Diutus Melampaui Alasan
PENDAHULUAN
Ketika seseorang percaya kepada Kristus dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia tidak hanya merasakan sukacita yang besar, tetapi juga mendapat kepastian akan kehidupan kekal. Pengalaman rohani ini biasanya menumbuhkan kerinduan untuk tidak sekadar menjadi orang percaya, tetapi juga melayani Tuhan sebagai ungkapan syukur atas anugerah yang telah diterimanya.
Namun dalam kenyataannya, banyak orang terhenti karena menyadari keterbatasan diri. Perasaan tidak mampu, tidak layak, atau belum siap, sering kali menjadi alasan untuk tidak menaati panggilan pelayanan.
Alkitab mencatat beberapa tokoh yang mencoba menghindari panggilan Tuhan. Contohnya Musa; ketika Tuhan menyuruhnya kembali ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, ia menolak dengan alasan keterbatasan diri dan ketidakmampuan berbicara (Keluaran 3:11; 4:10). Hal serupa terjadi pada Yeremia (Yeremia 1:4–10).
1. Dipanggil Melampaui Alasan
Yeremia dipanggil menjadi nabi bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain pada masa pemerintahan lima raja terakhir kerajaan Yehuda. Ia menghadapi banyak penolakan dan penderitaan, sehingga ia dikenal sebagai “nabi yang menangis”.
Awalnya, Yeremia tidak merespons panggilan Tuhan dengan ketaatan, melainkan dengan penolakan. Alasan yang ia kemukakan secara logika sangat manusiawi. Pada masa itu, orang muda dianggap belum layak berbicara atau memberi nasihat kepada mereka yang lebih tua. Itulah sebabnya Yeremia beralasan, “Aku tidak pandai bicara.”
Namun, ketidakmampuan berkomunikasi bukanlah penghalang bagi panggilan Tuhan. Alasan apa pun tidak dapat membatalkan maksud dan tujuan-Nya. Tuhan memiliki rencana bagi setiap orang, termasuk Yeremia. Sebelum panggilan itu disampaikan, Tuhan berkata: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau ....”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Dia yang memiliki rencana bagi Yeremia adalah Dia yang juga akan memperlengkapinya. Hidup kita bukanlah kebetulan. Kita adalah bagian dari rencana mulia-Nya karena Tuhan mengenal kita lebih dari kita mengenal diri sendiri. Panggilan Tuhan bukanlah “rencana cadangan”, melainkan keputusan ilahi yang sudah ditetapkan bahkan sebelum kita dibentuk dalam kandungan.
2. Responi Panggilan, Tanggalkan Alasan
Yeremia sempat mencoba bertahan dengan alasan lain, yaitu: “... sebab aku ini masih muda.” Sekali lagi, ini adalah alasan yang wajar secara manusiawi karena kefasihan bicara sering kali dikaitkan dengan kematangan usia. Namun, Tuhan yang memilih dan menetapkan adalah Dia yang paling tahu apa yang terbaik. Tuhan menuntut ketaatan, bukan alasan.
Sering kali kita juga berkata, “Saya belum siap,” “Saya tidak bisa,” atau “Saya tidak mampu”. Masalah sebenarnya bukanlah pada kemampuan, melainkan pada fokus. Yeremia terlalu fokus pada dirinya sendiri, bukan pada Tuhan. Begitu pula dengan kita; kita sering terpaku pada keterbatasan diri tanpa menyadari bahwa saat Tuhan memanggil, Dia jugalah yang akan memampukan.
3. Tuhan yang Memanggil, Tuhan yang Menyertai
Menariknya, Tuhan tidak menegur alasan-alasan Yeremia dengan keras, melainkan justru menguatkannya. Setiap perintah Tuhan selalu diikuti dengan janji penyertaan. Tuhan yang mengutus adalah Tuhan yang menyertai.
Ketaatan kita bukan bersumber dari kekuatan diri sendiri, melainkan karena Tuhan yang memperlengkapi. Ada ungkapan: “Tuhan tidak mencari yang mampu, tetapi Tuhan memampukan yang mau.” Dia memanggil setiap pribadi dengan cara yang unik. Oleh karena itu, jangan jadikan keterbatasan sebagai hambatan, karena di tangan Tuhan, keterbatasan justru bisa menjadi alat-Nya. Jika Tuhan yang mengutus, Dia jugalah yang bertanggung jawab.
REFLEKSI
1. Apa alasan yang sering Saudara gunakan untuk menghindari panggilan melayani Tuhan?
2. Apa langkah kecil yang bisa Saudara ambil mulai hari ini untuk menjawab panggilan Tuhan?
Sama seperti Yeremia, kita semua dikenal, dipanggil, dan diperlengkapi oleh Tuhan. Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna; Tuhan hanya menunggu kita bersedia.
DOA
“Tuhan, selama ini mungkin aku memiliki banyak alasan, tetapi hari ini aku memilih untuk taat kepada panggilan-Mu. Amin.”
