Bagikan artikel ini :

The Courage to Believe: Standing Firm in a Fragile World (Berani Percaya: Teguh Beriman di Dunia yang Rapuh)

Habakuk 3:17-19

 

EKSPRESI PRIBADI

Ketidakpastian sudah menjadi tema yang beredar di sekitar hidup kita pada masa kini. Jamais Cascio, seorang antropolog Amerika, sampai membuat sebuah framework melihat dunia masa kini dengan model BANI (Brittle, Anxious, Non-Linear, Incomprehensible). Dunia saat ini sangat rapuh (Brittle) hanya dengan satu selat ditutup maka pasokan energi dunia terganggu. Kondisi juga membuat kita merasa tidak bisa tenang (Anxious) karena efek hal-hal yang ada tidak selalu sama (Non-Linear) dan tidak dapat dimengerti (Incomprehensible). Melihat situasi dunia yang seperti ini, perasaan dan sikap seperti apa yang seringkali muncul di dalam hidup Anda? Diskusikan dengan anggota CG

 

EKSPLORASI FIRMAN

Nabi Habakuk melihat ada situasi yang sangat tidak menentu dan menakutkan. Kitab ini diawali dengan protes keras Habakuk kepada Tuhan karena melihat ketidakadilan, namun jawaban Tuhan justru membuat Habakuk semakin gentar: Tuhan akan memakai bangsa Babel yang kejam untuk menghukum Yehuda. Situasinya bukan membaik, malah akan menjadi jauh lebih buruk. Sebuah krisis nasional (perang dan kelaparan) sudah di depan mata. Di dalam perjalanan pergumulan imannya, ada respon yang berbeda menghadapi situasi sulit ini. 

  1. Bersandar pada kedaulatan Tuhan, bukan pada keadaan

Ada perubahan yang berbeda sekali dari Habakuk dari pasal awal dengan di bagian akhir. Dia berkata “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah... kambing domba terhalau dari kurungan dan tidak ada lembu sapi dalam kandang” (Hab. 3:17). Habakuk menyadari ada kemungkinan situasi yang sangat buruknya, hasil panen gagal, ternak habis, kehancuran yang membawa pada kesulitan hidup. Tetapi dia memulainya dengan berkata ‘sekalipun’, lalu disambung dengan sikap yang dipilihnya “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab. 3:18). Ini bukan hanya tentang bagaimana menghadapi keadaan sulit, tetapi percaya Tuhan yang berdaulat atas semua keputusan-Nya, dalam penghakiman dan keadilan-Nya yang tidak pernah salah. Maka di dalam Tuhan, Habakuk berkata dia tetap akan bersorak-sorak dan beria-ria, bukan karena keadaan buruk, tetapi ada kehadiran Tuhan yang tetap berbelas kasihan kepada umat-Nya. 

Ini bukan tentang memprediksi situasi terburuk yang akan terjadi di hidup kita, tetapi sekalipun ada satu masa situasi begitu sulit dan burukya, kita bisa menghadapinya di dalam Tuhan, tetap bisa bersukacita di dalam-Nya.

  1. Percaya pada kekuatan Tuhan, bukan pada kekuatan diri

Jika kita ada di dalam situasi sulit biasanya kita akan meminta untuk bisa segera selesai masalahnya, tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi jika hanya berfokus pada hal tersebut, seringkali kita akan kecewa, karena kita tidak tahu kapan situasi sulit itu akan mereda. Ada yang berbeda dari sikap Habakuk, dia berkata “Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (Hab. 3:19). Kaki rusa diciptakan khusus untuk bisa mendaki tebing yang terjal, tajam, dan berbahaya tanpa tergelincir. Itulah yang diimani oleh Habakuk bahwa Tuhan adalah kekuatannya, yang menguatkan langkah-langkahnya dan menjaganya melewati jalan-jalan yang terjal, bahwa dia pasti akan dapat menghadapi situasi itu dengan kekuatan Tuhan.

Ini juga yang perlu kita sadari, seringkali kita menjadi takut dan gentar karena membandingkan kekuatan kita dengan segala kesulitan yang datang. Kita perlu selalu kembali percaya pada kekuatan Tuhan yang senantiasa mampu menopang kita, membuat kita tetap berjalan menghadapi situasi yang sulit. Jadi bukan hanya meminta kepada Tuhan untuk selesainya masalah, tetapi meminta kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi situasi-situasi sulit.

 

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Mengapa Tuhan itu yang harus menjadi sumber kekuatan satu-satunya di dalam menghadapi situasi yang sulit?

Penerapan

Respon seperti apa yang seringkali muncul ketika Anda menghadapi situasi sulit? Khawatir, cemas atau percaya kepada Tuhan? Mengapa?

 

SALING MENDOAKAN

Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain. [RR]