Arsip tema sepekan

Bagikan artikel ini :

True Prosperity: Living Before God

Lukas 12:31-21

 

EKSPRESI PRIBADI

Di zaman modern ini, salah satu godaan terbesar manusia adalah soal uang, harta, dan kekayaan. Banyak orang, baik secara sadar maupun tidak, menilai dirinya berdasarkan seberapa besar saldo rekening mereka, merek pakaian yang mereka pakai, mobil yang dikendarai, atau restoran tempat mereka makan. Ukuran keberhasilan dan berkat sering kali direduksi menjadi materi semata. Tanpa disadari, harta menjadi standar nilai hidup, bahkan bisa menggantikan posisi Tuhan di dalam hati.

Budaya hustle, konsumerisme, dan pencapaian ekonomi mendorong manusia untuk terus mengejar “lebih”: lebih kaya, lebih mapan, lebih diakui. Akibatnya, manusia bisa menjadi “gila harta”, lupa pada relasi, lupa pada sesama, dan bahkan lupa kepada Tuhan. Ironisnya, dosa ini tidak hanya mengintai orang di luar gereja. Orang percaya pun tidak imun dari dosa keserakahan.

EKSPLORASI FIRMAN

Dalam Lukas 12:13–21, Tuhan Yesus menghadapi orang yang datang kepada-Nya dengan masalah warisan. Dalam budaya Yahudi, seorang rabi memang sering diminta menjadi penengah dalam persoalan hukum, termasuk warisan. Namun, Tuhan Yesus menolak menjadi hakim. Aneh sekali, bukan? Salomo saja tidak menolak ketika dua orang sundal datang membawa perkara mereka kepadanya (1 Raj. 3:16-28). Mengapa Tuhan Yesus justru kelihatannya tidak peduli dengan masalah orang ini? Apakah ini berarti kalau kita sedang bersengketa hukum dengan saudara kita perihal warisan, kita tidak boleh datang dan berdoa kepada Tuhan?

  1. Ketamakan, bukan Ketidakadilan Ekonomi, Kebutuhan, atau Kekurangan

Sebenarnya, Tuhan Yesus tidak menolak orang tersebut. Yang Ia tolak adalah masuk ke dalam persoalan teknis dari warisan tersebut. Mengapa? karena Ia melihat masalah yang jauh lebih serius, yaitu hati yang terikat pada harta. Penolakan ini bukan karena Yesus tidak peduli pada keadilan, melainkan karena keadilan ekonomi tidak akan pernah menyelesaikan masalah jika hatinya masih dikuasai oleh ketamakan. Dengan kata lain, masalah utama sebagian besar orang bukanlah soal ketidakadilan, melainkan keserakahan yang rela merusak relasi demi kepemilikan.

Karena itu Yesus memperingatkan semua orang yang mendengar-Nya:
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.” (ay. 15).
Sering kali kita mengabaikan kata “segala” di bagian sini. Padahal, kata ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa ketamakan memiliki banyak bentuk. Kerapkali kita menganggap ketamakan sebagai keinginan memiliki yang tidak wajar. Padahal, ketamakan jauh lebih luas dari itu. Kadang ketamakan bersembunyi di balik tuntutan “hak,” “kebutuhan,” atau bahkan “keadilan hukum.” Motivasi di balik tuntutan-tuntutan ini tidak selalu murni, melainkan bisa saja diiringi hati yang serakah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegaskan satu kebenaran penting, yakni bahwa hidup manusia tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak ia memiliki.

Untuk memperjelas peringatan ini, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang kaya yang tanahnya menghasilkan panen sangat berlimpah (ay. 16). Perhatikan bahwa kelimpahan ini bukan hasil kecurangan atau kejahatan. Alkitab menyebutnya sebagai hasil tanahnya, menunjukkan bahwa ini pun berkat Tuhan. Namun di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Ketika berkat datang, apa yang dilakukan manusia dengan berkat itu?

Orang kaya ini memikirkan sebuah solusi yang hanya berpusat pada dirinya sendiri: merobohkan lumbung lama, membangun yang lebih besar, menyimpan semuanya, dan menikmati hidup tanpa rasa cemas (ay. 17–19). Fokus hidupnya adalah keamanan dan kenyamanan jangka panjang di dunia ini. Yang mencolok dari perumpamaan ini justru bukanlah apa yang terjadi, melainkan apa yang tidak ada. Tidak ada Tuhan dan sesama manusia yang dilibatkan dalam pertimbangannya. Tidak ada doa, tidak ada rasa syukur, tidak ada pertanyaan tentang kehendak Tuhan, dan tidak ada kepedulian terhadap orang miskin. Semua rencananya bersifat horizontal dan egoistis. Inilah gambaran ketamakan sejati: bukan sekadar memiliki banyak, tetapi hidup seolah-olah hidup sepenuhnya berada di dalam kendali diri sendiri.

  1. Kelimpahan Sejati ada di Dalam Tuhan

Bagian Firman Tuhan ini menjawab sebuah pertanyaan mendasar: apa arti “kaya di hadapan Tuhan”? Tuhan Yesus tidak berkata bahwa kekayaan materi itu jahat, tetapi bahwa kekayaan yang tidak diarahkan kepada Tuhan dan sesama adalah kekayaan yang kosong. Sebab, kelimpahan sejati tidak diukur dari seberapa penuh lumbung kita, melainkan dari seberapa penuh relasi kita dengan Tuhan. Orang kaya dalam perumpamaan itu memiliki banyak harta, tetapi miskin secara rohani. Ia aman secara finansial, tetapi bangkrut secara kekekalan.

Menjadi “kaya di hadapan Tuhan” berarti hidup dengan kesadaran bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya. Kelimpahan sejati adalah hidup yang bergantung kepada Tuhan, bukan pada saldo, aset, atau jaminan duniawi. Orang yang kaya di hadapan Tuhan mungkin saja hanya memiliki sedikit harta material, tetapi ia memiliki hati yang puas di dalam Tuhan.

Dengan perspektif ini, harta tidak lagi mengendalikan hidup kita. Sebaliknya, kita dimampukan untuk mengelola berkat Tuhan dengan bijaksana, yakni untuk menolong sesama, mendukung pekerjaan Tuhan, dan menyatakan kasih Tuhan secara nyata. Inilah kehidupan yang tidak hanya berkelimpahan di dunia, tetapi juga dalam kekekalan.

Kelimpahan sejati adalah hidup di hadapan Tuhan, hidup yang menyadari bahwa Tuhan adalah sumber, tujuan, dan kepuasan tertinggi manusia. Hanya dalam hidup seperti inilah, manusia benar-benar menjadi kaya, baik sekarang maupun untuk selama-lamanya.

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Jika Tuhan “menarik hidup Anda hari ini”, apa yang tersisa dari hidup Anda? Apakah hidup Anda sudah kaya di hadapan Tuhan, baik dalam iman, kasih, ketaatan, dan relasi? Atau justru lebih banyak dipenuhi dengan mengumpulkan harta duniawi bagi diri sendiri?

Penerapan

Bagaimana Anda mengelola berkat yang Tuhan percayakan? Apakah Anda sudah melihat diri Anda sebagai penatalayan Tuhan, yakni sebagai pengelola dan bukan pemilik, atas uang, waktu, dan talenta yang Tuhan berikan kepada Anda?

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain