Bagikan artikel ini :

The OBEDIENCE That Changed Everything (KETAATAN yang Mengubah Segalanya)

Roma 5:18–19; Yohanes 4:34

 

EKSPRESI PRIBADI

Apakah kita pernah mengalami hukuman satu kelas saat kita di sekolah? Padahal barangkali yang menjadi ”biang kerok” hanyalah satu orang saja. Atau, gara-gara kesalahan satu karyawan yang kurang hati-hati mengambil keputusan, maka seluruh tim terpaksa harus menanggung kerugiannya dengan dipotong gajinya. Atau contoh lainnya lagi, selama ini sih kita hidup baik-baik saja, namun karena satu kesalahan saja, maka hal tersebut membuat kita tidak dipercaya lagi. Inilah arti dari sebuah peribahasa yang berkata:  “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Demikian pula dalam teks Alkitab kita hari ini (Roma 5:18-19) akan membahas dampak dari satu pelanggaran yang mengakibatkan hukuman bagi seluruh keturunan manusia. Namun, puji Tuhannya, ada pula sisi kabar baiknya yaitu dengan adanya satu ketaatan, maka ada pengharapan bagi nasib hidup manusia di kekekalan. Mari kita akan membahasnya lebih lengkap melalui diskusi CG kita pada hari ini, dilengkapi juga dengan teks Alkitab lainnya (Yoh 4:34). 

 

EKSPRESI FIRMAN

  1. Oleh karena satu Pelanggaran

Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman... oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Rm 5:18-19). Masalah dosa manusia bermula dari satu pelanggaran Adam. Ini bukan sekadar sebuah dosa kecil, tetapi dosa yang berdampak besar. Ingat natur dosa adalah diwariskan, dalam hal ini Adam sebagai perwakilan dari manusia ciptaan Allah telah melanggar dan itu diturunkan dampaknya kepada seluruh keturunan manusia melalui Adam. Sehingga, dalam hal ini tidak hanya manusia Adam saja yang akhirnya tercengkram oleh dosa, melainkan cengkraman dosa itu beranak pinak selanjutnya pribadi demi pribadi kepada keturunan Adam selanjutnya. Jadi, bicara dosa tidak lagi sekedar sebuah perbuatan semata, tetapi sebuah status keberdosaan yang diwariskan. Dan, di mata Allah, tidak ada seorang pun yang benar, seorang pun tidak. ”...semua orang telah berbuat dosa...” (Rm 3:23). Hal ini menjadikan eksistensi kuasa dosa itu begitu nyata menghancurkan, membelenggu dan menyiksa segenap aspek kehidupan manusia, baik secara fisik maupun rohani, dan berujung pada kematian kekal. Salah satu gambaran betapa menyiksanya dosa dalam kehidupan ini telah dilukiskan oleh rasul Paulus dalam kalimat yang bernadakan kefrustasian, yaitu “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan yang jahat yang tidak aku kehendaki.” (Rm 7:19)

  1. Oleh karena satu Ketaatan

”...demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup...demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Rm 5:18-19). Masalah dosa pun diselesaikan melalui ketaatan sempurna dari satu orang, yaitu Yesus Kristus sebagai ”Adam Kedua” (the second Adam). Mengapa disebut ”satu” cukup, karena ketaatan-Nya tuntas dan sempurna di mata Allah. Ibrani 9:28 berkata, ” Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.” Dalam hal ini ketaatan Kristus di kayu salib adalah sebuah pengorbanan yang tidak perlu diulang-ulang. Satu kali kematian-Nya sudah cukup untuk menebus dosa  seluruh umat manusia di dunia (kaum pilihan Allah). Jadi, satu pelanggaran oleh Adam membawa dosa, sementara satu ketaatan oleh Kristus membawa keselamatan. Dampak satu kali kematian Kristus itu berdampak kekal bagi kita umat pilihan Allah yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya. ”Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan oleh persembahan tubuh Yesus Kristus satu kali untuk selama-lamanya” (Ibr 10:10).

  1. Untuk Melakukan dan Menyelesaikannya

Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Latar belakang ayat ini adalah ketika Tuhan Yesus diminta makan oleh murid-muridNya setelah berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Disini Yesus memberikan pengajaran yang lebih dalam soal ”makanan.” Pada umumnya tujuan dari seorang makan adalah untuk memberi kekuatan , kepuasaan, dan menopang kehidupan. Demikian pula, Tuhan Yesus menjadikan ketaatan-Nya dalam melakukan kehendak Bapa sebagai hal yang memberi-Nya kepuasaan dan kekuatan untuk menjalani misi hidupNya di dunia. Dan Yesus tidak hanya melakukannya, tetapi Dia juga menyelesaikannya. Ini yang luar biasa. Dia tidak hanya ”starting well” tapi juga Dia ”finishing well.” Dan salah satu perkataan Nya di kayu salib adalah ”tetelestai” artinya: ”telah diselesaikan sepenuhnya” atau “tuntas sekali untuk selamanya.” “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yoh 19:30). Dalam hal ini, ketaatan Yesus sungguh adalah teladan dalam hal melakukan dan menyelesaikannya (sampai tuntas).  

 

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Apakah Anda pernah setengah hati dalam menjalankan perintah dan kehendak Tuhan. Bagaimana ketaatan Krisus yang penuh menginspirasi Anda dalam hal ini? Sharingkanlah

Penerapan

Apakah ada tekad di awal tahun 2026 yang telah kita mulai namun saat ini kita malas untuk menyelesaikannya? Apa yang perlu kita lakukan untuk bangkit kembali meneruskannya sampai tuntas? [CK]