Bukan Tragedi, Bukan Kebetulan, tetapi Providensia Allah
Hidup adalah Tragedi
Tragedi dan kebetulan adalah dua cara manusia di dunia ini memandang kesengsaraan hidup. Pertama, hidup adalah tragedi. Manusia menderita karena nasib yang tak terhindarkan. Pandangan ini tergambar dalam satu mitologi Yunani, tragedi Raja Oedipus. Oedipus anak Raja Laius dan Ratu Jocasta dari Thebes. Waktu lahir, Oedipus telah diramalkan, bahwa saat dewasa ia akan membunuh ayahnya dan menikahi mamanya. Satu tindakan yang akan membawa celaka dan wabah bagi kerajaannya.
Untuk menghindari ramalan ini, ayahnya menyewa seorang gembala untuk membuang Oedipus dan membiarkannya mati. Akan tetapi sang gembala tidak sampai hati melakukannya. Oedipus selamat dan justru dibesarkan oleh keluarga kerajaan di Korintus. Ketika dewasa, ia mendengar ramalan bahwa dirinya akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Ia kemudian meninggalkan Korintus, karena mengira orang tua angkatnya yang akan menjadi korban. Dalam perjalanan ke Thebes, ia bertengkar dengan seorang laki-laki tua dan membunuhnya. Tanpa diketahuinya, itu adalah Raja Laius, ayah kandungnya. Sesampai di Thebes, Oedipus berhasil memecahkan teka-teki Sphinx dan menikahi Jocasta, yang tanpa disadarinya adalah mamanya sendiri. Maka datanglah wabah menghancurkan kerajaannya. Inilah tragedi, nasib yang tak terhindarkan.
Hidup adalah Kebetulan
Pandangan kedua melihat hidup ini sebagai kekonyolan. Life is absurd. Manusia menderita hanya karena kebetulan saja. Albert Camus, filsuf Perancis kelahiran Algeria, menulis satu novel berjudul The Plague. Dalam novel ini Camus menceritakan wabah yang terjadi di Oran, Aljazair. Mulanya korban yang mati sedikit saja, tetapi terus bertambah, seiring wabah menyebar. Wabah tidak memilih-milih korbannya. Orang jahat, orang baik, siapa saja bisa terjangkit. Camus menyimpulkan hidup adalah konyol, terjadi begitu saja. Manusia menderita karena hidup adalah chaos. Penderitaan bukan ulah siapa-siapa, hanya kebetulan saja. Tidak ada nasib maupun tangan dewa yang menentukan.
Dalam kedua pandangan manusia ini, tidak ada solusi. Entah hidup adalah tragedi yang tak terelakkan, entah hidup itu adalah kekonyolan yang terjadi begitu saja. Keduanya membuat manusia hidup dalam keputusasaan. Jika hidup dikontrol oleh nasib, maka tidak ada yang bisa diperbuat selain pasrah saja. Jika hidup adalah kekonyolan, maka tidak ada gunanya bertahan hidup dalam dunia yang tidak bermakna.
Hidup adalah Providensia Allah
Amsal 16:9, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Firman ini menggariskan dua hal yang paralel. Di satu pihak manusia bebas bertindak, berencana dan memutuskan. Hati manusia bebas memikir-mikirkan jalannya. Tetapi di lain pihak ada Allah yang menentukan arah langkahnya. Jadi, hidup manusia bukan ditentukan oleh nasib. Bukan oleh garis tangan ataupun bintang-bintang di langit, tetapi oleh Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Namun, manusia tetap bebas untuk merencanakan dan mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas setiap tindakannya. Providensia sekaligus mengajarkan kehendak bebas manusia dan ketetapan Allah. Keduanya tidak bertentangan, tetapi berjalan beriring sebagaimana dua rel kereta paralel menuju satu arah.
Providensia Allah mengajarkan kehendak bebas manusia. Maka manusia bebas berencana, memikir-mikirkan jalannya, dan menjalankannya. Oleh sebab itu, Alkitab berkata, manusia bebas memilih entah kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk (Ul. 30:19). Manusia bebas memilih, entah menyembah Allah ataukah berhala (Yos. 24:15). Mereka bebas berkehendak dan memilih, maka mereka pun bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan. Apa yang ditabur, juga akan dituainya (Gal. 6:7). Orang memilih berbuat dosa, harus sendiri menanggung hukumannya (Yeh. 18:20; 2Kor. 5:10).
Providensia Allah mengajarkan manusia bebas berkehendak, tetapi Allah jugalah yang menentukan. Maka tidak ada yang terjadi, dapat terjadi tanpa seizin dan kehendak Allah. Berbicara tentang burung pipit, Alkitab berkata, “tidak seekorpun dari padanya akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat. 10:29-31). Dan “undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada Tuhan” (Ams. 16:33). Dengan demikian tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Alkitab berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rom. 8:28). Segala yang terjadi di dunia ini, terjadi bukan karena nasib, bukan karena kebetulan, tetapi oleh providensia Allah. “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu.” Maka hidup ini bukan tragedi, juga bukan kekonyolan, tetapi hidup yang bermakna. Penderitaan memiliki nilai, oleh karena Allah dapat bekerja di dalamnya untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Oleh providensia Allah, maka tidak ada yang sia-sia, bahkan penderitaan pun tidak sia-sia, karena mendatangkan harapan dan kebaikan.
Di sinilah providensia berbeda dengan nasib dan kebetulan. Nasib dan kebetulan mendatangkan keputusasaan. Sedangkan providensia Allah mendatangkan harapan dan kebaikan. Dengan demikian setiap orang percaya perlu mengaminkan bahwa kita tidak hidup di bawah nasib yang buta, dan tidak pula di dalam dunia yang chaos. Kita hidup di bawah providensia Allah yang berdaulat atas segala sesuatu, hadir dalam segala sesuatu, dan bekerja melalui segala sesuatu untuk menggenapkan tujuan-Nya dalam diri setiap kita, yakni kebaikan bagi setiap orang percaya. **PD
