Berakar dalam Kepekaan Rohani
Efesus 5:15-17
Mengerti kehendak Tuhan menjadi satu pergumulan dan pertanyaan banyak orang Kristen selama berabad-abad, terutama ketika akan mengambil suatu keputusan besar dalam hidup. Bagaimana caranya saya sungguh tahu kehendak Tuhan dalam hidup saya? Apakah pikiran dan perasaan yang saya miliki berasal dari Tuhan atau hanya kehendak dan keinginan saya sendiri? Itu mengapa discernment atau kepekaan rohani menjadi satu topik besar dalam spiritualitas kristiani.
Pertama-tama izinkan saya meluruskan satu hal penting berkenaan kehendak Tuhan sebelum kita membahas lebih lanjut tentang discernment. Ada satu asumsi terselubung dibalik pencarian orang Kristen akan kehendak Allah. Banyak orang berasumsi jika mereka mengerjakan kehendak Allah maka pekerjaan mereka tidak akan gagal dan jalan yang harus dilalui tidaklah berliku. Ini satu asumsi yang keliru, karena definisi kita akan keberhasilan dan kelancaran hidup seringkali berkebalikan dengan rencana dan kehendak Allah.
Ambil contoh Elia, seorang yang dipanggil menjadi nabi untuk memperingatkan bangsanya, terutama para pemimpin mereka agar berbalik dari jalan yang jahat kembali kepada Tuhan. Menurut ukuran keberhasilan manusia maka Elia baru dinyatakan berhasil jika ia mampu mempertobatkan seluruh bangsanya. Nyatanya hingga akhir hidupnya tidak banyak orang bertobat, bahkan raja Ahab tetap menjadi penyembah berhala sekalipun sudah menyaksikan banyak mukjizat.
Apakah berarti Elia gagal di mata Allah? Ternyata tidak demikian, dari awal Elia taat mengikut kehendak Tuhan, dan ukuran keberhasilannya tidak dihitung dari jumlah jiwa yang mampu dipertobatkan, melainkan dari kesetiaan Elia mengerjakan seluruh kehendak dan rencana Tuhan dalam hidupnya. Karena dari itu, obsesi kita akan menemukan kehendak Tuhan pertama-tama perlu dimurnikan dari asumsi bahwa mengikut kehendak Tuhan pasti berhasil. Definisi berhasil Tuhan berbeda dengan kita. Kita mencari dan mengikuti kehendak Tuhan bukan untuk menjamin keberhasilan melainkan karena itulah yang tepat dan berkenan kepada hati Tuhan untuk dikerjakan oleh kita umat-Nya.
Lalu bagaimana selama ini orang percaya membedakan kehendak Allah? Dalam sejarah spiritualitas Kristen kita menemukan orang-orang yang menggumulkan pertanyaan yang sama dan dari tulisan-tulisan mereka ada garis besar pemikiran yang sama yang dapat kita ambil menjadi petunjuk bagi kita yang bergumul hari ini. Pertama untuk kita bisa mengenal kehendak Allah kita tidak dapat terlepas dari Alkitab. Ada hal-hal yang tampaknya baik namun pada prinsipnya bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan maka ini menjadi pertanda pertama bahwa dorongan ini bukan berasal dari Allah melainkan kuasa lain ataupun kehendak kita yang mendasarinya. Hal ini penting kita pahami karena Alkitab sendiri menyaksikan iblis dapat menghadirkan dirinya sebagai malaikat terang, karena itu mudah sekali untuk iblis menaruh pikiran yang awalnya tampak baik namun membawa kita pada kehancuran. Sebaliknya Allah tidak pernah berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri, apa yang berasal dari Allah akan konsisten dengan kebenaran firman Tuhan.
Jangkar kedua untuk kita mengenal kehendak Allah adalah komunitas. Mengenal kehendak Allah tidak dapat dilakukan dalam isolasi total. Iblis dapat menaruh pikiran yang tampak baik dalam hati kita namun membawa kepada kehancuran, jika kita sendirian maka tidak ada orang untuk menjadi rekan berdiskusi dan menolong kita mengkonfirmasi apakah pikiran dan perasaan yang saat ini saya miliki berasal dari Allah. Disinilah pentingnya memiliki komunitas. Kita punya kecenderungan merasa apa yang saya pikir dan saya rasa sebagai kebenaran, sekalipun pada kenyataannya tidak demikian, karenanya untuk kita dapat mengkalibrasi ulang pikiran kita seturut kehendak Allah maka kita memerlukan saudara seiman, jika memungkinkan yang lebih bijaksana dan dewasa rohani, untuk menjadi pembimbing kita menentukan apakah dorongan dalam hati kita berasal dari Allah.
Terakhir, diperlukan adanya kejujuran dalam diri, karena pada akhirnya kita adalah makhluk yang mampu menipu diri sendiri, membungkus segala hal yang salah dengan kata-kata manis dan indah, namun hati kita, jika memang Roh Allah tinggal dalamnya, akan menegur dan menggelisahkan kita. Karenanya jangkar ketiga mengenal kehendak Allah adalah damai sejahtera. Jika ada damai sejahtera menyertai kita dalam setiap langkah sekalipun kesulitan menerpa, maka kita sedang berjalan dalam kehendak Tuhan. **DK
