Bukan Sekadar Memulai, tetapi Setia Sampai Akhir
Kita hidup dalam budaya yang sangat pandai memulai, tetapi tidak selalu pandai menyelesaikan. Misalnya saja kita bersemangat memulai membaca Alkitab, berjanji menjaga kesehatan, memulai pelayanan, mengelola keuangan, atau belajar sesuatu yang baru. Namun, setelah semangat awal berlalu, banyak hal berhenti di tengah jalan. Dalam kehidupan iman pun demikian. Mudah untuk berkata, “Tuhan, aku mau mengikut Engkau.” Tantangannya adalah tetap mengikut Dia ketika perjalanan menjadi panjang, melelahkan, dan tidak selalu memberi hasil yang segera terlihat.
Di sinilah gagasan finishing well menjadi penting. Mengakhiri dengan baik berarti bukan sekadar pernah memulai dengan benar, melainkan tetap berjalan dalam arah yang sama sampai garis akhir. Eugene Peterson menggambarkan pemuridan sebagai long obedience in the same direction, yaitu ketaatan yang panjang dalam arah yang sama. Ia mengingatkan bahwa budaya yang menginginkan segala sesuatu dengan cepat sangat tidak cocok dengan proses pertumbuhan iman yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Kehidupan Kristen bukan kehidupan wisatawan yang hanya mencari pengalaman-pengalaman istimewa, melainkan perjalanan seorang peziarah menuju Allah.
Namun, bagaimana mungkin seseorang dapat terus setia sampai akhir? Westminster Confession of Faith menyatakan bahwa mereka yang telah diterima di dalam Kristus, dipanggil secara efektif, dan dikuduskan oleh Roh Kudus untuk bertekun sampai akhir dan diselamatkan. Dasar ketekunan itu bukan kekuatan kehendak manusia, melainkan kasih Allah Bapa, karya dan syafaat Kristus, kehadiran Roh Kudus, serta perjanjian anugerah.
Penjelasan diatas adalah konsep Perseverance of the Saints sebagaimana diajarkan dalam rangkaian utuh doktrin keselamatan Kristen. Perseverance bukan berarti orang Kristen tidak pernah jatuh. Westminster Confession of Faith mengakui bahwa orang percaya dapat jatuh ke dalam dosa yang serius dan untuk sementara mengalami kemunduran. Tetapi Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Schreiner dan Caneday di dalam bukunya “The Race Set Before Us: A Biblical Theology of Perseverance and Assurance” menolong kita melihat bahwa peringatan-peringatan Alkitab justru menjadi sarana yang Allah pakai untuk menjaga umat-Nya tetap setia. Janji dan peringatan berjalan bersama, dimana Allah menguatkan iman dengan menjanjikan pemeliharaan-Nya sekaligus memperingatkan kita agar tidak menyimpang.
Kita melihat gambaran ini dalam diri Kaleb. Dalam Bilangan 14:24, Tuhan berkata bahwa Kaleb mempunyai “roh yang berbeda” dan mengikut Tuhan dengan sepenuhnya. Kaleb tidak berbeda karena ia tidak melihat kesulitan. Ia melihat ancaman yang sama dengan sepuluh pengintai lainnya. Perbedaannya adalah ia mempercayai Tuhan di tengah keadaan yang membuat orang lain takut.
Empat puluh tahun kemudian, Yosua 14:6–12 memperlihatkan bahwa kesetiaan itu tidak berhenti pada satu momen heroik. Kaleb masih mengingat janji Tuhan, masih percaya, dan pada usia lanjut masih berkata, “Berikanlah kepadaku pegunungan itu.” Kesetiaan sejati diuji bukan hanya ketika kita berkata “ya” kepada Tuhan, tetapi ketika kita harus terus berkata “ya” selama bertahun-tahun.
Apa arti ketekunan orang kudus bagi kita? Pertama, jangan mengukur kesetiaan Tuhan dari cepatnya keadaan berubah. Kaleb menunggu puluhan tahun. Penantian dapat menjadi tempat Allah membentuk iman. Kita perlu melihat pentingnya belajar menunggu dan memberi ruang bagi Allah bekerja dalam hidup kita.
Kedua, jangan menjadikan kesetiaan sebagai alasan untuk mengandalkan diri sendiri. Kita bertekun karena Allah memelihara kita. Kita memang dipanggil untuk terus percaya, taat, dan bertekun sampai akhir. Namun, ketekunan itu bukan hasil kekuatan kita sendiri. Masih di dalam bukunya, Schreiner dan Caneday menegaskan bahwa ketika orang percaya bertekun dalam kesetiaan kepada Kristus, mereka melakukannya karena Allah sendiri yang memampukan mereka melalui kasih karunia-Nya. Dengan demikian, ketekunan kita bukan alasan untuk membanggakan diri, melainkan alasan untuk semakin bergantung kepada Allah.
Ketiga, gunakan sarana yang Tuhan berikan untuk memelihara iman: Firman, doa, persekutuan, nasihat, dan peringatan. Semua itu bukan sekadar formalitas keagamaan, melainkan bagian dari perjalanan kita untuk terus mengikuti Kristus. Eugine Peterson dalam tulisannya “A Long Obedience in the Same Direction” mengingatkan bahwa ketaatan kepada Kristus adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kehidupan doa yang terus bertumbuh. Melalui doa dan Firman, kita belajar membawa seluruh pengalaman hidup kepada Allah dan mengenali-Nya sebagai Pribadi yang menyertai serta memelihara kita di sepanjang perjalanan.
Keempat, ingat bahwa jatuh bukan berarti selesai. Peterson menegaskan bahwa ketekunan bukan berarti kesempurnaan, melainkan terus berjalan bersama Tuhan dan tidak berhenti ketika kita menyadari bahwa kita masih belum dewasa. Dalam perjalanan iman, kita bisa jatuh dan mengalami kelemahan, tetapi kita dipanggil untuk terus melangkah dalam arah yang sama, yaitu menuju Tuhan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah saya sudah memulai dengan baik?” Pertanyaan yang lebih penting ialah, “Apakah oleh anugerah Allah saya terus berjalan bersama Kristus?” Kaleb mengingatkan kita bahwa perjalanan iman adalah perjalanan panjang. Kita dipanggil untuk setia sampai akhir, tetapi kita tidak berjalan sendirian. Allah yang memanggil kita adalah Allah yang juga memelihara kita sampai akhir. **CWS
