianaktirikan. Seorang teolog Bernama Alister McGrath pernah berkata bahwa Roh Kudus ibarat Cinderellanya Trinitas. Saat pribadi lain dipuja, Roh Kudus ditingalkan, dilupakan. Bahkan terjemahan kuno dari kata Roh Kudus yaitu “Holy Ghost”, menimbulkan kesan misteri dan ketidakjelasan. Namun siapakah Roh Kudus itu? Kitab Suci dengan jelas menjelaskan bahwa Roh Kudus tidak lain dan tidak bukan adalah Allah (God).

Dalam kisah Ananias dan Safira misalnya dalam Kisah Para Rasul 5:3-4. Roh Kudus disejarjakan dengan Allah. Ketika seseorang berbohong kepada Roh Kudus, itu dipandang juga berbohong kepada Tuhan. Greg Allison: “lie to the Holy Spirit” parallels “lied … to God”. Bahkan jika kita melihat dari sudut pandang atribut Allah, yaitu kemahahadiran-Nya (Mazmur 139: 7-10), kemaahatahuan-Nya (Yesaya 40:13-14), kekekalan-Nya (Ibrani 9:14), maka kita dapat simpulkan Roh Kudus yang memiliki atribut Allah tersebut bukan sekadar roh biasa. Jadi jelas bahwa Roh Kudus adalah sang Ilahi (divine) yang tidak lain dan tidak bukan adalah Allah (God). Bahkan, saat Yesus naik ke sorga, dengan jelas ia mengatakan dalam Matius 28:19, di mana amanat Agung memerintahkan untuk membaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Trinitarian baptism Formula).

Dari sudut padang Trinitas, Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Roh Kudus bukan energi-tenaga mistis yang impersonal, tetapi adalah pribadi yang berkomunikasi, berbicara, memimpin umat-Nya (Kisah Para Rasul 13:2; Yohanes 14:26; Roma 8:14). Roh Kudus pun memiliki kehendak dan keterlibatan aktif dalam rencana Allah (1 Korintus 12:11; Kisah Para Rasul 16:6–7; Kisah Para Rasul 13:2; Roma 8:27). Kaum skeptik senang berkata Roh kudus adalah produk gereja belakangan, hasil sebuah konstruksi teologis imajinatif untuk tujuan politis tertentu. Namun, gereja mula-mula sejak awalnya sudah mengakui keilahian Roh Kudus, terpancar dari liturgi gereja mula-mula dan kehidupan doa kontemplatif yang dipengaruhi oleh konsep Roh Kudus, yang menunjukan realitas pneumatologis (Pneumatological reality) yang sangat kental. Teolog gereja mula seperti Origen ataupun Gregory of Nyssa dengan jelas mengartikulasikan dimensi keilahian Roh Kudus melalui interpretasi kitab Suci dan bukan sekadar tradisi. Roh Kudus bukan eksistensinya absen dalam sejarah dan catatan mula-mula, hanya saja manusia modern yang pembacaanya mengalami bias akibat pola pembacaan abad pencerahan dan pasca pencerahan (enlightenment and post-enlightenment) yang cenderung menghidari realitas yang supranatural dan bersifat roh. Padahal, gerakan pencerahan adalah sebuah kontradiksi. Pencerahan harusnya membawa orang untuk terbuka pada dimensi realitas lebih besar, alhasil justru malah lebih sempit karena menilai hidup hanya dalam konteks material.

Roh Kudus adalah Allah, Allah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Itu sebab, Roh Kudus bukan hanya penting, tapi sangat penting dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus lah yang membuka mata rohani seseorang untuk melihat kebenaran dengan makna yang sejati Kitab suci. Tanpa Roh Kudus, mustahil seseorang bisa mengenal Allah dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan kata lain, tanpa Roh Kudus yang bekerja dalam hidup orang percaya, Yesus yang kita bisa ketahui dan percaya mungkin adalah Yesus palsu hasil konstruksi dan keinginan kita, hasil dari manusia berdosa yang kerap menciptakan Tuhan dari imajinasi kita sendiri.

Pertanyaan bagi kita hari ini, sudahkah kita mengenal Allah Roh Kudus? Sudahkah kita merespons pimpinan Roh Kudus dengan ketaatan dalam hidup kita? **YCT