Bagikan artikel ini :

The Father Who Doesn't Quit (Seorang Ayah Yang Tidak Menyerah)

Mazmur 103:13-14 dan Ibrani 12:7-11

Ekspresi Pribadi

Saya masih ingat waktu kecil, saya jatuh dari sepeda berkali-kali. Ayah saya tidak pernah mengambil sepeda itu dan membuangnya. Ia malah memperbaiki stang yang bengkok, memperbaiki rantai yang terlepas ke posisi yang seharusnya, lalu ia meniup lutut saya yang lecet, dan berkata, “Coba lagi.” Saya benci saat itu, tapi sekarang saya bersyukur. Ia tidak menyerah untuk hadir dan mendidik saya.

Ini adalah sebuah kesaksian sederhana dari seorang anak yang terkesan dengan ayahnya. Sekalipun tidak sempurna, baginya ia adalah ayah yang baik, yang selalu mendukung dan memberi perhatian. Bagaimana dengan Anda? Figur seperti apa ayah Anda? Silahkan setiap anggota CG dapat menceritakan moment penting dan tidak terlupakan dalam kebersamaan Anda dengan ayah!

Eksplorasi Firman

Peran seorang ayah itu bersifat paradoks. Di satu sisi penting, namun juga tidak mudah dan menakutkan! Di satu sisi, sebagai ayah, kita harus bangga, karena kita memiliki peran yang sangat penting dan berpengaruh di dalam keluarga. Dalam bukunya yang berjudul Be a Better Dad Today, Gregory W Slayton mengatakan “tidak ada tugas yang lebih penting di dunia daripada menjadi seorang ayah yang baik, dan Anda adalah orang dengan kriteria terbaik di seluruh dunia untuk tugas itu bagi keluarga Anda. Anda tak tergantikan.” Tetapi jangan lupa di sisi lain, di dalam menjalankan peran penting, pada kenyataannya tidaklah mudah. Wihelm Busch pernah mengatakan “Menjadi ayah tidaklah sulit, menjadi ayah yang benar, itu yang sulit.” Buktinya, tidak sedikit anak dengan kenangan buruk bersama ayag mereka, ayah yang tidak hadir, ayah yang menyerah dan pergi, ayah yang keras tanpa kasih, ayah yang tidak peduli dan pemarah, dan sederet sikap buruk lainnya yang membuahkan luka dan trauma.  

Kita harus akui kenyataan bahwa tidak ada ayah yang sempurna. Bahkan ayah terbaik sekalipun memiliki keterbatasan. Karena itu, pada akhirnya kita perlu mengalihkan pandangan kita kepada Allah yang kerap menyatakan Diri-Nya sebagai Bapa yang sempurna.  Dialah figur ayah yang ideal, dimana melaluinya kita dapat memahami seperti apa kasih dari seorang ayah yang sejati. Khususnya melalui Mazmur 103:13-14 serta Ibrani 12:7-11 membawa kita untuk mengenal Dia sebagai "The Father Who Doesn't Quit" — Bapa yang tidak pernah menyerah mengasihi kita dalam kelemahan kita, dan tidak pernah menyerah membentuk kita menjadi serupa dengan kehendak-Nya.

Kasih yang lembut dan penuh perhatian (Mazmur 103:13-14)

Mazmur 103 adalah mazmur pujian yang berpusat pada kemurahan dan kasih setia Allah. Menariknya, ketika Daud ingin menggambarkan kasih Allah yang begitu besar, ia memilih gambaran yang sangat dekat dan personal: kasih seorang ayah kepada anaknya. Daud menulis, “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Ia tahu apa kita ini, Ia ingat bahwa kita ini debu.” Kata “sayang” di sini dalam bahasa Ibrani adalah racham, menegaskan belas kasihan yang mendalam, kasih yang lahir dari ikatan yang sangat intim. Kata ini berasal dari akar kata rechem, yang berarti rahim (womb) dari seorang ibu. Dalam budaya Ibrani, rahim dipandang sebagai simbol tempat kehidupan dipelihara, dilindungi, dan dikandung dengan penuh perhatian. Dengan kata lain, kasih yang digambarkan di sini bukanlah kasih yang dingin, rasional, formal, atau sekadar kewajiban. Ini adalah kasih yang penuh kelembutan, perhatian, dan keterikatan emosional yang mendalam. Hal ini menjelaskan dimensi lain dari kasih Allah yang bersifat maternal.

Namun yang menarik, alasan Allah mengasihi bukanlah karena anak-anak-Nya ideal dan layak dikasihi. Tetapi justru karena Ia mengenal mereka rapuh, terbatas, fana, mudah hancur, mudah diterbangkan angin, tidak memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri sebagaimana dikatakan di ayat 14 bahwa “Ia ingat bahwa kita ini debu,” belas kasihan-Nya makin nyata. Di dunia ini, banyak ayah yang mudah menyerah dan berhenti mengasihi karena kecewa dengan anaknya yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi Allah, Sang Bapa Surgawi tidak bersikap demikian. Sejak awal, sudah tahu realitas hidup kita dengan segala keterbatasan dan kerapuhannya yang membuat kita mudah gagal, mudah jatuh dalam dosa, terkadang ragu, takut dan tidak setia—dan Ia tetap memilih dan memutuskan untuk mencintai kita. Ia selalu membuka tangan, memeluk kita dan memulihkannya. Ia tidak pernah berhenti mencintai kita, apapun keadaannya. A.W. Tozer dalam bukunya The Knowledge of the Holy, menegaskan kebenaran ini, bahwa 'Allah mengenal hal terburuk tentangmu, namun Dia adalah Pribadi yang paling memikirkan kebaikanmu. Kasih-Nya tidak didasarkan pada siapa dirimu, melainkan pada siapa Diri-Nya. Dia tahu realitas dirimu yang sebenarnya, namun Dia memilih untuk tetap menetapkan kasih-Nya atasmu, dan tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat membuat-Nya berubah pikiran.'

Kasih yang Keras dan Membentuk (Ibrani 12:7-11)

Jika Daud memperlihatkan Allah sebagai Bapa dengan kasih yang lembut (Racham), maka penulis Ibrani menyingkapkan sisi lain kasih-Nya yaitu kasih yang keras dan membentuk. Allah tidak pernah menyerah untuk menegaskan komitmen-Nya bukan dengan memanjakan, melainkan dengan berani membentuk hidup kita. Sebagaimana seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya pasti ia akan mendidiknya dengan keras dan disiplin untuk membentuk anaknya makin dewasa. Seperti yang dikatakan “Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak laki-laki.” Kata “ganjaran” (paideia) disini berarti mendidik, mendisiplinkan, bukan hukuman yang menjatuhkan dan menghancurkan. Dalam dunia Yunani kuno, paideia adalah seluruh sistem pendidikan, pelatihan fisik, mental, dan moral untuk membentuk seorang anak (pais) menjadi warga negara yang dewasa, tangguh, dan berguna. Jadi, fokus utama paideia bersifat formative (membentuk karakter). Dengan demikian, mendidik dengan keras disini bukan cambuk yang menghukum, tetapi sebuah pahat untuk membentuk hidup makin dewasa. Itulah sebabnya, seringkali Tuhan menggunakan penderitaan untuk mendidik kita. Bukan karena ia benci kepada kita dan sedang menghukum kita karena dosa-dosa kita. Tetapi karena Ia mengasihi kita untuk membentuk kita menjadi lebih dewasa rohani. Sebab Ia adalah Bapa yang mengasihi kita, bukan hakim yang memvonis kita. Meski prosesnya menyakitkan dan mendatangkan dukacita (ay. 11). Namun hasilnya adalah “buah kebenaran yang mendatangkan damai.” Allah tidak pernah salah dalam mendidik kita. Semua itu demi kebaikan kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, makin terpisah dari dosa, dan hidup dalam karakter Kristus. Jadi yang paling mengerikan bukan beratnya didikan Allah yang harus kita tanggung, justru ketika kehidupan berjalan mulus dan nyaman tanpa adanya koreksi.

Aplikasi Kehidupan

Pendalaman

Kasih seperti apa yang Allah tunjukkan sebagai kasih seorang Bapa kepada anak-anak-Nya sebagamana yang dijelaskan dalam dua teks di atas?

Penerapan

Tindakan konkrit seperti apa yang Anda dapat lakukan (khususnya sebagai seorang ayah) untuk menyatakan kasih yang tidak pernah menyerah untuk memberi perhatian dan membentuk?

Saling Mendoakan

Akhirilah Care Group Anda dengan Saling mendoakan satu dengan yang lain. (DA)