Bagikan artikel ini :

Dari Hati: Mengakui dan Memberi

Berbicara tentang memberi terasa mudah dan menyenangkan ketika kita berada pada kondisi ekonomi yang stabil dan baik. Tetapi bagaimana jika kondisi ekonomi sedang sulit dan buruk? Sebuah penelitian dari Giving USA dan IRS di Amerika menunjukkan pemberian donasi atau amal malah mengalami peningkatan di tahun 2024. Ternyata selalu ada orang-orang yang suka memberi, mampu memberi, dan mau memberi apa yang dimilikinya. Pertanyaannya, apa yang mendorong mereka untuk memberi?

Warren Buffet, salah seorang yang disebut orang terkaya di dunia, berkomitmen untuk memberikan lebih dari 99% dari kekayaannya untuk filantropi. Namun ia memahami bahwa kekayaan yang dimilikinya adalah “kebetulan” seperti menang lotere atau dia sebut ovarian lottery. Kebetulan lahir di waktu, tempat, dan identitas yang menjadikan ia kaya. Namun Daud mengajarkan perspektif yang benar tentang bagaimana seharusnya kita memberi.

Daud datang menghadap Tuhan bukan dengan hati yang bangga karena umat Israel yang begitu antusias dan tulus hati dalam memberikan persembahan sukarela untuk pembangunan Bait Suci. Melainkan Daud datang dengan rasa takjub dan hati bersyukur mengagungkan Tuhan dengan menyadari dan mengakui bahwa segala kekayaan, kelimpahan, dan kesenangan yang dimiliki dan dinikmati manusia datangnya dari Tuhan. Ini merupakan sebuah paradoks tentang memberi dalam kekristenan, yaitu kita memberi bukan dari milik kita karena apa yang kita miliki bukanlah milik kita. Ketika kita merasa memberi pada Tuhan, itu sebenarnya bukan memberi, kita hanya mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan.

Seorang anak kecil menabung dari uang jajannya untuk membelikan orang tuanya suatu hadiah. Ia memikirkan dan menyiapkan yang terbaik dan berkata, “Ini hadiahku untuk papa dan mama.” Anak merasa telah memberikan miliknya kepada orang tua, tetapi sebenarnya ia bisa memberi karena uang jajan yang dia miliki juga berasal dari orang tuanya. Sebab itu orang kristen harusnya menyadari bahwa pemilik hidup dan segala kekayaan, kebanggaan, dan kemuliaan diri kita adalah Tuhan. Kita bukan pemilik, kita adalah penatalayan atau pengelola milik Tuhan.

Jika kita dipercayakan Tuhan banyak berkat, maka tanggung jawab kita adalah bagaimana mengelola dan menggunakan segala berkat Tuhan untuk kemuliaan-Nya. Tuhan tidak pernah meminta melebihi apa yang kita mampu lakukan. Tuhan tidak menuntut seberapa besar jumlah pemberian, seberapa bagus yang kita berikan, melainkan seberapa kita tulus dan mengasihi Tuhan.

Seorang wanita bernama Oseola McCarty bekerja sebagai tukang cuci di Mississippi. Ia telah bekerja selama 75 tahun dan hidup sederhana. Saat berumur 87 tahun, ia mengumpulkan semua tabungannya dan menyumbangkan hampir seluruhnya untuk University of Southern Mississippi agar anak-anak yang tidak mampu dapat menempuh pendidikan yang baik. Wanita itu sebenarnya punya alasan untuk menggunakan uangnya untuk keperluan pribadi atau hidup yang lebih baik.

Ketika kita memahami bahwa apa yang kita miliki berasal dari Tuhan, maka tidak akan ada kebanggaan atas usaha dan jasa diri. Apa yang dipercayakan Tuhan, kita kelola dengan hikmat dan baik. Dengan demikian, memberi bukanlah suatu tekanan atau beban, bukan juga karena kewajiban, tetapi merupakan sukacita. Jangan sampai ketika kita memberi, kita begitu banyak perhitungan dan tekanan seolah kita akan kehilangan milik kita. Atau kita memberi banyak tetapi dengan motivasi dan pemahaman yang tidak benar, itu pun pemberian yang tidak menyenangkan Tuhan. Mari kita belajar memberikan dan mempersembahkan yang terbaik dari hidup dan diri kita untuk dipakai Tuhan jadi berkat bagi gereja, keluarga, dan orang yang membutuhkan dengan hati tulus dan sukacita. **VL