Dibentuk Melalui Pendengaran
Berapa banyak orang percaya saat ini yang bertanya, “Bagaimana cara mendengar suara Allah?” “Apakah Allah masih berbicara saat ini?”
Allah Berbicara melalui Firman-Nya
Banyak perdebatan secara teologis mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa Allah masih berbicara pada kita saat ini, sementara yang lain percaya bahwa Allah tidak berbicara lagi. Namun kebenarannya dalam Firman Tuhan melalui Alkitab, berbicara dengan jelas bahwa Allah benar-benar berbicara kepada orang percaya sekarang lebih dari sebelumnya melalui Roh Kudus. Tuhan Yesus sebelum naik ke sorga, mengutus Roh Kudus-Nya untuk menjadi pembimbing, penghibur, dan penolong yang senantiasa menyertai setiap orang percaya.
Seringkali yang membuat kita tidak lagi mendengar suara-Nya, karena terlalu sibuk dengan berbagai suara dunia. Suara yang bising melalui media sosial, layar televisi, dan sebaganya – kesibukan yang lebih banyak yang menyita waktu dan mendominasi perhatian dan telinga kita.
Setiap hari Minggu kita datang beribadah dan mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan dalam 30-45 menit. Setelah itu berapa banyak yang masih kita ingat? Apa yang sudah kita lakukan dari apa yang kita dengarkan? Sebagai orang percaya kita tidak bisa berhenti sampai pada mendengarkan, kita juga harus belajar melakukan apa yang kita dengar. Melakukan akan sangat berarti dalam kehidupan, membentuk kita menjadi peka dalam mendengar suara Tuhan.
Allah Yang Memanggil dan Hati Yang Mendengar
Samuel (1 Samuel 3:1-10, 19-21) ada dalam posisi sebagai pribadi yang sedang belajar saat Tuhan memanggilnya. Ia mendengar suara, tetapi belum mengenal siapa yang berbicara. Di masa itu, firman Tuhan jarang terdengar dan bahkan penglihatan-penglihatan yang dipakai Tuhan untuk berbicara jarang terjadi. Namun dalam situasi itu, Allah memanggil dan Samuel belajar mendengar – bukan sekadar mendengar dengan telinga, tetapi mendengar dengan hati yang taat.
Ketika Allah berbicara, Samuel bukan sedang sibuk bekerja, bukan juga sedang beribadah, tetapi waktu malam ketika sedang tidur, waktu Tuhan selalu tidak dapat kita duga. Samuel butuh waktu untuk mengenal suara itu, dia mengira suara itu adalah suara Eli, sampai tiga kali ia belajar mendengar, ini menjadi proses belajar untuk benar-benar tahu akan suara Tuhan. Mendengar suara Tuhan adalah proses belajar, bukan terjadi secara instan.
“Bicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Sebuah kalimat singkat yang mengajarkan Samuel untuk memberikan jawaban dengan kerendahan hati saat mendengar suara Tuhan. Tuhan memakai Eli untuk Samuel, Tuhan juga dapat memakai gereja, komunitas care group, orang tua, atau saudara seiman, untuk kita bisa mendengar suara-Nya, merespons dengan kerendahan hati, dan yang terpenting adalah melakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketaatan hari demi hari akan memberikan dampak bagi sesama dan bagi kemuliaan Tuhan. Samuel muda yang awalnya bingung membedakan suara, menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan bagi bangsanya.
Penting sekali membangun relasi yang terus menerus dengan Tuhan melalui firman-Nya untuk melatih kepekaan kita mendengarkan suara-Nya, serta merespons setiap kebenaran firman dalam kerendahan hati untuk dilakukan dalam kehidupan setiap hari dalam ketaatan.
Sudahkah kita siap berkata, “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar!” **FJ
