The Courage to Stand Up: Fighting Cynicism with Faith (Berani Membela: Melawan Sinisme Dengan Iman).
Yeremia 29:4-7; Amsal 21:1; 1 Timotius 2:1-2
EKSPRESI PRIBADI
Ketika kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, kita bersyukur atas anugerah Tuhan bagi bangsa ini. Namun kita juga menyadari bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan: korupsi, ketidakadilan, kemiskinan, perpecahan sosial, krisis moral dan ketidakpastian ekonomi. Di tengah kondisi seperti ini, mudah sekali muncul sikap sinis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinisme adalah pandangan atau pernyataan sikap yang mengejek atau memandang rendah, serta gagasan yang tidak melihat suatu kebaikan apa pun di negara ini. Misalnya: "Indonesia tidak akan berubah, semua pemimpin sama saja, bahkan keluar tagar kabur saja" Sinisme tampak seperti kebijaksanaan, tetapi sebenarnya adalah kehilangan harapan. Sinisme membuat orang berhenti berdoa, berhenti peduli dan berhenti berjuang. Sebaliknya, iman membuat kita tetap percaya bahwa Allah sedang bekerja sekalipun keadaan belum berubah.
EKSPLORASI FIRMAN
Bangsa Yehuda dalam Yeremia 29 mengalami situasi yang lebih buruk dari kita. Mereka berada dalam situasi pembuangan ke Babel setelah Raja Nebukadnezar mengangkut Raja Yoyakhin, para pemimpin, pengrajin dan banyak penduduk Yerusalem pada tahun 597 SM. Mereka kehilangan tanah air, pemerintahan dan masa depan. Namun justru dalam keadaan itu Tuhan mengajarkan bagaimana hidup dengan iman dan bukan dengan sinisme. Orang percaya dipanggil untuk melawan sinisme. Bagaimana caranya?
- Berani membela bangsa dengan membangun, bukan mengeluh (Yeremia 29:4-7).
Yeremia menulis surat kepada orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel, "Dirikanlah rumah-rumah dan diamilah itu; buatlah kebun-kebun dan nikmatilah hasilnya... Usahakanlah kesejahteraan kota..." (Yer. 29:4-7). Mereka hidup sebagai bangsa yang kalah dan kehilangan kemerdekaan politik dan identitas nasional. Secara manusia mereka memiliki alasan kuat untuk marah dan putus asa. Namun Tuhan tidak berkata: "Keluhkan keadaanmu." Tuhan berkata, "Bangunlah rumah… tanamlah kebun… carilah kesejahteraan kota." Kata “kesejahteraan” adalah shalom (שָׁלוֹם) berarti damai, kesejahteraan, keutuhan, dan kemakmuran bersama. Umat Tuhan dipanggil menguasakan damai sejahtera dan menjadi berkat bagi kota Babel yang telah menawan mereka. Jadi, Iman tidak membuat kita lari dari realitas. Iman membuat kita menjadi alat pemulihan di tengah realitas. Sinisme bertanya: "Apa yang salah dengan bangsa ini?" Iman bertanya: "Apa yang bisa saya lakukan bagi bangsa ini?" Membela Indonesia bukan hanya tugas pemerintah. Guru membangun bangsa melalui pendidikan. Orang tua membangun bangsa melalui keluarga. Pebisnis membangun bangsa melalui kejujuran. Pelajar membangun bangsa melalui disiplin. Gereja membangun bangsa melalui pelayanan. Kemerdekaan yang sejati harus diisi dengan karya nyata yang membawa shalom bagi masyarakat.
- Berani membela bangsa dengan percaya kepada kedaulatan Allah (Amsal 21:1).
Salomo menegaskan, "Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini." (Ams. 21:1). Kata Ibrani lev (לֵב) berarti hati, pusat pikiran, kehendak, dan keputusan seseorang. Penulis Amsal sedang mengajarkan bahwa bahkan penguasa terbesar sekalipun berada didalam kendali Tuhan. Ini bukan berarti setiap keputusan pemimpin pasti benar. Namun ayat ini menegaskan bahwa tidak ada pemimpin yang lebih besar daripada Allah. Iman kepada kedaulatan Allah memberikan harapan ketika kita kecewa terhadap manusia. Orang sinis berkata: "Masa depan bangsa bergantung pada siapa yang berkuasa." Namun orang beriman berkata: "Allah tetap berkuasa atas sejarah." Kerajaan-kerajaan dunia datang dan pergi. Para pemimpin bangsa silih berganti. Namun Allah tetap berdaulat, memegang kendali dan setia menggenapi rencana-Nya bahkan di tengah masa penderitaan dan ketidakpastian. Karena itu, sebagai orang Kristen kita boleh berbeda pandangan politik. Namun kita tidak boleh kehilangan pengharapan. Harapan kita bukan pada partai politik, bukan pada tokoh politik tertentu, tetapi pada Allah yang memerintah segala sesuatu.
3. Berani membela bangsa dengan berdoa, bukan hanya berkomentar (1 Timotius 2:1-2).
Rasul Paulus berkata, "Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar..." (1Tim. 2:1-2). Paulus menulis surat ini ketika Kaisar Nero memerintah Romawi. Nero bukan pemimpin yang ideal, ia menjadi penganiaya orang Kristen. Namun Paulus tidak berkata: "Kutuklah pemerintah Romawi." Sebaliknya ia berkata: "Berdoalah." Artinya, gereja dipanggil untuk menopang bangsa melalui doa yang sungguh-sungguh. Doa adalah tindakan iman tertinggi. Ketika kita berdoa, kita mengakui bahwa Allah masih bekerja. Sinisme menghasilkan keluhan. Iman menghasilkan doa.
Tuhan Yesus memberi kita teladan sejati ketika hidup di tengah pemerintahan Romawi yang korup dan penuh penindasan. Ia melihat kemunafikan para pemimpin agama dan melihat ketidakadilan. Namun Ia tidak menjadi sinis. Ia tetap mengasihi dan tetap melayani. Ia tetap memberitakan Kerajaan Allah. Bahkan di atas salib Ia berdoa: "Ya Bapa, ampunilah mereka." Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Allah sanggup membawa kemenangan dari keadaan yang tampaknya paling gelap. Karena itu, orang percaya tidak boleh menyerah kepada sinisme. Marilah kita berdoa bagi Presiden dan wakil Presiden, bagi para pemimpin nasional dan daerah. Berdoa bagi TNI dan Polri, guru dan tenaga medis, bagi dunia pendidikan, dunia usaha dan gereja-gereja di Indonesia. Bangsa yang didoakan adalah bangsa yang sedang dibawa ke hadapan takhta Allah.
Dalam peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa mencintai bangsa berarti melawan sinisme dengan iman. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang percaya yang membangun, percaya dan berdoa. Ketika dunia memilih sinisme, marilah kita memilih iman dalam Kristus. Ketika banyak orang kehilangan harapan, marilah kita menjadi pembawa pengharapan. Ketika bangsa ini menghadapi berbagai tantangan, marilah kita berdiri teguh sebagai umat Allah yang berkata, "Kami percaya Tuhan masih bekerja bagi Indonesia, dan kami mau dipakai-Nya untuk menjadi berkat bagi bangsa ini." Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
APLIKASI KEHIDUPAN
PENDALAMAN:
Di tengah situasi bangsa yang sering memunculkan rasa kecewa dan sinisme, bagaimana Yeremia 29:4–7, Amsal 21:1, dan 1 Timotius 2:1–2 mengubah cara pandang Anda sebagai orang percaya terhadap bangsa, para pemimpin, dan tanggung jawab Anda sebagai warga Kerajaan Allah sekaligus warga negara Indonesia?
PENERAPAN:
Minggu ini, langkah nyata apa yang akan Anda lakukan untuk melawan sikap sinis dan menjadi pembawa damai serta pengharapan bagi Indonesia melalui pekerjaan, keluarga, pelayanan, atau doa bagi para pemimpin bangsa?
SALING MENDOAKAN
Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [SL]
