Bagikan artikel ini :

Bertumbuh Mendalam dalam Firman: Berakar dalam Kebenaran

Pada tahun 2007, The Washington Post mengadakan sebuah eksperimen sosial. Joshua Bell, seorang maestro biola dunia, mengenakan topi bisbol dan menyamar sebagai pengamen di stasiun bawah tanah Washington D.C. saat jam sibuk pagi hari. Menggunakan biola Stradivarius senilai 3,5 juta dolar, ia memainkan karya klasik yang sangat rumit selama 45 menit. Ironisnya, lebih dari seribu orang lewat begitu saja dan hanya tujuh orang yang sempat berhenti mendengarkan. Padahal, baru beberapa hari sebelumnya, ribuan orang mengantre dan membayar tiket konser mahal seharga ratusan dolar di teater hanya demi menyaksikannya bermain biola.

Kisah di atas mirip seperti kisah dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Lukas 24:13-35), mereka berada sangat dekat dengan Yesus, namun tidak mengenali-Nya (ay. 15-16). Mengapa mata mereka tertutup? Masalahnya bukan karena mereka kekurangan informasi. Mereka tahu persis fakta sejarah tentang pelayanan Yesus, penyaliban-Nya, bahkan berita tentang kubur yang kosong dari para wanita. Namun, semua pengetahuan itu tidak menyelamatkan mereka dari rasa bingung, kecewa, dan patah hati. Mereka memahami fakta-fakta tentang Kristus secara intelektual, tetapi mereka gagal memahami makna rohani di balik karya penebusan-Nya.

Yesus langsung menyingkapkan akar masalahnya: pemahaman Firman yang dangkal. Alih-alih menghibur mereka dengan mukjizat instan, Yesus menegur mereka dengan keras. Yesus menyelesaikan krisis iman ini melalui pendalaman Kitab Suci. Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang diri-Nya dalam seluruh Alkitab, mulai dari kitab-kitab Musa hingga nabi-nabi (ay. 27). Di sini kita belajar bahwa seluruh Alkitab adalah sebuah kesatuan cerita yang berpusat dan menuliskan tentang Yesus Kristus.

Kisah ini menjadi cermin bagi kita. Sering kali kita pun mengalami kebutaan yang sama. Kita datang ke gereja, menghafal ayat, dan membeli “tiket” rutinitas agama, namun gagal mengenali kehadiran Yesus dalam kehidupan sehari-hari karena hati kita terlalu sibuk dan dangkal dalam menggali dan menghidupi Firman. Luangkanlah waktu dengan sengaja setiap hari untuk duduk diam, membuka Alkitab, dan menggali Firman-Nya dengan sungguh-sungguh sampai hati kita berkobar-kobar. Jangan biarkan Alkitab kita berdebu sementara jiwa kita kelaparan.

Mari kita bersandar sepenuhnya pada kebenaran Kitab Suci, agar mata rohani kita dicelikkan untuk peka mengenali Sang Maestro Kehidupan yang selalu setia hadir dan berjalan di samping kita. **VL